
“wah~ aku belum pernah melihat mama mu Van… dia cantik ya, kayak masih mudah gitu”
kata Aldi kagum
“dia seperti masih umur 25-an ya… hehehe” kata Aldi girang
“hah? Kamu suka sama ibu ku?” tanya ku kesal
“su suka, y ya enggak lah! Gimana sih!” kata Aldi gugup
“kalau aku suka sama mamanya eva dan jadian sama mamanya evan, mungkin aku bisa
jadi bapaknya hehehe” gumam Aldi
“hah? Kamu ngomong apa tadi?” tanya ku
“ah hahahaha… enggak~” kata Aldi gugup
“yah…kata ibu ku, dia melahirkan ku saat dia masih SMP” kata ku dingin
“S SMP!!!” teriak Aldi
“canda…canda….cuman bercanda kok~”
“argghhh” Aldi kesal
Kami berdua pun sampai dirumah Eri, rumah klasik yang sederhana itu memang membuat
siapa saja ingin menempatinya. Sangat jarang ditemui rumah klasik seperti ini di tengah kota yang
padat dan penuh dengan bangunan-bangunan bertingkat.
“-assalamuallaikum~” salam kami
“wallaikumsalam” jawab Eri sembari membuka pintu
“eh…kalian sudah datang, ayo masuk” kata Eri
“-ya” jawab kami
“wahhh unyukkk~~~ dah lama banget gak ketemu kamu” kata Eri langsung memeluk
unyuk
“aku mau siapin minuman dulu, kalian langsung aja ke ruang tamu” kata Eri dengan
menggendong unyuk masuk kedalam rumah
Kami pun mengikuti arahan Eri dan langsung berbegas keruang tamu. Terlihat disana sudah
ada Anita dan seorang cewek yang berlum aku pernha lihat. Apakah dia adeknya Eri atau sepupunya? Setau ku Eri itu adalah anak tunggal, jadi siapa cewek itu?
“wah…kalian sudah datng ya” kata Anita senang
Tak berselang lama, Eri datang dengan membawa es teh kepada kami. Namun sesaat setelah dia meletakkan minuman itu dimeja, aku menarik-narik baju eri dan berbisik padanya.
“wah…ada unyuk~” kata Anita sembari mengesek-gesekan hidungnya dengan hidung
unyuk
“bukan-bukan, itu kucingnya Evan” kata Anita
“siapa cewek di sebelah Anita itu?” tanya ku pelan
“HAHHH???? KAMU GAK TAU DIA?” Eri terkejut
“coba kamu tanya aja sendiri” kata eri menahan tawa
“anu…mbak ini siapa ya?” tanya ku polos
“HAH? KAMU GAK KENAL AKU?” tanya balik pada ku
“ehhhh???” kok jadi aku yang bingung
“aku ini temen sekelas mu loh! Duduk di seberang sebelah bangku mu pula!” cewek itu
tambah ngegas
“I iya kah?” tanya ku ragu
“WAHAHAHAHA” Aldi dan Eri tertawa terbahak-bahak
“hihihi” Anita tertawa kecil
“van~ van~ kamu nih kelamaan jadi anak ansos sih. Padahal kalian satu kelas bisanya kamu gak kenal dia” kata Aldi
“maaf aja ya kalau aku ansos” kata ku kesal
“aku Putri! Masa kamu gak ingat sama wajah ku sih!” tanya Putri
“maaf kalau aku gak ingat sama kamu, kita gak pernah ngobrol sebelumnya. Aku tipe orang
yang mudah lupa dengan orang jika tidak pernah berbicara dengan ku” kata ku menjelaskan
“huh… ya sudah lah. Aku disini karena satu kelompok dengan kalian” kata Putri
“iya… karena itu dia ada disini” sambung Anita
“oh… okay” kata ku dingin
Kami pun mulai mengerjakan tugas kelompok untuk membuat mading yang nantinya akan
di presentasikan minggu depan. Kami membagi tugas sesuai porsi kami masing-masing. Kelompok dipimpin oleh Aldi, dia memang hebat dan cocok menjadi ketua.
Tawa canda mewarnai kelompok itu, Aku sangat bersyukur bisa satu kelompok dengan orang-orang yang aku kenal. Aku sempat gugup jika aku satu kelompok dengan orang yang tak akrab dengan ku. Memulai suatu hubungan dengan orang lain adalah hal yang sangat melelahkan dan rumit. Hubungan yang
didasarkan untuk saling memanfaatkan tidak akan bertahan lama dan aku membencinya.
Hubungan manusia yang seperti itu hanya akan meimbulkan ketergantungan saja dan membuat mereka tidak bisa berkembang lebih maju. Seseorang akan mejadi lebih kuat saat mereka dapat berdiri dengan kaki mereka sendiri tanpa bantuan orang lain. Tapi untuk saat ini, aku rasa tak apa-apa, karena orang yang menjalin hubungan dengan ku adalah orang-orang yang kupercayai dan aku harus percaya pada mereka bahwa mereka mempercayaiku dan membutuhkan ku saat ini.