Love And Despair

Love And Despair
Seperti Tak Terjadi Apapun



Waktu ujiah akhir semester sudah tiba. Aku yang memiliki kapasitas otak yang pas-pasan


tidak bisa tenang. Bukan hanya aku saja, bahkan Eri dan Aldi juga sepertinya juga merasa khawatir


kalau nanti kami tidak bisa naik kelas.


“wah~ kesurupan jin mana kamu? Kok tiba-tiba rajin gini” ejek Putri


“jangan menghina…kamu juga kemarin remedy kan?” balas ku dingin


“eh! Itu.... aku…” Putri sedang mecari-cari alasan


“kukira cewek berkacamata itu pintar. Rupanya bisa remedy juga” sambung ku


“cerewet! Emangnya semua cewek berkacamata di mata mu itu pintar semua ya” kata Putri kesal


“kalau gitu, semua orang bakal beli kacamata biar tambah pintar lah, dasar bego!” sambung


Putri


“santai-santai… gak usah ngegas gitu dong” kata Aldi


“humpf!” Putri kesal dan wajahnya cemberut


“Anita~ bantu kami~ kamu dapet nilai bagus kan pas ujian kemarin?!” Eri memeluk Anita


“ehehehe…enggak juga kok. Biasa aja” kata Anita


“bantu kami An~” Aldi menggenggam tangan Anita


“eh!” Anita terkejut


“bisa ya…tolong~” kata Aldi memohon


“emm….bisa aja sih” jawab Anita ragu


“yeayyyy!” Eri memeluk Anita


***


Malam Hari Di Rumah Anita


Aku datang terlambat di rumah Anita. Terlihat mereka sudah berkumpul, duduk bersama


dilantai dan belajar bersama di meja bundar. Mereka tampak begitu bersamangat dengan belajar kelompok ini.


“lambat! Orang udah belajar dari tadi, kamu malah baru datang” kata Putri kesal


“sorry, aku tadi mampir bentar di toko kue ibu ku. Aku disuruh membawa kue ini buat


camilan belajar kolompok kita” aku menunjukan sekotak kue di tangan ku


“emm…gitu ya… sorry” Putri menyesal


“santai aja~ gak papa kok. Lagian kamu gak bakal kukasih hehehe~” ejek ku


“hah! Si siapa juga yang mau makan kue mu itu” Putri tampak melirik kue yang ku bawa


“wah~ seperti biasa. Kue buatan ibu Evan selalu cantik” puji Eri


“hehehe…anu, itu sebenarnya aku yang buat” kata ku malu


“hah! Kamu yang buat ini? kamu hebat banget” puji Anita sembari mencicipi sepotong kue


Terlihat Putri sesekali melirik kearah kami yang sedang memakan kue. Aku tahu dia sangat


ingin makan kue itu, tapi karena sifat malu-malu kucingnya itu membuatnya tidak bisa berkata


jujur pada dirinya sendiri.


“nih, kamu pasti lapar kan?” aku memberikan sepotong kue


“enggak tuh~ aku gak lapar” kata Putri


“grruuugghhh” suara perut Putri


kue yang kuberikan kepadanya, dia memakan kue itu dengan lahap. Wajahnya tampak senang dan dia sepertinya menyukainya.


“eh, ada krim di pipi mu” Aldi mengusap pipi Anita


“eh, makasih ya…” kata Anita malu-malu


Eri yang merasa iri dengan pasangan itu langsung meniru Anita. Eri dengan sengaja


metelakkan krim di pipinya.


“Van, ada krim di pipi ku!” kata Eri berharap


“trus…” kata ku dingin


“iiihhh…Evan bego!” Eri memukul ku


Kami pun melanjutkan belajar kelompok kami. Anita menjelaskan beberapa materi dengan sangat baik. Penjelasannya sangat mudah dimengerti. Saat aku menegrjakan beberapa soal latihan, tidak sengaja aku salah menulis jawaban.


Aku pun mengambil penghapus yang ada di dekat tangan ku. Saat aku hendak mengambil


penghapus itu, secara tidak sengaja tangan ku bersentuhan dengan tangan Putri yang juga hendak


mengabil penghapus itu. Spontan kami pun menjauhkan tangan kami. Kami berdua merasa sangat


canggung.


“An, aku belum mengerti sama soal yang satu ini” kata ku


“oh…soal yang itu….” Kata Anita mendekat padaku


Wajahnya sangat dekat dengan wajah ku. dia terlalu dekat dengan ku sampai dadanya tak


sengaja menyentuh tangan ku. Aku tidak bisa fokus dengan apa yang diajarkan oleh Anita. Sensasi


kelembutan dari dada Anita yang cukup besar untuk ukuran anak SMA memang luar biasa.


Tapi, Tak kusangka dia bisa bertingkah seperti biasa seolah tak pernah terjadi apa-apa


sebelumnya. Padahal kemarin dia mencium ku, tapi saat aku berjumpa dengannya pagi ini, dia


tampak biasa-biasa saja. Bahkan saat ini dia barani duduk disebelah ku seperti ini. Aku melirik ke


arah pergelangan tangan Aldi dan Anita. Rupanya mereka sudah merayakan ulang tahun itu.


“tunggu, sepertinya ada yang aneh…kayaknnya gelangnya agak beda dari yang kemarin


dia beli…” batin ku. Saat aku sedang menatap gelang Anita, tiba-tiba perut ku dicubit oleh Putri.


“hei! Mata mu melirik kemana?” tanya Putri kesal. Wajahnya tampak begitu menakutkan


“aw! Sakit oy!” kata ku pelan


Disaat kami tengah tenggelam dalam kehangatan suasana belajar kelompok itu, tiba-tiba saja Aldi mengusulkan sebuah ide untuk menambah semangat kami dalam mendapatkan nilai yang bagus dalam ujian besok.


“bagaimana menurut kalian kalau setelah ujian nanti kita camping di pantai?!” usul Aldi


“nice idea~” Eri mengacungkan jempol


“wah~ bagus tuh” sahut Putri


“boleh… aku juga belum pernah jalan-jalan jauh di daerah sini” kata Anita


“bagaimana Van? Kamu ikut enggak?” tanya Aldi bersemangat


“eeee….” Aku merasa bimbang


“ayolah~ ayolah~ kapan lagi kamu jalan jauh?” Eri menggoyang-goyangkan tubuh ku


“o okay~” jawab ku ragu


“sip! Berarti sudah sepakat! Kita pergi camping setelah ujian selesai” kata Aldi bersemangat


“yeayyy!” teriak para gadis