Love And Despair

Love And Despair
Kembang Api



“kita berpencar, aku akan kesana, kelian kesana” kata ku panik


“iya, nanti kita ketemuan lagi di depan pintu masuk pasar malam” kata Aldi


“oke” kata ku singkat


Kami pun berpencar mencari Anita ditengah lautan manusia, di dalam kekurumunan ini akan sedikit sulit untuk menemukan anak itu. Aku bergerak sedikit lebih cepat menembus keramaian ini. Memandangi setiap wajah yang ku jumpai, namun belum membuahkan hasil.


Saat kupikir langkah ku telah melambat dan pikiran ku tak tenang, aku melihat seorang gadis yang sedang diganggu oleh tiga orang pria. Aku mencoba mendekat untuk memastikan wajah gadis itu. Tak kusangkaTernyata gadis yang sedang di ganggu itu adalah Anita.


“hei neng! Kok sendirian aja nih?” kata salah seorang penggoda


“iya nih, mana pacarnya? Atau eneng nih jalan sendiri?” tanya penggoda yang lain


“…” Anita hanya diam ketakutan


“maaf! Sudah menunggu lama ya!” kata ku pada Anita


“ayo kita lanjut yang~” kata ku sambil menarik tangan Anita dan pergi meninggalkan


para pria itu.


“cikh, dia udah punya cowok rupanya!” kesal si pria


Di dalam perjalanan kami meninggalkan para penggoda itu, aku merasa sedikit bersalah


telah mengatakan itu, Anita pasti gak senang aku ngaku jadi pacarnya. Didalam kerumunan itu aku mencoba untuk memperbaiki kesalahan yang telah ku buat.


“anu… maaf ya. Tadi aku ngaku-ngaku jadi pacar mu” kata ku menyesal


“emm emmm~” Anita menggelengkan kepalanya sembari tersenyum


“gak papa kok, lagian kamu ngelakuin tadi buat nolongin aku kan. Malah aku yang seharusnya berterimakasih sama kamu. Makasih ya” kata Anita senyum


“… ya sama-sama” balas ku tersipu


“lagian kamu kok bisa sih terpisah tadi?” tanya ku penasaran


“anu…itu, tadi Eri menyuruh ku menunggunya sebentar. Tapi dia gak balik-balik lagi,


jadi aku mutusin buat jalan nyari kalian, eh tau-tau ada orang-orang tadi yang gangguin


aku” Anita menjelaskan


“Eri?” kata ku penasaran


“ya udah lah. Aku mau hubungi teman-teman dulu” kata ku


“eh…tunggu dulu” cegah Anita


“kenapa?” tanya ku


“nanti aja hubungi mereka, kita jalan-jalan sebentar dulu gimana? Kita main satu


wahana aja deh~” tanya Anita


“eh…gimana ya?” kata ku bingung


kali ya…” pikir ku


“ya udah deh” kata ku pasrah


“nah…kalau gitu kita main itu aja yuk” Anita menunjuk bianglala


Kami pun masuk ke bianglala itu. Hanya kami berdua, duduk saling berhadapan satu


sama lain di dalam sana. Situasinya sangat canggung, kami tak mengucapkan satu kata pun. Tapi aku tahu bahwa Anita sangat senang, hal itu tergambar jelas dari wajahnya. Saat kami berada di puncak bianglala, tiba-tiba kembang api diluncurkan, melengkapi suasana romantis kami. Mata yang begitu bersniar dan terpukau dengan kilauan warna warni yang menghiasai gelapnya malam yang hangat itu.


“dari atas ini, pemandangannya tampak indah ya?!” kata Anita terpukau


“iya” jawab ku pendek


“makasih Van udah mau ngabulin keegoisanku” kata Anita bahagia


“iya…” kata ku tersenyum


“andaikan saja senyuman itu bisa bertahan lama, andai saja senyuman itu hanya untuk


ku seorang. Apa aku harus nembak Anita sekarang ya?” pikir ku


“kejadian seperti ini gak bakal datang dua kali. Sip! Aku bakalan nembak dia


sekarang!” pikir ku mantap


“anu…Anita!” kata ku gugup


“ya!” jawab Anita senang


“sebenarnya aku su-“ DUARRRRR kembang api gelombang kedua membuat suaraku


tak terdengar oleh Anita


“apa? Kamu ngomong apa tadi?” tanya Anita


“… enggak, bukan apa-apa kok” kata ku tersenyum


Setelah menikmati wahana itu. Aku mencoba menghubungi teman-teman, rupanya


mereka sudah menunggu kami di depan pintu masuk pasar malam. Saat kami sampai di sana, mereka sudah menunggu dengan kesal. Tiba-tiba Eri lari ke arah Anita dan meminta maaf kepadanya.


“maaf An, aku ninggalin kamu sendirian” kata Eri menyesal


“iya…gak papa kok” kata Anita menenangkan Eri


“dah malem nih, kita pulang aja yuk” ajak Putri


“ya nih, dah malam. Ayo kita pulang” kata Aldi


Malam itu menjadi salah satu atau mungkin emang satu-satunya malam minggu yang


berharga bagiku. Bisa ngumpul dengan teman-teman yang kupercayai dan juga bisa lebih dekat dengan Anita, semua ini seperti mimpi saja. Jika ini benar mimpi, aku tidak ingin cepat-cepat bangun dari mimpi indah ini dan kuharap mimpi ini bisa terus seperti ini selamanya. Itu yang kuharapkan.


Namun aku begitu tidak menyangka, pada hari itu, setelah pertandingan final selesai. Dengan eksperi bahagia dan badan penuh dengan keringat, dengan jujurnya dia mengatakan perasaannya pada kami berdua. “Van, sepertinya di acara yang di adakan sekolah nanti, aku akan nembak Anita di depan umum” kata Aldi.Hanya dengan satu kalimat itu membuat ku terdiam untuk sesaat dan pikiran ku pun kosong. Aku bingung harus merespon seperti apa. Perasan ku bercampur aduk, di satu sisi aku merasa kesal, namun disisi lain aku tidak bisa berbuat apa-apa. “Apakah setelah semua ini, usahaku akan sia-sia saja?”