
Hari-hari penuh penderitaan Anita pun dimulai. Eri sangat menikmati setiap momen saat Anita dibully oleh pion-pionnya. Eri tak pernah berhenti tertawa didalam hatinya, perasaan puas dan bahagia ini baru kali ini dirasakan oleh Eri hingga membuatnya ketagihan.
Namun dia harus tetap menjaga citranya di depan Evan, dia tidak mau sampai sisi lain dari dirinya ketahuan oleh Evan. Eri terus bersanjiwara dengan berpura-pura kasihan pada Anita dan selalu mendukung Evan yang ingin menolong Anita. Eri cukup terampil dalam hal ini.
Meskipun dia sangat jijik setiap kali dia sok baik pada Anita, tapi sebenarnya dia tidak membenci pemainan ini. baginya melihat Anita tertindas sudah seperti menonton film drama yang memuakan. Sampai pada suatu hari, Eri terbesit ide menyenangkan lainnya. Eri sengaja tidak membawa baju olahraganya dan berpura-pura sakit perut didepan Evan.
Sebenarnya Eri merasa bersalah karena selalu membohongi Evan, tapi dia harus melakukan ini untuk membuat Anita tetap merasakan neraka. Di dalam kelas, Eri mengeluarkan spidol dari dalam tas-nya. Dia mencoret-coret seragam putih Anita dengan tulisan kotor, Eri sangat girang dan menikmati hal ini.
“Okay~ mari kita berkreatifitas~” kata Eri girang
“Nah… Eri. Disinilah kreatifitas mu sedang di uji hahahaha” Eri tertawa
“Bagusnya apa ya yang aku tulis disini…?” Eri sedikit bingung
Setelah selesai dengan mencoret seragam Anita, Eri bergegas membuang spidol itu di luar kelas melalui jendela dan meneteskan obat mata ke matanya. Waktu yang pas, Evan masuk disaat Eri telah selesai mempersiapkan sanjiwaranya. Eri menangis dihadapan Evan dan menujukan seragam itu padanya.
Eri tak tahan melihat wajah Anita yang sedih dan lari keluar dari kelas. Satu lagi kepuasan yang tak dapat dibayangkan telah dia rasakan. Pikiran Eri telah teracuni oleh balas dendam dan kebencian tak terhingga.
Beberapa hari kemudian
Eri mengikuti Anita dan Evan yang pergi jalan berduan di mall. Perasaan benci dan amarah memenuhi hati kecil Eri. Kali ini dia tidak akan membiarkan Anita lolos. Eri memanfaatkan kerenggangan hubungan antara Anita dengan Aldi.
Eri sengaja mengirim foto selfy Anita dan Evan yang sedang makan eskrim agar menambah bara api didalam hati Aldi. Seperti menuangkan minyak dalam kobaran api, Eri berhasil membuat Aldi murka. Meskipun begitu, Eri merasa bersalah karena telah melibatkan Evan.
“Maaf Evan sayang… aku gak bermaksud membuat mu terluka kok~ tapi aku harus melakukannya agar kamu gak deket-deket lagi sama cewek sialan itu. Kyaaa!” Eri berbica dengan gulingnya yang ditempeli dengan gambar Evan. Eri yang girang pun mencium foto Evan berkali-kali seperti orang gila.
Rencana Eri pun dimulai, Eri sudah tahu lokasi Anita dan Evan akan bertemu. Eri memerintahkan Aldi untuk kesana duluan untuk memastikan kalau dirinya itu mengatakan kebenaran atau hanya menipunya.
Setelah menerima telpon dari Eri, Aldi yang kesal langsung tancap gass untuk menabrak Anita. Namun malangnya, rencana Eri keluar dari jalurnya, Dia tidak mengira kalau Evan akan sempat menolong Anita pada waktu itu. Eri pun sangat menyesal dengan tindakannya. Setelah mengetahui kondisi Evan, Eri pun langsung bergegas menuju rumah sakit untuk melihat Evan.
Meskipun dia merasa menyesal, pada akhirnya Eri dapat melihat sisi positif dari hal ini. dia memanfaatkan kondisi Evan yang tak sadarkan diri untuk memuaskan nafsunya. Eri terkadang sesekali mengelus-elus kapala Evan, mengusap-usap pipi Evan, dan bahkan dia pernah mencium Evan yang masih koma itu. Dia merasa Evan benar-benar menjadi miliknya seutuhnya.
“Evan… jangan khawatir sayang~ aku ada disini kok~ “ Eri menyandarkan kepala Evan di atas dadanya dan mengusap-usap pelan kepala Evan