Love Me Please, Uncle Sam

Love Me Please, Uncle Sam
Kesempatan kedua



"Lalu Sam harus bagaimana?" tanya Sam dengan kepala menunduk. Dia tak memiliki muka untuk menatap wajah mertuanya.


"Kembalikan Zea. Ceraikan dia dan kau bebas menjalani hidupmu! Pergilah sejauh mungkin agar kami tidak perlu melihatmu lagi!"


Deg...


Ucapan Indhi bagaikan tamparan keras untuk Sam. Berpisah dengan Zea memang keinginannya, namun dia ingin berpisah secara baik-baik. Setelah berpisah dia ingin tetap berhubungan baik dengan Indhi. Tak bisa Sam pungkiri, hanya Indhi yang dia miliki. Meski Indhi bukan saudara kandungnya, namun Sam benar-benar menganggap Indhi sebagai keluarganya. Apalagi saat kedua orang tuanya meningal, hanyal Indhi yang Sam miliki. Dan kini wanita itu menyuruhnya pergi.


"Kak..." panggi Sam dengan mata berkaca-kaca.


"Aku bukan kakakmu lagi Sam. Pergi dari sini sekarang dan ceraikan Zea secepatnya! Aku tidak rela melihat putriku menderita!" Indhi beranjak dari duduknya, dia berniat pergi, namun ada hal lain yang perlu dia katakan. "Zea bahkan terluka karena berusaha menjadi istri yang baik untukmu!" imbuhnya dengan suara yang lebih pelan, saat dia berbalik dia begitu terkejut karena melihat putrinya berdiri di belakangnya dengan mata berkaca-kaca.


"Ze," pekiknya dengan suara tertahan. Sam yang sejak tadi menunduk pun akhirnya mengangkat kepalanya dan dia melihat Zea berdiri dengan begitu rapuh,wajahnya pucat pasi dan matanya memerah dengan linangan air mata.


"Ma, tolong jangan pisahkan Zea dan uncle," pintanya dengan suara yang sangat pelan seolah gadis itu tak memiliki tenaga.


"Ze dengar mama nak. Mama tau kamu mencintai Sam, tapi kamu juga tidak boleh bodoh dalam mencintai. Kamu tidak boleh terjebak dalam hubungan yang menyakitkan ini karena hanya kamu yang mencinta sementara Sam tidak!" dengan tegas Indhi menolak keinginan putrinya. Dia tidak bisa menerima sebuah pengkhianatan, pernikahan adalah hal suci yang tidak boleh di nodai. Apalagi, Indhi memiliki kenangan burung tentang perselingkuhan, dahulu sang ayah menikah secara diam-diam dengan asistennya dan wanita simpanan itu benar-benar menghancurkan hidup Indhi.


"Tolong ma, uncle adalah hidup Ze. Bagaimana Ze bisa hidup jika uncle pergi?" air mata kini membasahi wajah pucat Zea, dia begitu takut kehilagan suaminya.


"Tapi dia tidak menginginkanmu nak!"


"Ma, uncle hanya belum menyadari perasaannya. Uncle hanya sedang bingung karena tiba-tiba menikah dengan Zea!"


Indhi membuang nafasnya dengan kasar. Dan inilah yang tidak Indhi sukai dari putrinya. Dia begitu keras kepala, segala sesuatu yang dia inginkan harus menjadi miliknya dan sesuatu yang sudah menjadi miliknya tidak boleh di miliki oleh orang lain.


"Pikirkan dirimu Ze, pernikahan ini hanya membuatmu terluka!"


"Tidak ma, Zea baik-baik saja selama uncle bersama Zea," Zea bersikeras untuk tidak berpisah dengan Sama, gadis itu benar-benar bodoh. Zea menatap Sam saat Indhi lengah, gadis itu menggerakan ponselnya seolah memberi tanda kepada Sam agar pria itu bicara. Tidak, nyatanya itu adalah sebuah ancaman. Zea menyalakan ponselnya, foto saat Sam memeluk Felisya terlihat jelas oleh mata Sam, pria itu lalu teringat dengan perjanjiannya bersama Zea.


Sam meneguk ludahnya berkali-kali, mungkin ini kesempatan untuk lepas dari Zea, namun dia juga tidak ingin terjadi sesuatu dengan Felisya, dia harus melindungi nama baik wanita yang di cintainya. Ya, hanya sepuluh bulan dari sekarang, dia hanya perlu bertahan selama itu lalu lepas dari Zea dan hidup bahagia bersama Felisya.


"Tolong beri Sam kesempatan ma," ucap Sam tiba-tiba, Indhi kembali berbalik dan menatap Sam dengan ragu.


"Kesempatan? Tidak Sam, tidak ada kesempatan kedua untuk pengkhianat!" tolak Indhi dengan lantang.


Zea berjalan menghampiri suaminya dengan tertatih, anemia akutnya kembali kambuh sehingga tubuhnya seolah tak memiliki tenaga. "Zea mohon ma," pinta Zea dengan wajah mengiba.


"Kau dengar Sam, gadis bodoh itu sangat mencintaimu!"


"Sam akan memperbaiki semuanya ma, tolong beri Sam kesempatan."


Indhi benar-benar tidak tau harus bersikap, di sisi lain dia tidak ingin putrinya sedih karena berpisah dengan suaminya, namun jika mereka tetap bersama belum tentu Zea bahagia. Benarkah Sam akan berubah? bisakah Sam menerima Zea? Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepala Indhi.


"Ma, Zea mohon. Beri kesempatan uncle sekali lagi. Uncle sudah berjanji akan memperbaiki semuanya. Benar kan uncle?" Zea menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.


"Iya ma, Sam berjanji akan memperbaiki semuanya."


Indhi merasa frustrasi, dia berkali-kali menghela nafas berat. "Hanya satu kesempatan. Ingat Sam, hanya sekali ini. Tidak ada kesempatan kedua. Jika aku melihatmu bersama wanita itu lagi, bukan hanya kamu yang hancur, aku juga tidak akan segan menghancurkan wanita itu!" Indhi lalu pergi setelah mengucapkan kalimat ancamannya. Dia merasa menjadi ibu yang buruk dan membiarkan putrinya terjebak dalam pernikahan tanpa cinta.


Setelah Indhi pergi, Zea ambruk di sofa, lututnya terasa sangat lemah dan tidak sanggup menopang berat tubuhnya.


"Ze, kau baik-baik saja?" tanya Sam, pria itu khawatir karena sejak tadi wajah Zea sangat pucat.


"Untuk?"


"Karena mau bertahan."


"Aku melakukannya demi Feli," ucapnya menohok hati Zea, sungguh pria yang bodoh. Tapi mereka sepertinya memang cocok, sama-sama bodoh dalam hal mencintai.


"Tidak masalah, asal uncle tetap bersama Zea," sahut Zea dengan senyum penuh paksaan.


"Kenapa kau tidak melepaskan ku saja dan hidup bahagia. Kau masih muda, banyak pria yang mau bersamamu pastinya?"


"Kenapa uncle tidak melepaskan bu Feli dan mencintai Zea. Jelas-jelas Zea lebih cantik dan lebih muda?"


"Karena aku mencintainya," jawab Sam dengan tegas.


"Jawaban yang sama uncel. Karena Zea mencintai uncle. Setidaknya bertahanlah selama sepuluh bulan kedepan, perlakukan Zea dengan baik maka Zea akan melepaskan uncle tanpa harus menyakiti hu Felisya!"


"Kadang aku merasa kau dua orang yang berbeda Ze, aku tidak mengenali dirimu lagi."


"Uncle pun demikian, uncle menjadi orang yang berbeda sejak kita menikah. bukankah kita impas?"


Zea selalu bisa menjawab pertanyaan Sam dan pria itu tak bisa mengelak. Jika di pikir, dia memang sangat kejam karena melukai hati Zea. Namun lagi-lagi, cintanya kepada Felisya membuatnya tak bisa berpikir jernih.


"Tolong gendong Zea ke kamar uncle, Zea tidak kuat jalan," pinta Zea setelah keduanya diam.


Kali ini Sam tidak bisa menolak, sepertinya Zea memang tidak baik-baik saja. Sam lalu menggendong tubuh Zea ala bridal style. Zea mengalungkan tangannya di leher Sam, untuk yang pertama kalinya akhirnya dia bisa sedekat itu dengan suaminya. Zea menyembunyikan wajahnya di dada sang suami, dia menghirup aroma tubuh Sam sebanyak-banyaknya dan menyimpannya di kepala. Dia akan mengingat aroma maskulin itu.


"Apa Zea tidak cantik?" tanya Zea tiba-tiba.


"Kau sangat cantik," jawab Sam apa adanya.


"Tapi kenapa uncle sama sekali tidak tertarik dengan kecantikan Zea?"


"Karena uncle memandangmu sebagai seorang keponakan. Tidak lebih."


Hati Zea menghangat saat Sam menyebut dirinya sebagai uncle. lama sekali Zea tak mendengar kalimat itu, setelah menikah Sam tidak pernah menyebut dirinya sebagai uncle dan menganggap Zea seperti orang asing.


"Zea sangat senang."


"Kenapa?"


"Senang saja."


"Kau memang aneh!"


"Uncle lebih aneh!"


"Kita sama-sama aneh!"


BERSAMBUNG...