
Di Sekolah
Anita dan Eri sangat heboh saat sedang mengintrogasi kami berdua. Mereka berdua sangat penasaran saat kami berdua keluar kota barsama untuk mencari ayahnya Putri. Putri kewalahan menerima hujan pertanyaan dari mereka berdua.
“Ka-kalian berdua tidur bareng satu kamar di hotel!” kata Anita heboh
“Tidur satu ranjang pula!” sambung Eri
“Ehehehe… I-iya…” Putri kewalahan dengan mereka berdua
“Trusssss?” mereka berdua tambah penasaran
“Truss… ah! Aku gak bisa dibuat tidur sama si Evan. Dia tiap malam nyerang aku mulu, mana dia ribut lagi” kata Putri kesal. Padahal yang sedang di bicarakan Putri adalah diriku yang suka ngorok dan menendangnya saat tidur.
“EEEEVAAANNNNN~ TOLONG JELASKAN PADA KAMIII~” mereka berdua murka. Wajah mereka sangat menyeramkan
“Jangan mengatakan hal yang bikin orang salah paham woi!” aku lari dari amukan Anita
dan Eri. Putri tampak menikmati saat-saat aku di hukum oleh mereka berdua. Akhirnya Putri
kembali ceria seperti sedia kala.
***
Jam sekolah berakhir
Aku melihat Putri yang sedang duduk dibangku panjang, dia terlihat sedih. Dia menggoyang-goyangkan kakinya dan terdengar dia sedang bersenandung kecil. Aku pun memutuskan untuk menghampirinya.
“Loh? Put, kok kamu belum pulang sih? Kamu gak kerja?” tanya ku
“Eh, Evan…enggak~” jawab Putri
“Kenapa? Kamu ada masalah lagi?” tanya ku
“Kalau kamu memang ada masalah, aku bakal bantu semampu kok” kata ku
“Anu… sebenarnya sekarang aku udah gak kerja di rumah makan itu lagi” ungkap Putri sedih
“Loh? Kok bisa?” aku makin penasaran
“Aku dituduh mencuri uang disana dan sekarang aku harus membayar uang yang hilang itu” kata Putri
“Heh… aku dusurh bayar uang yang bahkan belum pernah aku pegang. Aku benar-benar sial” kata Putri kesal
“Kamu udah mencoba membuktikan bukan kamu pencurinya kan?!” kata ku
“Jangankan membuktikan, semua bukti ada pada ku. Seolah aku udah dijebak dari awal” kata Putri
“Berapa memangnya yang hilang?” tanya ku
“Satu juta” jawab Putri. Seketika aku terkejut setelah mendengar nominal itu.
“Hah… udahlah. Aku mau pulang dulu. Paling aku bakal cari kerjaan lain buat melunasi
uang itu” kata Putri meninggalkan ku
Aku terus kepikiran sampai rumah. Tidak habis pikir, bagaimana bisa Putri bisa bertahan dalam keadaan itu. Aku tahu kalau dia hanya mencoba tegar didepan ku, tapi jika dia terus
melakukan itu pada akhirnya dirinya pasti akan hancur dengan sendirinya.
Ibu ku terlihat cemas saat melihat ku sangat serius di atas meja makan itu. Aku sesekali
memainkan makanan ku dan hampir kehilangan selera makan ku. Aku terus saja memikirkan cara untuk membantu Putri keluar dalam masalah ini.
“Van… kok kamu mainin makanan mu sih. Gak baik loh” kata ibu ku
“Bu!” panggil ku
“Ya…!” ibu ku kaget
“Ibu masih bisa menerima satu pegawai lagi enggak?” tanya ku
“Masih sih… emangnya kenapa?” tanya balik ibu
“Ada teman ku yang lagi butuh pekerjaan. Aku jamin dia anak yang rajin kok” kata ku
“Oh… bisa aja” jawab ibu
“Sip! Satu masalah udah selesai…tinggal satu lagi” pikir ku
“Anu… bu, aku boleh pinjam uang satu juta, kah?” tanya ku ragu
“Hah? satu juta?! Buat apa?” ibu terkejut
“Itu…sebenarnya teman yang kubilang tadi… dia punya utang satu juta dan dia ingin melunasinya” kata ku ragu
“Enggak! Ibu gak bisa kasih pinjam uang sebanyak itu sama kamu. Lagian dia belum tentu bisa mengembalikannya kan?!” ibu menolak ku
“Anu… itu… ya, aku gak tau” aku kehabisan pilihan
“Tapi dia tetap diterima kan?” tanya ku
“Kalau itu…ibu pikir kan lagi” jawab ibu