Love And Despair

Love And Despair
Tugas Kelompok



Kami berempat duduk dimeja yang sama, meja panjang dan beralaskan karpet hijau yang


membentang keseluruh lantai kantin yang terbuat dari kayu. Di tengah asiknya kami menyantap makanan, Eri mengatakan sesuatu mengenai kerja kelompok.


“ada tugas kelompok ni, mau kerjakan di rumah ku enggak?!” tanya Eri


“hah? Tugas kelompok? Kapan?” tanya ku


“itu…tugas kelompok, waktu itu kamu gak masuk karena sakit” kata Eri


“ iya waktu itu kamu sakit jadi kita kekurangan orang, jadi kami memutuskan untuk


memasukan namamu di kelompok kita” kata Anita menjelaskan


“dan juga karena Aldi dah balik, Aldi ikut kelompok kita” kata Eri


“okay. Gak masalah” kata Aldi sambil mengacungkan jempol


"tugas kelompok ya..." gumam ku


"kenapa Van?" tanya Anita


"eh, enggak..." kata ku terkejut


“kalau aku sih gak masalah sih” kata ku


“aku dah sering ke rumah Eri, jadi mungkin gak masalah kali ya~” batin ku


Selesai dengan makan siang kami, kami pun pergi kembali ke kelas untuk bersiap-siap


untuk jam pelajaran selanjutnya. Di perjalan pulang, kami mendapati beberapa orang sedang membully seorang anak laki-laki. Anak itu didorong ke dinding dan dikepung oleh sekolompok preman itu.


Aku hanya membisu melihat kejadian itu di depan mata ku, aku ingin melupakan dan mengubur dalam-dalam kenangan pahit itu dari ku namun kejadian yang sama terus berulang dan hal itu tidak bisa dihindarkan. Tidak sepeti ku, aldi langsung mendatangi dan berbicara baik-baik kepada para pembully itu, meskipun tampak tenang akan tetapi wajah Aldi mengisyarakan hal yang berbeda.


Sangat kelihatan dari raut wajahnya yang sangat marah dan ingin memukul para bajingan-bajingan itu. Aku melihat ke arah tangan kanan aldi, dia mengepalkan tangannya dengan sangat kuat. Tapi aku tau dia tidak ingin membuat masalah di sekolah, jadi kupikir mereka pasti akan mengerti.


“ada apa ini?” tanya Aldi


“hah?! Ada masalah kah?” tanya salah seorang pembully


“aku tanya apa yang kalian inginkan pada teman ku” tanya Aldi kesal


“teman mu? Tidak~ kami hanya bermain-main dengannya saja~” kata pembully itu


sembari merangkul korbannya


kan saja dia sendirian” kata Aldi membujuk


“cikh!” pembully itu mencoba memukul Aldi


dengan sigap Aldi menahan pukulan anak itu dengan mudahnya. Wajahnya sangat marah,


namun dia menahan sekuat tenaga. Setelah melepas tangan pembully itu, para pembully pergi meninggalkan anak itu dan Aldi, dia sungguh orang yang hebat, berani melakukan hal itu tanpa keraguan. Berbeda dengan ku, hanya seorang penakut yang tidak bisa apa-apa.


Mata Anita bersinar-sinar, dia sangat kagum dengan tindakan heroic dari seorang Aldi.


Yah…cewek mana yang gak jatuh hati dengan Aldi, dia baik, keren, dan tentunya dia berbakat. Bukan hal aneh jika Anita sampai jatuh cinta padanya.


Tapi entah mengapa hati ini rasanya sesak ya?! Perasaan sakit yang mengiris perlahan ini sangat membuat ku tidak nyaman. Aku meremas dadaku begitu kuat dan sedikit kesal saat melihat mata anita yang menatap Aldi dari jauh.


***


Rumah evan, malam hari


“assalamuallaikum~” salam Aldi


“wallaikumsalam~” jawab ibu Evan sembari membuka pintu


Wajah mudah dan cantik itu membuat aldi terbelalak. Dia terpanah dengan wajah cantik


ibu Evan. Wajahnya memerah dan membeku larut dalam pesona ibu Evan yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya. Sadar dengan keadaan, aldi menggelengkan kepalanya dan menyadarkan diri dari pesona mama muda itu.


“Evan-nya ada tante~” tanya Aldi gugup


“ada… ayo masuk dulu” ibu Evan menawarkan


“I iya tante, makasih” jawab Aldi gugup


“bu aku pamit dulu ya…” kata ku sembari berjalan melewati ibuku di depan pintu, belum


sempat Aldi masuk, aku sudah berpamitan dengan ibu ku


“eh…! saya pamit dulu tante~” kata Aldi tersenyum


Kami pun berangkat menggunakan motor masing-masing. Karena Unyuk bosan di rumah, dia memaksa ku untuk ikut dengan ku kerumah Eri, mungkin kucing ini lagi kangen sama eri.


Aku pun memutuskan untuk membawanya, dia meletakkan perutnya di bahu kananku dan cakar depannya mencengkram erat bahu kananku. Posisinya tak berubah hingga aku mengendarai motorku. Dia sudah terbiasa ku bawa seperti ini dari dulu.