
Eskrim yang di pengan oleh Eri telah leleh sepenuhnya. Eskrim itu jatuh ke tanah
bersamaan dengan jatuhnya harapan terakhir yang dimiliki gadis itu. Dengan perasaan kuat, gadis itu ingin mendukung orang yang dicintainya dengan sepenuh hati hingga akhir. Dia tidak ingin menghianati perasaannya yang sebenarnya, namun dia juga sudah tahu dari awal kalau dia sudah tidak memiliki kesempatan lagi. Sudah tidak ada ruang lagi di hati Evan untuk Eri, yang di pirkannya hanya orang yang kini dia cintai.
“Sebenarnya tadi aku melihat Anita sedang mengejarkan madding sendirian di kelasnya. Pergilah ketempat dia, dia membutuhkan mu sekarang” kata Eri sedih
“Beneran?! Kalau gitu aku kesana dulu ya” kata ku terkejut
“Yah… cepatlah kesana. Kalau kamu kesana, semuanya pasti akan baik-baik saja” air mata Eri mengalir perlahan. Aku terkejut saat melihat air mata itu mengalir pelan di pipi Eri
“Eh? Sorry… mata ku kemasukan debu” Eri mengusap-usap matanya
“Hah? apa kamu gak papa? Apa aku antar kamu sampai ke sekolah dulu?” aku khawatir
“Hah? gapapa kok… mata ku cuman kemasukan debu, palingan habis ini sembuh kok. Cepat kesana, kasian dia sendirian disana” tolak Eri
“Ka-kalau gitu aku pergi dulu ya...” kata ku canggung
“Ya…hati-hati dijalan” kata Eri
“Ya…” kata ku canggung
Setelah diriku pergi meninggalkan Eri sendirian di taman itu, Eri perlahan berjongkok dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia menangis pelan di tengah taman yang sepi itu. Air mata yang sekuat tenaga dia tahan mengalir deras membasahi wajahnya. Sekarang dia sudah tidak perlu menahan air matanya lagi.
“Syukurlah aku bisa menahan air mata ku tadi…”
“Kalau aku sampai menangis mngkin dia tidak akan pergi…”
“Aku tidak punya hak untuk menghentikannya…”
“Aku tidak ingin dia berhenti menolongnya karena aku…”
“Karena dia sudah pernah menyelamatkan ku…”
“Aku tidak boleh egois… karena aku hanya seorang adik baginya”
Sesampainya di sekolah, aku berlari menuju kelas ku untuk menyerahkan bahan-bahan yang mereka minta. Pikiran ku campur aduk, aku merasa sangat merindukan Anita namun aku juga merasa sangat gugup saat aku memikirkan untuk bertemu dengannya.
“Evan…kenapa kamu lama banget?” tanya Putri cemas
“Ceritanya panjang…Put, aku boleh minta tolong sama kamu enggak?” tanya ku
“Eh? Iya, apa itu?” Putri kaget
“Aku beneran minta maaf gak bisa ikut bantu buat madding! Ada hal harus aku lakukan!” pinta ku
“Gapapa kok… lagian ini bentar lagi juga mau selesai” Putri tersenyum kecil pada ku
“Makasih Put!” aku memeluk Putri dengan erat. Putri pun terkejut dengan tindakan ku yang tiba-tiba dan Wajah Putri merona saat dipeluk erat oleh ku
Aku pun bergegas menuju kelas Anita. Saat aku sampai di kelas Anita, aku berdiri di depanpintu kelas yang kosong itu dan hanya melihat Anita yang sedang sibuk mengerjakan madding seorang diri. Dadaku terasa sesak ketika melihat Anita berjuang sendirian didalam kelas yang hening itu. Aku menghampirinya perlahan, dia terlihat sangat bekerja keras membuat madding ini.
“Lagi sendirian aja nih~ mana teman kelas mu yang lain?” tanya ku
“Eh! Evan! Kamu ngagetin aku aja” Anita spontan membalikan badan
“Hehehe…mereka udah pulang duluan, karena madding belum selesai… aku berinisiatif buat ngelanjutin sendirian hehehe” kata Anita gugup
“Bu-bukan berarti mereka sengaja ninggalin aku sendirian loh! Rencannya besok madding ini mau dilanjut, tapi aku bersikeras mau melanjutkannya sendirian” kata Anita menegaskan
“Keliatan banget bohongnya” pikir ku
“Ya…ya… aku paham kok~ sini aku bantuin” aku meraih beberapa bahan untuk membuat madding
“Eh eh gak usah…sini biar aku aja” Anita merebut bahan madding dari tangan ku
“Lebih baik kita kerjakan berdua biar cepat selesai…” kata ku
“I-iya deh…” Anita mengalah
Pada akhirnya Anita membiarkan ku membantunya. Waktu demi waktu terus bergulir dan kami bekerja keras untuk membuat madding itu. Tanpa kami sadari, ternyata Putri sedang mengawasi kami dari jauh. Putri tampak tersenyum melihat kami bekerja sama dalam menyelesaikan madding ini.