
“tiga… dua…. Satu!” hitung mundur Budi
TRINGGG TRINGGG TRINGGG
Suara pertanda mengisi perut dengan aneka makanan enak yang tersedia dikantin telah
berbuyi. Bukan hanya untuk mengisi kembali tenaga yang terkuras sehabis jam pelajaran,
melainkan juga untuk menghilangkan stress dari jam pelajaran pagi. Dari keseluruhan waktu yang dihabiskan oleh siswa di sekolah ini, mungkin jam istirahatlah yang paling ditunggu.
“Van, kekantin yuk” ajak Aldi
“enggak deh…kamu aja kesana. Aku mau tidur aja” jawab ku malas
“ayolah…aku dah lama banget gak ke kantin, dah kangen banget aku sama jajanan disana” rengek Aldi
“ayolah….ayolah…ayolah…” paksa Aldi
“arghh… okay okay” pasrahku
“kalian ikut kekantin enggak?” tanya Aldi kepada Eri dan Anita
“iya kami ikut” jawab Anita
“yahoo!” teriak Eri senang
Kami berempat berjalan bersama menuju kantin yang letaknya berada di belakang sekolah. Aku merasa begitu gugup dan takut melewati kerumunan ini. Sepanjang jalan aku hanya melihat langkah kaki ku, tak sanggup untuk menatap mata orang-orang yang melihat kami berjalan didepan
mereka.
Aku sudah lama sekali tidak pergi kekantin. Dari pada kenangan menyenangkan, aku malah mengingat masa-masa kelam ku semasa SMP jika melihat kantin. Aku sudah muak dengan diriku dimasa lalu yang begitu pengecut dan tak berdaya.
***
3 tahun lalu di SMP X
“woi! Kami lagi gak bawa uang nih~” kata Rendy
“kita kan teman~ bisakan kami meminjam uang mu? Nanti kami kembalikan kok~” kata
“hehehehe” tawa merendahkan dua orang yang bersama Rendy, Rama dan Pandi
“I iya….boleh” jawab ku ketakutan
Aku tidak bisa menang jika melawan mereka bertiga. Badan mereka lebih besar dan lebih
kuat dibandingkan dengan ku. lagian dari awal aku sudah tidak memiliki harapan, Mereka bertiga sedangkan aku hanya sendirian. Hari-hari ku hanya di penuhi dengan penderitaan.
Setiap hari harus melayani mereka bertiga, membelikan mereka makanan dikantin menggunakan uang ku, selalu meminjam uang ku dan selalu menindasku.
“jika kamu berani-benari lapor dengan guru akan kucari kau hingga kemanapun!”
ancamnya sambil menarik kerah baju ku
Dia mendorong ku begitu keras setelah mengancamku hingga aku terjatuh.
Orang-orang yang ada di kelas ku hanya melihat ku tanpa berkata apa-apa. Tatapan merendahkan yang mereka tujukan kepada ku membuat ku berpikir bahwa sekolah ini adalah neraka. Tidak ada yang bisa ku
mintai tolong, tidak ada seorang pun juga yang peduli dengan orang yang menyedihkan macam diriku ini.
Semua orang hanya memikirkan diri masing-masing dan takut terlibat dalam masalah. jam sekolah telah usai, waktu yang paling kutunggu-tunggu demi apapun. Aku bergegas untuk menuju pintu keluar kelas, mengenggam erat tas ku dan berjalan dengan ketakutan. Aku sangat takut apabila bertemu dengan rendy dan teman-temannya dijalan pulang.
Sesampainya di gerbang sekolah aku bertemu dengan Eri, dia begitu cemas melihat ku yang tampak seperti lari dari sesuatu. mukanya terlihat memiliki begitu banyak pertayaan. Tapi aku malu ingin mengatakan masalah ku yang sebenarnya. karena kami beda kelas, mungkin dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ku kecuali bertanya langsung padaku.
“kenapa murung Van? semenjak kita masuk SMP kamu murung terus. Kalau ada masalah kamu boleh cerita sama aku” kata Eri peduli
“enggak….enggak kenapa-napa kok” jawab ku sedikit tegar
“tapi muka mu….” Sambung Eri
“SUDAH KUBILANG GAK PAPA KAN!” teriak ku
“…” Eri terkejut dengan perkataan ku
Semua orang melihat kami berdua di parkiran sepeda itu. aku begitu menyesal telah berteriak padanya. Aku berlari kearah sepedaku dan mengayuh sepedaku begitu kenca dan pergi meninggalkan Eri berdiri melihatku begitu saja.