Love And Despair

Love And Despair
Reuni (2)



Hari berkunjung Ke rumah Ayah Putri


Untunglah, uang tabungan ku hasil dari bekerja di toko kue ibu ku masih ada. Aku sudah


menyiapkan uang yang cukup untuk perjalanan ini. ini bukan sekedar perjalanan biasa, aku harus mempersiapkan semua dana tak terduga disaat perjalanan nanti.


kami pasti akan menginap di Yogyakarta, karena itu Aku membawa beberapa lembar


pakaian untuk perjalanan ini. minggu yang cerah dan langit biru yang berkilau, kuharap perjalanan kami lancar.


“Bu! Aku berangkat dulu” pamit ku pada ibu


“Eh, udah mau berangkat? Gak ada yang kelupaan kan?” tanya ibu khawatir


“Enggak~ aman kok” kata ku bersemangat


“kalau gitu hati-hati dijalan” ibu tersenyum pada ku


“Ya. assalamuallaikum” salam ku


“Waalaikumsalam” balas ibu ku


Aku pun berngkat menuju rumah Putri untuk menjemputnya. Sesampai dirumahnya,


terlihat Putri yang sudah membawa tasnya menunggu ku didepan rumahnya. Putri tampak cantik menggunakan kacamatanya, rasanya seperti sudah lama aku tidak melihat sosok Putri yang imut itu.


“Kamu pakai kacamta ya?!” kata ku


“Iya… kenapa?” tanya Putri


“Enggak~ rasanya kayak aku dah lama gak lihat kamu pakai kacamata heheheh. Padahal


ini baru pertama kali aku melihat mu pakai kacamata seperti ini eheheh aneh ya…” kata ku


canggung


“Hehehe… dasar aneh” dia tersenyum pada ku


Kami pun berangkat menuju Yogyakarta menggunakan Bus. Saat didalam Bus, tiba-tiba


hp ku bordering. Aku mencoba meraih hp ku yang ada didalam kantong celana ku. Anita menelpon ku.


“Alamak! Aku lupa kalau hari ini aku ada janji sama Anita” pikir ku


“Siapa Van? Kenapa kok gak diangkat?” tanya Putri


“Eh! Anu… ini dari Anita” jawab ku gugup


“Oh… angkat aja” kata Putri


“I-iya…”kata ku


“Ha-halo~ iya An” aku menjawab telpon dari Anita


“A-anu… Anita, aku… maaf! Aku mendadak ada urusan. Jadi gak bisa datang kesana. Maaf!” kata ku menyesal


“Gitu ya… gak papa deh” suara Anita terdengar sangat kecewa


“Kamu ada urusan apa?” tanya Anita


“Hah! anu… itu sekarang aku lagi di Yogyakarta.” jawab ku gugup


“Hah? yogya? Kamu ngapain disana?” tanya Anita panik


“Aku lagi menemani Putri kerumah ayahnya” jawab ku gugup


“Kok kamu bisa nemanin Putri kesana sih?” Anita tambah penasaran


“Emm… ceritanya panjang. Tunggu kami pulang aja baru aku jelasin semuanya” jawab ku


“Hem… okay deh. Hati-hati disana ya~” kata Anita


“I-iya…sorry ya” kata ku menyesal


“Iya… gak papa” kata Anita.


Di taman kunang-kunang, dia terlihat sangat kecewa sekaligus murung karena pertemuannya dengan Evan gagal lagi. Ini sudah kedua kalinya dia gagal memberitahukan Evan terkait rahasia yang dimiliki oleh “orang itu”. Anita takut kalau dia sudah tidak memiliki


kesempatan untuk memberitahukan hal ini padanya.


Dari kejauhan, ternyata ada seseorang yang sedang mengawasi Anita yang sedang duduk


dibangku panjang taman kunang-kunang itu. Setelah melihat Anita murung karena telah menerima telpon dari seseorang, dia pun meninggalkan taman itu sembari menutupi wajahnya dengan topinya.


Di dalam Bus yang sepi itu Putri terlihat sangat cemas, sepanjang perjalan dia hanya


melihat kearah luar jendela. Aku mencoba untuk menenangkan Putri dengan memberikan headset ku padanya.


“Nih… ini lagu favorit ku” aku memasangkan salah satau headset ku di telinga Putri. Sontak


Putri pun terkejut.


“Eh! Em… ya” Putri menerima kebaikan ku


“Biasanya kalau aku sedang gelisah atau cemas aku mendengarkan lagu ini” ungkap ku


“Iya… lagunya bagus” kata Putri tersenyum


Kami menikmati perjalanan ini dengan mendengarkan lagu-lagu yang ku putar. Di tengah perjalanan kami, tiba-tiba Putri tertidur dibahu ku. Dia tertidur cukup lelap. Aku melihat wajahnya tampak sangat kelelahan.


Aku mencoba memindahkan rambut yang menutupi wajahnya dengan jari ku. Rambutnya terasa sangat lembut dan halus. Tanpa kusadari aku sudah menyentuh pipi lembut miliknya, aku mengusap-usap pipi lembutnya dengan jari ku. Aku tersenyum saat memainkan pipinya.


Didalam tidurnya yang nyenyak, Putri meneteskan air mata. “Ayah…” Putri mengigau.


Aku pun menghapus air mata yang hedak jatuh itu. Dia pasti merasa sangat rindu dengan ayahnya. Itu wajar saja, Dia sudah ditinggal oleh orang yang dia cintainya selama sepuluh tahun.