Love And Despair

Love And Despair
Budi Yang Tak mau Kalah



Disaat yang sama saat Evan pergi meninggalkan acara Fashion Show


Tampak Siska dan teman-temannya sedang duduk di bangku panjang sembari menikmati


jajanan mereka. Posisi mereka sangat strategis dimana bangku panjang itu menghadap langsung


ke arah panggung, sehingga mereka tidak perlu capek-capek berdiri untuk menyaksikan kontes itu.


“hey hey… gaes…” Siska membuka acara ghibah-nya


“apa?” tanya Meli


“kalian tahu enggak-“ kata Siska terpotong


“enggak” sahut Ayu


“aku belum selesai ngomong~” Siska kesal dan membuatnya mencubit pipi Ayu dengan


gemas


“kalian tahu enggak? Dengar-dengar Bu Susti juga ikutan jadi kontestan Fashion Show


loh~” kata Siska kepo banget. Namun sayangnya, tampak terlihat dari wajah teman-teman Siska


tidak terlalu peduli dengan topik yang sedang dibahas Siska.


“hem… terus?” tanya Meli jutek


“menurut kalian siapa yang jadi pasangan Bu susti nanti?” tanya Siska dengan mata


berbinar-binar


“Budi –Budi –Budi” jawab Ayu, Meli, Indah malas


“Mungkin Budi” jawab Wulan malas sambil mengangkat kedua bahunya


“ayolah gaes~ mungkin aja dia orang la- “ kata Siska terpotong


Tiba-tiba Budi dan Bu Susti di panggil naik ke atas panggung. Mereka berjalan beriringan


sembari bergandengan tangan. Wajah Budi tampak bahagia dan dia terus saja senyum-senyum


sendiri.


“Terima kasih… terima kasih hehehe” Budi melambaikan tangan pada para penonton


“oh wow! -OMG! -Itu mustahil! -Siapa sangka rupanya Budi!” kata Ayu, Meli, Indah dan


Wulan berpura-pura terkejut. Wajah mereka sangat dibuat-buat dan terkesan mengejek Siska


“fu*k you all…” Siska sangat kesal


Sementara itu, Dari tempat lain ternyata ada seseorang yang juga tak menyangka bahwa


Bu Susti berpasangan dengan Budi dalam kontes ini.


“ke kenapa bu Susti bisa berpasangan dengan anak nakal itu!” pak Agus tampak terkejut


sekaligus kesal


Terlihat pak Agus sedang di tahan oleh beberapa siswa dan guru agar tidak lari ke


panggung untuk mengacaukan acara. Wajahnya begitu merah dan darahnya mendidih melihat


tangan anak nakal itu bergandengan dengan tangan lembut Bu susti.


“baiklah….aku gak mau kalah sama Aldi. Aku juga akan menyatakan perasaan ku yang


sebenarnya kepada Bu Susti” pikir Budi dengan semangatnya


“anu... Bu Susti!” Budi bertekuk lutut di hadapan Bu Susti


sangat malu


“Bu Susti! Sebenarnya saya sudah lama jatuh cinta sama ibu! Mau kah Ibu jadi pacar


saya?” tanya Budi dengan sangat yakin. Dia mengulurkan tangannya, persis seperti yang dilakukan


oleh Aldi kepada Anita


“anu… gimana yah…” wajah Bu Susti merona dan dia sangat malu


“ini diaaaa!!! Wajah malu-malu kucingnya keluarrr!” didalam batin Budi merontak-


rontak


“JANGAN DI TERIMA BU SUSTIIII!!!” teriak pak Agus dari kejauhan yang ditahan oleh


para siswa dan guru


“cih! Dasar, menggangu momen romantis ku aja” batin Budi kesal


Semua orang begitu tenggang menunggu jawaban dari bu Susti. Suasana tampak hening,


hanya suara detak jantung Budi yang terdengar sangat kencang. Untuk beberapa saat bu Susti


hanya diam, wajahnya tampak begitu bimbang.


“anu… maafkan ibu, Budi…” kata bu Susti murung


“apa ini? apakah bu susti mau ngeprank seperti Anita?” pikir Budi. Wajahnya tampak


begitu gugup.


“anu… sebenarnya ibu sudah punya suami. Maafkan ibu ya… ibu gak bisa menerima


perasaan mu” jawab bu Susti dengan suara halusnya. Bu Susti merasa begitu bersalah dan tidak


enak pada Budi yang sudah bersusah payah memberanikan diri untuk menembaknya.


Pak Agus sangat shock setelah mendengar jawaban dari bu Susti, dia teruduk lemas. Pak


Agus begitu depresi dengan semua itu. Seketika kilas balik muncul dibenak pak Agus,


perjuangannya untuk mendapatkan hati bu Susti hancur begitu saja.


Budi tak bergeming dengan posisinya. Dia tetap bertekuk lutut di hadapan bu Susti, namun


perlahan dia bangkit dan menggenggam erat tangan bu Susti.


“ayo bu… kita selsaikan ini, lalu pergi dari panggung ini” kata Budi sedih


“eh…emm, Iya…” Bu Susti tampak sedih, dia menggenggam erat tangan Budi berjalan


dengan pelan meninggalkan panggung bersinar itu. Lagu sedih pun dinyayikan oleh grup band


yang juga ikut sedih dengan penolakan itu. Lagu sedih itu mengiringi langakah kaki mereka


berudua.


“Dengan… seluruh… angkasa raya memu-“ nyanian itu terpotong


“KENAPA MALAH NYANYI LAGU MENGHENINGKAN CIPTA WOI! GAK ADA


LAGU LAIN APA?” teriak Budi menghadap para grup band. Seketika grup band langsung terkejut


dengan teriakan Budi sampai membuat mereka berhenti memainkan musik. Bu Susti tertawa kecil


melihat tingkah laku Budi yang selalu membuatnya tertawa.