
Ke esokan harinya
“woi! Kenapa kamu lama sekali hah!” teriak Rendy
“mana makanan pesanan ku?” tanya Rendy marah
“ma maaf…tadi aku habis ngantri tapi rupanya udah habis” jawab ku gugup terbata-bata
“helehhhh ngomong aja kau gak mau belikan kan!” kata Rama marah
“e enggak...” jawab ku takut
Tanpa basa basi satu pukulan keras mendarat di pipi kanan ku. Badan ku diinjak-ijak,
dipukuli dan ditendanng. Aku hanya bisa meringkuk menahan sakit di lantai yang dingin itu, semua orang hanya melihatku disiksa tanpa berkata sepakata-katapun. Aku sedikit membuka kedua mata ku, betapa terkejutnya aku, mereka semua melihat ku dengan pandangan jijik dan merendahkan.
“mereka semua sama saja, melihat ku seperti sampah! Dasar orang-orang…uhuk!” batin
ku, namun pikiranku kacau karena tendangan keras mengarah ke perutku
“hah…hah… sepertinya cukup untuk hari ini, kalau besok kau tetep bikin kesalahan yang
sama, ku buat mampus kau!” ancam Rendy dengan nafas terenggah-enggah
TRINGGG TRINGGG TRINGGG
Suara bel pertanda jam pelajaran akan dimulai lagi
Semua siswa kembali ketempat duduk masing-masing dan rendy bersama dengan teman-temannya pergi meninggalkan kelas ku. Aku mencoba bangkit dari lantai yang kotor itu, badan ku gemetaran dan sekujur tubuh ku dipenuhi memar. Aku kembali ke bangku ku, hanya menunuduk dan melangkah perlahan sembari menahan sakit.
Aku bahkan sudah tidak punya kekuatan untuk memandang orang lain. tak berselang lama Guru pun tiba, tentu saja dia heran saat pertama kali melihat penampilan ku. Dengan mata melotot dan kesal, dia bertanya pada ku.
“Evan, kenapa baju mu kotor begitu?” tanya guru itu kesal
“…” aku bingung harus menjawab apa
“kenapa diam?” tanya lagi guru itu
“… saya tadi habis tidur di lantai pak…, makanya baju saya kotor” jawab ku pelan
“kalau mau tidur dirumah aja! sekolah bukan tempatnya tidur. Sekolah tempatnya orang
cari ilmu” kata guru itu tegas
“lain kali, kalau kamu tidur di sekolah lagi, kamu bapak keluarkan dari kelas saya” ancam guru itu
“…iya pak” aku hanya bisa menjawab “iya”
Berpikir untuk memberitahukan permasalahan ku saja mungkin akan membuat masalah ini tambah rumit. Seorang siswa penyendiri dan tidak memiliki nilai bagus mengatakan kalau dirinya di bully hanya untuk membuat alasan, guru mana yang akan percaya begitu saja. Di dunia yang
keras ini, satu-satunya kelebihan ku hanya bisa menahan rasa sakit lebih kuat dari pada siapapun.
***
Keesokan harinya
Aku berjalan dengan cepat di tengah lorong yang penuh dengan orang yang hendak pergi
kekantin. Akhirnya, aku bisa mendapatkan jajanan yang mereka inginkan kali ini, untuk hari ini aku bisa sedikit beristirahat dari pukulan-pukulan itu. Dalam perjalan ke kelas Rendy, aku sempat memikirkan hal sepele ini.
Pasti banyak orang yang bertanya-tanya kenapa aku tidak melaporan hal ini pada orang tuaku, yah… aku tidak ingin
membebani ibu ku dengan masalah sekolah ku, sudah cukup aku membuat masalah padanya dan dia bisa focus pada pekerjaannya tanpa memikirkan ku.
Aku tidak ingin pikirannya terbebani karena masalah ku. Berkutat dengan pemikiran ku, tanpa kusadari aku sudah sampai di di depan kelas Rendy. Saat aku hendak masuk kelas itu, tak sengaja bahuku bertabrakan dengan orang lain.
“maafkan aku! Maafkan aku! Maafkan aku! Aku beneran gak sengaja!” kata ku gugup
“ah…tidak, gak papa kok” kata cowok itu
“aku tidak begitu mengenalnya, tapi kurasa dia orang baik” batin ku
“ah…aku hampir lupa” kata ku sembari masuk kelas Rendy
“hah…hah..hah…” nafas ku terrnggah-enggah
“akhirnya kau sampai juga, baguss kali ini kau bekerja dengan baik” kata Rendy
merendahkan
Saat aku hendak pergi, aku melihat cowok yang barusan aku tabrak melihatku dari luar
kelas Rendy. Apakah dia juga berbikir kalau aku hanya hewan peliharaan? Ternyata semua orang sama saja! yang paling mengerti diriku sendiri hanya diriku. Aku tidak butuh orang lain!