
Aku berjalan di tengah lorong yang sepi, melangkahkan kaki ku pelan menuju tempat parkir. Saat ku pikir aku benar-benar sendirian di lorong yang hening itu, tiba-tiba Eri merangkul ku dari belakang.
“Mau kemana Van!” tanya Eri bersemangat
“Eh! Aku mau ke toko buat beli beberapa bahan buat madding kelas kami” jawab ku
“Wah! Kebetulan banget nih. Aku juga mau kesana. Kita barengan aja yuk” ajak Eri
“Ya…boleh aja” jawab ku
Kami berdua berangkat menuju toko yang menjual beberapa bahan yang kami butuhkan. Setelah mendapatkan bahan-bahan yang kami cari, kami memtuskan untuk kembali ke sekolah secepat mungkin agar tidak membuat mereka lama menunggu kami. Saat aku hendak naik motor ku, Eri tiba-tiba menarik bajuku dari belakang.
“Kenapa Eri?” tanya ku
“Anu… bisa kita beli eskrim sebentar? Aku lagi pengen nih hehehe” pinta Eri
“Gitu ya… umm….mungkin gapapa kali ya…okelah. Sebentar aja ya” jawab ku
“Yeay!” Eri senang
Kami mampir untuk membeli eskrim lalu kami pergi ke sebuah taman yang letaknya tak jauh dari toko eskrim itu untuk memakan eskrim kami. Meskipun Eri mengatakan kalau dia sangat ingin makan eskrim tapi pada kenyataannya dia hanya duduk disamping ku sambil memegangi eskrimnya. Dia tidak memakan eskrim itu, eskrim itu mulai mencair dan Eri hanya menundukan kepalnya.
“Anu… Eri? Kamu gak makan eskrim mu?” tanya ku gugup
“Ku mohon… Evan. Aku mohon… kamu jangan terlibat lagi dengan Anita” pinta Eri. Seketika aku terkejut mendengar permintaan Eri yang tiba-tiba itu, Suara Eri terdengar begitu sedih
“Aku… aku tidak ingin melihat mu terluka lagi gara-gara terlibat dengan cewek itu. Sudah cukup melihat mu sekali terbaring di atas ranjang rumah sakit itu… jika kamu terus berusaha seperti ini… aku takut aku akan kehilangan mu untuk selamanya…” ungkap Eri
“Maaf… aku gak bisa” jawab ku datar. Seketika Eri mengangkat wajahnya dan melihat ke arah ku
“K-kenapa…? Kenapa…!” tanya Eri histeris
“Aku gak bisa berhenti terlibat dengannya. Disaat dia sedang menderita seperti ini…rasanya aku ingin sekali melindunginya, bukan sebagai teman tapi sebagai diri ku sendiri” jawab ku. seketika Eri terkejut dengan jawaban ku dan matanya mulai berkaca-kaca
“A-apa maksudnya itu?” tanya Eri gugup
“Aku ingin jujur pada diriku sendiri bahwa selama ini aku telah memiliki perasaan ini. selama ini aku telah melalui berbagai hal bersamanya, mustahil bagi ku untuk tidak memiliki perasaan ini setelah semua itu” ungkap ku
“Maaf Eri… aku tidak bisa mengabulkan permintaan mu” kata ku. aku menatap matanya yang berkaca-kaca dengan sangat dalam
“Kalau itu memang keinginan Evan, apa boleh buat hehehe…” kata Eri kecewa
“Tapi… kalau hal itu tidak kamu katakan, dia mana mungkin mengerti” kata Eri
“Aku tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya karena dia adalah cinta pertama ku. meskipun aku mengatakannya… tapi, aku merasa tidak pantas berjalan disampingnya. Aku takut tidak bisa menjadi orang yang cukup baik untuknya…” kata ku
“Aku yakin! Dia memiliki perasaan yang sama dengan dirimu… maka dari itu ungkapkan semua perasaan yang selama ini kamu rasakan padanya” kata Eri. Aku sangat senang saat Eri
mengatakan itu. Dia memberikan aku kekuatan lebih untuk melangkah maju
“Jadi… kamu harus mengatakannya… ya…” pinta Eri. wajahnya terlihat sangat sedih
“Ya… aku akan mengatakannya” jawab ku