Love And Despair

Love And Despair
Dukungan Teman Masa Kecil



“Sudah ku duga kamu pasti ada disini” kata Eri tersenyum pada ku


“Bintangnya banyak banget ya~ cantik…” Eri menatap ke atas langit bersama ku


“Ya… cantik” kata ku


“Eri…” panggil ku


“Ya…” Eri menatap ku


“Sebenarnya aku sedang memikirkan tentang Putri. Akhir-akhir ini dia terlihat sedih” kata ku


“Sedih ya… kamu udah tau kenapa dia bisa sedih kayak gitu?” tanya Eri


“Belum” jawab ku murung


“Dia selama ini sudah banyak membantu ku, aku juga ingin melakukan hal sama dan aku


ingin membuatnya ceria lagi” ungkap ku


“Begitu ya… Evan gak pernah berubah yah~ dari dulu kamu selalu baik pada siapapun” Eri bersandar dibahuku


“Itulah yang aku suka darimu sejak dulu. Meskipun kamu tidak memiliki banyak teman,


tapi kamu akan berusaha mempertahankan teman mu dan selalu melakukan yang terbaik untuk mereka. Sama seperti yang pernah kamu lakukan pada ku dulu” Ungkap Eri senang


“Kamu ingat enggak waktu kita masih SD… kamu pernah nyelametin aku dari anak-anak


cowok yang menjahili ku” kata Eri memandang bintang


“Aaa... ah… ya aku ingat” jawab ku ragu


“Waktu itu kamu berani melawan mereka meskipun kamu tahu bakal jadi samsak tinju buat mereka. Dari situlah kita jadi lebih dekat hingga sekarang kan?!” kata Eri tersenyum


“Iya… hehehe aku memang tidak bisa apa-apa kalau soal berkelahi” kata ku


“Menurut ku itu bagus kok! Kalau kamu memang ingin membuat Putri bisa tersenyum lagi. aku mendukung mu seratus persen!” kata Eri bersemangat


“Em… makasih Eri” aku mengusap-usap kepalanya. Seketika wajah Eri merona


“Sip! Besok saat di bus aku bakal tanya langsung sama dia” kata ku percaya diri


“Melihatnya bisa tersenyum seperti….bagi ku sudah cukup. Kuharap perasaan ku bisa tersampaikan padanya, meskipun aku tahu itu mustahil. Tapi aku tidak ingin menyerah pada cinta pertama ku” isi hati Eri


“Meskipun aku hanya dipandang sebagai adiknya… tapi aku harap adik ini bisa


membuatnya jatuh cinta suatu saat nanti. karena aku sangat mencintai mu… kakak…” isi hati Eri


Pagi hari telah tiba. Semua siswa bersiap-siap masuk ke dalam bus dan kembali ke Malang.


Dari kejauhan aku melihat Putri yang masuk kedalam bis, wajahnya tampak begitu murung. Aku pun bergegas masuk ke dalam bus yang sama dengan Putri. Syukurlah aku melihat dia sedang duduk sendirian, Aku pun menghampirinya.


“Boleh aku duduk disini?” tanya ku ragu


“Ah! Kamu Van. Boleh” jawab Putri terkejut


Bis pun berangkat menuju kota Malang. Perjalanan begitu damai, namun Suasan ditempat duduk kami saat itu sangat canggung. Putri hanya menatap ke arah luar jendela sambil mendengarkan music di headset-nya.


“Kenapa aku begitu ragu! Ayo diriku! Kamu sudah membulatkan tekad mu kan?!” batin ku


“Anu… Put, akhir-akhir ini kamu kelihatan murung. Kalau kamu punya masalah kamu bisa cerita sama aku kok” kata ku gugup. Aku menepuk pundanya


“Eh, enggak kok. Aku gak ada masalah apa-apa kok” jawab Putri panik


“Jangan bohong… aku melihat mu murung terus selama kita study tour. Bahkan kamu


sampai melamun pas kita ada di pantai” kata ku


“Beneran gak papa kok~ aku cuman lagi gak mood aja” jawab Putri ragu


“Udah ah, gak usah dibahas” kata Putri


“O-okay… tapi kalau kamu ada masalah cerita ke aku ya. Kamu sudah banyak membantu


ku dengan merahasiakan amnesia ku ini, jadi aku ingin membalas kebaikan mu” ungkap ku


“Ya ya…. santai aja. Kalau emang ada masalah aku pasti cerita kok” jawab Putri tersenyum


“Meskipun dia beling begitu, kenapa rasanya ada yang janggal ya. Ku harap itu hanya perasaan ku saja” pikir ku