Love And Despair

Love And Despair
Akhirnya Kisah Romance Ku Dimulai



Rumah Evan


“assalammuallaikum” salam ku


“assalammuallaikum” salam Anita dengan suara kecil


Saat kami berudua masuk ke dalam rumah, tampak begitu gelap karena lampu tidak ada yang menyala. Tidak ada orang sama sekali, begitu hening. Saat aku nyalakan lampu, tiba-tiba seokor kucing kecil berbulu putih melompat kearah ku. Rupanya dia sangat kangen dengan majikannya.


“wahh…kucingnya imut banget~” kata Anita gemas


“siapa namanya?” tanya anita sambal memeluk kucing ku


“namanya unyuk” jawab ku


Anita pun memeluk kucing ku dengan sangat gemas dan lembut. Menggesakakan hidungnya dengan unyuk dan memeluknya dengan keras.


Wajah si unyuk melihat kearah ku, dia tersenyum sinis padaku. Entah mengapa aku sangat kesal dengan wajah kucing kampret ini. Begitu sombongnya dia memasang wajah merendahkan ku. Salah satu kaki unyuk munjulur keluar dan salah satu cakarnya menunjuk kebawah dengan wajah sombongnya mengisyarakatkan aku adalah seorang pecundang. Bahkan aku kalah dengan seokor kucing…hiks, malangnya hidup ku.


Ingin melarikan diri dari kenyataan pahit itu, aku pun pergi meninggalkan mereka berdua dan langsung menuju dapur. Karena orang tuaku sering pulang malam, dengan demikian orang tua ku tidak pernah sempat memasak untuk makan malam, al hasil aku yang harus mandarin dan belajar memasak untuk membuat makan malam ataupun sarapan.


“wah…rupanya Evan jago memasak ya” anita terpukau


“enggak…biasa aja kok” jawab ku


“kamu sudah mengisi daya hp mu?” tanya ku


“ya lagi di isi” jawab anita Sembari melihatku memasak, Anita melihat-lihat ssekeliling ruangan yang ada di rumah ku.


Langakhnya terhenti saat melihat gitar using yang tergeletak di pojok ruangan. Dengan penasaran anita mencoa meraih gitar itu. Gitar itu sangat berdebu dan terlihat tak pernah terawat dengan baik. Anita menyanyikan sebuah lagu dengan memainkan gitar itu. Sangat menyenangkan bisa mendengarkan musik selagi diri ku memasak. Tak kusangka suara anita semerdu ini.


“Waktu pertama kali


Kulihat dirimu hadir


Rasa hati ini inginkan dirimu


Hati tenang mendengar


Suara indah menyapa..."


“apakah kamu suka bermain musik” tanya Anita


“ya….dulu" jawab ku murung


Setelah satu jam berlalu, aku pun akhirnya selesai memasak. Yah…hanya hidangan biasa dan tidak ada spesialnya sama sekali. Aku menghidangakannya di atas meja makan. Terlihat diatas meja makan terdapat seporsi tumis sawi dan beberapa tempe gorang. Setelah menghidangkan makanan, aku lanjut mencuci piring. Pandangan ku focus pada air yang mengalir dan tangan ku yang terus menggosok piring-piring yang kotor itu. Tangan lembut dan mungil tiba-tiba memberikan ku piring yang telah di cuci.


Pandangan ku langsung tertuju pada orang yang beridiri disebalah ku. Anita tersenyum pada ku. Senyum polosnya itu membuatku sedikit tersenyum kecil. Kami berudua mengobrol tentang beberapa hal saat mencuci piring.


Setelah menucui piring, kami pun beranjak dari tempat kotor itu. Tiba-tiba si unyuk berlari di antara kaki anita, membuat keseimbangan anita goyah dan membuatnya hampir terjatuh. Dengan sigap, kedua tangan ku relfek memegang pundak Anita. Kami berdua saling menatap, begitu dekat dengan wajah kami hingga kami bisa merasakan nafas kami masing masing.


“apa-apaan dengan pose romantis ini. Good job nyuk” batin ku sambil memandang unyuk


Unyuk dengan wajah sombongnya mengangkat salah satu kaki dan menunjukan salah satu cakarnya seakan menunjukan inysarat menunjukan jempolnya. Lanjut adegan romantisnya, jantung ku berdegub dengan kencang. Waktu seolah terhenti.


“anu…. Evan?!” kata Anita gugup


“sepertinya daya hp ku sudah cukup terisi” anita berlari ke tempat hp nya di cas yang berada di ruang tv.


Dia pun berbegas mencabut cas nya dan mengatakan bahwa dia akan pergi kembali ke rumahnya karana matahari telah terbenam sejak tadi. Dia terlihat sibuk dengan hp nya mencari alamat rumahnya. Langit sudah sangat gelap, aku mengantarkan anita sampai depan rumah ku.


“terimakasih ya evan” kata anita


“sama-sama an” balas ku


“hati-hati dijalan” pesan ku


“iyah….” Jawabnya dengan senyum polos


Aku kembali masuk ke dalam rumah. Punggung ku terkena daya Tarik magnet yang sangat kuat dari sofa yang ada di ruang tamu. Sensasi perpaduan antara punggung yang bertemu dengan sofa sembari bermain game moba adalah kombanasi luar biasa nyaman. Bagi kaum rebahan seperti kami, posisi ini adalah posisi terbaik. Selang beberapa saat, ibu ku datang ke rumah.


“assalammuallaikum…” salam ibu ku dengan suara lemas


“wallaikumsalam” jawab ku sambil fokus dengan game ku


“makannanya dah siap di meja bu” jawab ku sambil bermain game


“iya~ makasih ya nak~” jawab ibu ku capek


Setelah selesai beberapa permainan, aku memutuskan untuk membuka salah satu medisa social karna bosan kalah mulu. Jari ku tidak berhenti men-scroll postingan-potingan warga net. Dalam browsing ku, aku menemukan berita baru yang ada di dalam forum ‘berita terkini x”.


jantungku terasa terhenti, mata ku terbelalak melihat postingan itu. Pikiran ku tidak bisa mencerna dengan baik apa yang sedang kulihat saat ini. Berbagai pertanyaan muncul dibenak ku.


“apa ini beneran?”


“apa ini bukan hoax?”


“kenapa bisa begini?”


“yang seperti ini mana mungkin terjadi kan?!”


Isi potingan itu adalah kecelakaan seorang siswi SMA X yang terjadi pada malam dini hari. Disertai dengan gambar seorang siswi yang bercucuran darah di sekujur tubuhnya. Darahnya membasahi seragamnya, sehingga warna putih seragam itu berubah menjadi merah darah.


“alamatnya mirip!”


“aku sempat melihatnya saat mencari jalan di GPS”


“motornya juga sama”   


Aku begitu terkejut hingga tidak bisa berkata-kata. Kengerian menyelimuti ku seketika. Air mata mengalir begitu saja. Ibu ku yang melihat keadaan ku itu begitu khawatir dan langsung menghampiri ku.


“kamu kenapa Evan? Kenapa kamu menangis” tanya ibu ku khawatir


“uhmmm….eh….” kejut ku sambil mengusap air mata ku


Tanpa kusadari air mata ku menetes begitu saja, perasaan bersalah menghantui ku. Seharusnya aku bisa mengantarkannya pulang waktu itu.


"Aku telah membunuh seseorang!" Kata ku histeris


“orang yang baru saja bersama ku semenjak sore tadi, mungkinkah dia pergi untuk selamanya??? Apakah anita benar-benar maninggal karena kecelakaan itu” batin ku