Love And Despair

Love And Despair
Pertemuan Yang Tak Diinginkan



Anita pun pergi ke tempat pembayaran. Sepertinya dia bakal lama deh, antrian sepanjang


ular itu pasti akan banyak menyita waktunya. Aku pun duduk di luar area baju itu. Tak sadar


dengan posisi duduk ku, saat aku menoleh ternyata ada manekin yang hanya menggunakan bra


tepat berdiri disamping ku.


Beberapa cewek yang lewat didepan ku pun tertawa kecil. Aku yang merasa malu langsung


pindah ketempat duduk lainnya. Saat aku baru saja duduk, aku melihat Putri yang sedang melihat-


lihat beberapa baju. Putri yang sadar dengan kehadiran ku pun langsung menghampiri ku.


“loh, kamu ada disini juga. kamu ngapain disini?” tanya ku


“panjat tebing! Jelas-jelas kita di area perbelanjaan, ya mau beli baju lah! Pakek nanya lagi!” Putri ngegas


“hehehe sorry-sorry” aku tertawa ragu


“jadi, kamu disini ngapain? Mau beli baju buat siapa? Atau kamu mau beli baju buat diri


mu sendiri?” kata Putri jijik. Wajahnya seketika langsung merasa jiji dan sedikit majauh dari ku


“enggak lah! Kamu kira aku cowok cabul apa?!” kata ku kesal


“emang iya kan” balas Putri


“egrh…aku enggak cabul ya!” kata ku kesal


“ya ya ya” kata Putri mengalah


“jadi?” tanya Putri


“aku…aku sedang menemani Anita belanja disini…” kata ku pelan. Sontak Putri kaget


dengan jawaban ku


“kamu beneran mau nikung temen mu sendiri ya?!” kata Putri histeris


“enggak lah! Aku cuman nemanin dia beli kado buat ulang tahun Aldi” jawab ku kesal


“oh… kiraian. Rupanya jadi babu toh hihihi…” ejek Putri tertawa kecil


“terserah!” kata ku kesal


“ya udah, aku mau lanjut cari baju. Kayaknya majikan mu dah datang tuh. Dadah~” kata


Putri tersenyum sembari melambai pada ku


“hem…” balas ku dingin


Tak lama Anita datang dengan membawa tas kantong berisi bajunya. Kami pun


melanjutnya perjalan kami untuk mencari hadiah untuk Aldi. Saat ditengah jalan, tiba-tiba Anita merasa ingin pergi ke toilet. Aku pun bersandar di dinding untuk menunggu Anita.


Saat aku sedang menunggu, aku mendengar ada dua orang cewek yang sedang


membicarakan ku. Sesekali dia menyebut nama ku. Tapi aku tidak meperdulikannya. Mereka


berdua mendekati ku perlahan dengan memastikan wajah ku.


“wah~ rupanya benar Evan ya~” kata cewek sebelah kanan


“ iya~ beneran Evan ya. Wah~ udah lama banget gak lihat kamu. Udah 3 tahun ya sejak


kita SMP” kata cewek sebelah kiri


Rupanya mereka berdua adalah teman sekelasku saat aku masih SMP. Tunggu, dari pada


menyebut mereka berdua sebagai teman, lebih tepat kalau menyebut mereka sebagai orang yang


pernah satu kelas dengan ku.


“wah~ kamu gak berubah ya. Tetep suram seperti biasa hahaha” ejek Reni


“iya~ rambut mu juga tampak menjijikan. Kamu gak pernah mikir untuk pergi ke


“hem…ya” jawab ku dingin


Hal yang paling aku benci rupanya muncul juga. Aku selalu saja mengindari mereka, tapi


kali ini aku tidak bisa. Semua orang di SMP menganggapku sebagai sampah, tidak heran kalau


mereka berdua berani mengatakan hal itu pada ku secara terang-terangan.


Meskpun aku tdak terlalu menanggapi mereka, mulut mereka berdua tidak berhenti


menghina ku. Aku ingin pergi meinggalkan tempat itu, tapi aku masih harus menunggu Anita. Aku


harus bisa bertahan sedikit lagi dari bacotan mereka berdua.


Saat kupikir aku sudah tidak kuat lagi dan ingin membalas hinaan mereka. Tiba-tiba Anita


datang dari arah belakang ku dan merangkul tangan ku seolah seperti sepasang kekasaih.


Wajahnya tampak begitu kesal.


“Van, siapa dua cewek jelek ini? kenapa mereka mengagnggu mu?” tanya Anita kesal


“je jelek?” Reni dan Debi tersulut emosi


“ayo kita pergi, aku gak tahan melihat mereka” kata Anita menarik tangan ku


“a apa? Dasar cewek sialan!” teriak Reni


Kami berdua pun pergi meninggalkan mereka berdua yang marah-marah tidak jelas itu.


Aku tidak menyangka bahwa Anita bisa segalak ini. dibalik wajah cantiknya, ternyata mulut anak


ini pedas juga.


“bu bukannya tadi itu agak sedikit keterlaluan ya?” kata ku pelan


“hah? Enggak tuh~ aku udah gak tahan denger mereka ngehina kamu dari tadi. Makanya


aku bilang gitu” kata Anita kesal. Aku tertegu mendengar kata-kata itu, rupanya dia peduli dengan


ku.


“makasih ya…” kata ku


“hem…ya. Lagian, siapa sih mereka berdua?” jawab Anita kesal. Rupanya dia masih kesal


dengan dua cewek tadi


“sebenarnya…mereka berdua orang yang pernah satu kelas sama aku pas masih SMP”


jawab ku


“oh…jadi mereka teman mu ya” kata Anita


“bukan! Mereka bukan teman ku…” bantah ku kesal


“oh, okay” Anita tampak terkejut


“aku penasaran, kenapa kamu bisa sering di bully?” tanya Anita


“anu…itu…karena aku jelek…” kata ku menundukan kepala ku


“mereka bilang aku jelek, orangnya suram, dan suka menyendiri” jawab ku malu


“hah? Enggak tuh~” Anita juga memnundukan kepalanya hingga bisa melihat wajah Evan


dari bawah


“kamu aja yang kurang peraya diri. Dan, gak usah kamu dengerin omongan orang. kamu


cukup jadi dirimu sendiri aja. Okay~” kata Anita tersenyum dan mengacungkan jempolnya


“…ya…” aku tersentuh dengan kata-katanya