Love And Despair

Love And Despair
Teman Curhat



Di dalam kelas yang penuh hiruk pikuk itu, Aldi terdengar sangat heboh setelah


mengetahui kebenaran yang sesungguhnya dibalik pernyataan cintanya saat itu. Aldi sangat tidak


menyangka bahwa Eri rela melakukan semua itu demi dirinya.


“jadi pelepasan balon, semprotan kertas dan grup band itu, semua itu ide kamu?” tanya


Aldi terkejut


“ehehehe… yah…begitulah” Eri tersenyum malu. Dia memainkan dua jari telunjukknya


yang saling bertemu.


“wahhh… makasih banyak loh, kamu sampai repot-repot menyiapkan semua itu demi aku”


kata Aldi senang sembari memegang kedua pundak Eri


“ahahaha…. Sama-sama” Eri tersenyum malu


Sudah sebulan berlalu sejak kejadian itu, namun anehnya aku masih memiliki perasaan ini


terhadap Anita. Sial, aku tidak bisa move-on darinya. Karena perasaan ini, setiap kali aku bertemu


dengan Anita, aku merasa sangat canggung dan tidak berani memandang wajahnya. Aku selalu


saja menghindar setiap kali bertemu dengannya.


Ini bukan salahnya, hanya saja setiap kali melihat wajah cantinya itu perasaan kesal dan


penyesalan selalu saja menyerang ku. Seharusnya aku mengikuti apa yang dikatakan oleh protagis


di novel yang pernah ku baca.


Protagonist itu mengatakan bahwa semua cewek itu sama saja. “Mereka hanya bersikap


baik. Jika mereka baik pada ku, berarti mereka juga baik pada yang lain.” Dia sudah menjadi


panutan ku dalam bertahan hidup di dalam peperangan yang dinamakan dengan kehidupan ini.


Dengan semua permasalahan ku itu, membuat ku tidak bisa lagi tidur di kelas dengan


nyaman. Akhirnya, aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan dan menjadikan tempat itu


sebagai tempat tidur ketiga ku.


“hah...” Putri menghela nafas kesal


“kamu lagi. Aku mengijinkan mu tidur disini karena aku merasa kasihan sama kamu. Aku


pikir kamu boleh tidur disini sampai perasaan mu sudah baikan, tapi ini udah sebulan loh… masa


gak ada perubahan sih. Bikin orang jadi gak tenang aja” keluh Putri


Kebetulan sekali Putri adalah salah satu pengurus perpustakaan. Setiap kali dia dapat


giliran menjaga perpus, aku memanfaatkannya untuk bisa tidur dengan nyaman di perpustakaan.


Dijaman yang mana informasi dunia sudah ada digenggaman tangan, membuat perpustakaan jadi


jarang dilirik untuk di kunjungi. Aku memanfaatkan keadaan ini untuk mendapatkan tempat tidur


ketiga ku, dan rencana ku ini berjalan mulus karena adanya bantuan dari Putri.


“namanya juga cinta pertama, pasti susah untuk dilupakan dong. Kayak kamu gak pernah


jatuh cinta aja” balas ku mengejek. Aku duduk di sebelah Putri, tapi dengan spontan Putri langsung


menggeser kursinya menjauh dari ku.


“a a apa! A aku juga pernah jatuh cinta kali!” wajah Purti memerah dan dia sangat malu


“hemm… jadi? Kamu pacaran sama cinta pertama mu?” tanya ku penasaran


“eh, anu…itu….enggak” Purti depresi


sombong


“jadi kamu ditolak ya” aku menyeringai


“a a a… bukan bukan, aku gak ditolak. iihhh….” Putri bingung harus menjawab apa dan


akhirnya dia pun ngambek sama aku. Wajahnya saat dia kesal sangalah imut.


“hahaha…” aku tertawa melihat tingah laku Putri


Terkadang kami berdua menghabiskan waktu istirahat untuk mengobrol seperti ini.


terkadang aku juga membantu Putri dalam menjalankan tugasnya sebagai penjaga perpus seperti,


menyusun buku kembali ke raknya masing-masing, mencatat nama anak-anak yang meminjam


buku dan sejenisnya.


“aku sudah lama memikirkan ini, kenapa kamu tetap memakai kacamata? Padahal kamu


cantik banget loh pas gak pakai kacamata” kata ku penasaran


“eh!” Putri terkejut. Wajahnya merona dan dia sangat malu. Setelah mendengar ucapanku


tadi, tiba-tiba dia melepas kacamtanya. Aku terkejut dengan tindakan tiba-tibanya itu.


“begini?” tanya Putri malu-malu. Wajahnya yang malu-malu itu sangatlah imut. Aku tidak


percaya kalau dia sampai sekarang jomblo tulen sama seperti ku. Jika saja dia selalu berpenampilan


seperti ini, aku yakin aku sudah jatuh cinta dengannya sekarang.


“aku tanya, kenapa malah diem aja” kata Putri malu


“eh, ah… kamu lebih cantik kayak gini” jawab ku canggung


“…” Putri tersipu malu. Lalu dia mengenakan kembai kacamatanya


“aku ini rabun jauh, makanya aku selalu pakai kacamata” jawab Putri sedih


“loh, perasaan kamu gak pakai kacamata saat kartinian waktu itu” kata ku penarasan


“waktu itu aku pakai lensa mata, tapi aku gak bisa pakai lensa mata itu terus-terusan. Sakit


tau pakai lensa mata, butuh perjuangan buat masang lensa mata tuh” jawab Putri kesal


Melihat Putri yang kesal sendiri dengan wajah imutnya itu membuat ku dadaku berdebar-


debar. Aku selalu merasa nyaman saat mengobrol dengan Putri. Padahal kalau diingat-ingat lagi,


aku selalu saja membuatnya kesal setiap kali kami bertemu.


Apakah perasaan nyaman ini cinta? Tapi ini sedikit berbeda dengan yang kurasakan


terhadap Anita. Tapi, kalau aku ragu-ragu sekarang ada kemungkinan Putri suatu saat akan di rebut


oleh orang lain sama seperti Anita.


“anu…Put” kata ku gugup


“ya…” jawab Putri. Mata kami saliang bertemu, aku begitu gugup dan keraguan


menyerangku. Wajah polosnya yang menunggu ku membuatku mengurungkan niat untuk


mengatakan hal itu.


“ah enggak~ enggak jadi…” kata ku gugup


“apaan sih, gak jelas” kata Putri kesal


“hah…” aku menghela nafas lega


“aku mau tidur dulu” aku berdiri dan pergi ke meja kosong yang tampak nyaman itu