Love And Despair

Love And Despair
Setitik Harapan



Dari ke jauhan, Eri tampak berlari sembari menganis di tengah lorong menghapiri Anita


dan Ibu Evan yang sedang duduk di depan ruang oprasi. Wajahnya sangat ketakutan dan khawatir dengan kondisi Evan.


“tante! Bagaiaman kondisi Evan?” tanya Eri histeris


Ibu Evan hanya menggelengkan kepalanya pelan. Sontak Eri pun menangis melihat


jawaban itu. Mata Eri langsung tertuju ke arah Anita yang sedang bersedih. Karena termakan


emosi, Eri menarik baju Anita dan menampar wajahnya.


“KAMU….KAMU…gara-gara kamu Evan sampai seperti ini!” teriak Eri


“maaf… maafkan aku…hiks” Anita hanya bisa menangis


Eri yang masih kesal hendak menampar Anita untuk kedua kalinya. Tapi untungnya


usahanya digagalkan oleh ibu Evan. Eri yang tidak terimapun mendorong Anita hingga dia


terduduk dilantai.


“jika saja Evan tidak pernah bertemu dengan mu, pasti kejadian ini tidak akan pernah


terjadi!” kata Eri marah


Ketiga orang itu menunggu Evan di depan ruang oprasi. Mereka tidak bisa tenang sama


sekali. Setelah empat jam berlalu, akhirnya dokter keluar dari ruang oprasi itu. Sontak mereka


bertiga pun langsung menanyakan keadaan Evan.


“dok! Bagaiama keadaan anak saya?” tanya ibu Evan


“mohon maaf ibu…kami sudah melakukan yang terbaik” kata dokter menyesal


“hiks…hiks…” seketika mereka bertiga langsung menangis


“anak ibu sekarang dalam keadaan kritis. Sekarang dia akan kami pindahkan ke ruang ICU untuk perawatan lebih lanjut. Saat ini anak ibu sedang koma, kami tidak tahu kapan dia akan sadar”


kata dokter


“iya dok…termakish sudah menyelamatkan nyawa anak saya” ibu Evan menangis


***


Hingga saat ini Evan masih belum sadarkan diri. Setiap hari Anita datang untuk menjenguk


Evan yang sedang berbaring di ruangan ICU, tapi selalu dihalangi Eri yang berjaga didepan pintu ruang ICU. Budi dan Siska sesekali datang untung menjenguk Evan dan mereka diperbolehkan


masuk oleh Eri, namun tidak untuk Anita.


Setiap kali Anita mencoba masuk untuk melihat keadaan Evan, Eri selalu saja menghalangi


Anita dan menolak keberadaanya. Anita tidak bisa memaksa masuk dan juga ia merasa bersalah


dengan keadaan Evan saat ini. tapi setidaknya terdapat perasan kuat didalam hati kecilnya untuk


melihat Evan meskipun hanya sebentar.


“sudah berapa kali aku bilang sama kamu, gak usah datang kesini. Kamu hanya membawa


sial” kata Eri marah


“aku tahu kalau Evan jadi begini gara-gara aku. Tapi, aku mohon Eri…tolong biarkan aku


melihat Evan, hanya sebentarrrr….saja” Anita memohon


“enggak! Kamu ini keras kepala ya. Berapa kali aku harus bilang kepada mu kalau kamu


gak usah datang kesini lagi” Eri sudah jengkel sekali dengan kegigihan Anita


“aku akan kesini setiap hari…” kata Anita


“dasar….cewek keras kepala” umpat Eri


Penyesalan dan kesedihan selalu mengikuti langkah Anita kemanapun dia pergi. Selalu


terngiang-giang wajah Evan diatas pangkuannya, wajah tak berdaya bersimbah darah yang


berusaha keras terlihat baik-baik saja. Setiap malam Anita menangis dikamarnya, Ibu Anita sangat khawatir dengan anaknya yang selalu mengurung diri dikamarnya.


Setelah seminggu terbaring tak sadarkan diri, Akhirnya Evan membuka kedua matanya.


Anita dan Eri yang mendapat kabar dari ibu Evan tentang keadaan Evan langsung bergegas menuju rumah sakit. Eri dan Anita tak sengaja berjumpa di depan pintu kamar Evan.