
Dari arah luar terdengar suara ramai-ramai anak-anak hendak masuk ke kelas. Anita yang
bersama teman-temannya begitu terkejut dan matanya terbelalak. Dia tak bergerak setelah melihat
kami berdua.
“An, kenapa?” tanya Siska. Saat Siska menoleh ke arah kami, dia pun juga ikut terkejut
“I itu… kenapa dengan seragam ku?” tanya Anita, wajahnya sangat shock
Anita berjalan perlahan ke arah kami, matanya berkaca-kaca dan dia menutup mulutnya
dengan kedua tangannya. Eri yang sedang menangis memberikan seragam penuh coretan itu. Anita
sudah tidak sanggup lagi menahan kesedihannya, air matanya menetes jatuh membasahi
seragamnya.
“a aku…a aku menemukan seragam mu sudah begini saat aku masuk kelas tadi hiks…”
kata Eri sembari menangis tersedu-sedu
“…” Anita tak mengucapkan sepata-kata pun. Air mata terus berjatuhan di atas seragam
itu.
“SIAPA YANG MELAKUKAN INI WOI!” teriak Siska marah. Tapi semua orang diam
saja
Tak kuasa menahan kesedihannya, Anita berlari keluar sembari menangis tersedu-sedu.
Aku yang melihat dia berlari meneteskan air mata di depan ku membaut ku juga ikut merasa sedih.
Aku bisa memahami perasaanya karena aku juga pernah mengalaminya dulu. Tapi ini keterlaluan!
Memangnya apa yang telah dilakukan oleh Anita sampai dia mendapat perlakuan ini.
“oy! Kenapa kamu diem aja?” tanya Siska memukul pundak ku
“hah?” aku bingung, apa yang sedang dikatakan oleh Siska?
“hadeh… kamu kejar lah Anita, bego! Masa kamu mau diem aja liat dia menangis sih” kata
Siska mendrong punggungu ku
Aku pun berlari menyusuri lorong dan melihat ke sekeliling. Aku sudah menelusuri
beberapa tempat tapi gak ketemu. Nafas ku terenggah-enggah, aku mulai kehabisan pilihan.
Tersisa satu tempat lagi yang belum aku yang belum aku datangi.
“cih… disaat seperti ini, kenapa Aldi malah gak ada?!” keluh ku sembari berlari
punya pacar kenapa malah aku yang harus nenangin ceweknya. Mana aku canggung bicara sama
Anita. Saat aku masuk ke ruangan itu, aku melihatnya duduk di meja sembari menangis pelan.
Aku mencoba duduk disebelahnya. Dia yang sadar dengan kehadiran ku langsung
mengusap air matanya. Matanya yang masih merah menunjukan dia sangat sedih tadi. Aku
bingung harus berkata apa untuk menenangkannya.
“maaf ya… aku udah baikan kok” katanya
“emm… itu gak papa kali, kamu lanjutin aja nangisnya. Biar lega” kata ku canggung
“emm~” Anita menggelengkan kepalanya perlahan
“udah gak papa kok” katanya mencoba tersenyum
“sebenarnya ada masalah apa sih kamu sama orang itu? Kenapa orang itu selalu
mengagnggu mu?” tanya ku
“…” Anita hanya menggelengkan kepala perlahan. Dia sepertinya juga gak tahu
Tiba-tiba Anita bersandar di pundak ku. Aku yang terkejut tidak bisa menggerakan tubuh
ku sedikit pun. Aku menoleh ke arah Anita, aku melihat wajahnya begitu sedih. Untuk sementara
aku akan membiarkan posisinya seperti ini.
“aku pinjam pundak mu sebentar ya?” tanya Anita pelan
“…yah…” jawab ku canggung
“sebenarnya aku juga gak tahu kenapa mereka tega ngelakuin ini sama aku…” kata Anita
sedih
“aku juga gak pernah punya masalah sama mereka. Tapi kenapa? Hiks…” Anita mulai
menagis lagi
Tak lama setelah dia menangis, dia tertidur di bahu ku. Meskipun posisi ini sangat luar
biasa, tapi kalau lama-lama pegal juga. Tapi untuk kali ini saja, aku akan memberikan pundak ku
pada mu, meskipun aku tahu kamu bukan milik ku. Rasa sakit di dada ku ini tiba-tiba muncul
kembali, perasaan aneh yang selalu mengganggu ku setiap kali bersama dengan Anita.