
Aku sampai di kelas Anita dengan nafas terenggah-enggah. Aku melihat Anita hanya duduk sendirian dibangkunya dengan wajah sedih. Semua orang di kelasnya memandang Anita dengan rendah dan tidak ada yang mau duduk didekatnya. Aku mencoba menghampirinya dan semua orang pun melihat kami berdua.
“Anita… yang di dalam foto itu bukan kamu, kan?” tanya ku panik. Anita hanya diam saja
“An! Jawab! Yang di dalam foto itu bukan kamu, kan? Katakan kalau itu bukan kamu!” kata ku panik
“Benar… yang di dalam foto itu memang aku” wajah Anita terlihat sangat serius
Sontak aku pun terkejut hingga membuat ku terduduk. Anita hanya menundukan kepalanya dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Aku masih tidak percaya dengan jawaban Anita, pasti ada sesuatu dibalik semua ini. seketika aku teringat perkataan Aldi waktu itu.
“Selama kamu bersama dengannya, tragedy demi tragedy akan terus datang” kata Aldi
“Ini pasti bohong kan?!”
***
Hari-hari penuh penderitaan Anita pun dimulai. Sudah seminggu semenjak foto itu tersebar dan sudah seminggu pula Anita mengalami pembullyan oleh hampir seluruh siswa di sekolah ini. terkadang ada seorang siswa yang dengan sengaja menempelkan kertas yang bertuliskan “aku pelacur” dipunggung Anita saat Anita sedang berjalan, hingga membuatnya jadi bahan tertawaan oleh semua siswa.
Di dalam kelas dia juga mendapat perlakuan yang sama, bangkunya dicoret-coret dengan pilog ataupun spidol dengan kata-kata kasar. Saat Anita hendak duduk di kursinya, ada siswa yang dengan sengaja menempelkan permen karet dikursinya sehingga rok Anita penuh dengan permen karet.
Tidak berhenti sampai disitu, bahkan saat dia sedang di toilet, tiba-tiba ada beberapa siswi yang menyiramnya dengan air hingga membuat baju Anita basah semua. Anita hanya bisa diam saja menerima perlakuan itu.
Aku merasa kesal pada diriku sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa disaat seperti ini. hati ku terasa teriris-iris setiap kali melihat Anita dibully seperti itu, bahkan aku sangat kesal dengan diriku yang lemah ini karena tidak bisa melakukan apapun untuk Anita. Putri dan Eri juga merasa kasihan pada Anita, namun mereka berdua juga tidak bisa berbuat banyak. Yang kami bisa lakukan hanya memberinya semangat.
“Padahal dia sudah tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Aldi, tapi kenapa dia tetap mendapat perlakuan seperti ini ya…?” kata Putri sedih
“Hah? apa maksud mu?” tanya ku
“Dulu saat Anita masih pacaran dengan Aldi, dia juga pernah dibully seperti ini selama sebulan. Dan yang paling parahnya, bajunya pernah dicoret-coret dengan spidol” jawab Putri
“Jadi, sebelum ini dia juga pernah mengalami pembully-an?!” kata ku terkejut
“Ya…” jawab Putri sedih
“Di saat seperti ini… apa yang akan kamu lakukan…diriku yang dulu?” pikir ku
Jam istirahat telah tiba, aku berniat datang ke kelas Anita. Aku tidak tahu harus melakukan apa, tapi untuk saat ini aku ingin berbicara dengannya. Saat aku baru tiba di kelasnya, semua anak-anak dikelas itu menatap ku dengan sinis. Aku hanya bisa berjalan melewati mereka sembari menundukan kepala.
“Tumben di kelas aja, biasanya kamu pergi ke kantin” aku menempelkan minuman dingin ke pipinya
“Kya!” Anita terkejut
“Ihh~ apaan sih” Anita memukul ku pelan
“Serem amat tuh muka~ coba senyum…” kata ku jahil
“Hem~” Anita kesal dan tersenyum dengan terpaksa
“Kamu ngapain disini?” tanya Anita jutek
“Memangnya aku gak boleh ya datang ke kelas mu?” tanya ku
“Bu-bukan begitu…” Anita yang malu-malu menundukan wajahnya
“Jadi…?” tanya ku. Aku mendekatkan wajahku padanya
“Ka-kalau kamu dekat-dekat sama aku nanti reputasimu juga ikut jelek karena berteman sama cewek murahan kayak aku. Aku takut kamu kena imbasnya dan juga ikut kena bully” ungkap Anita sedih sekaligus khawatir
“Aku gak masalah mau kamu ini cewek murahan atau enggak aku akan tetap berteman dengan mu” kata ku percaya diri
“Anu… itu tadi maksudnya memuji atau gimana ya… kok rasanya sakit banget” kata Anita sedikit kesal
“Hehehe…aku bercanda kok. Mana mungkin aku percaya sama gossip yang begituan. Aku
percaya sama kamu kok” kata ku tersenyum lebar
“Meskipun kamu udah lihat foto itu, kamu masih percaya sama aku?” tanya Anita senang. Anita hampir menangis mendengar jawab dari ku
“Ya… aku percaya sama kamu” aku mengusap-usap kepala Anita
“… makasih ya…” mata Anita berkaca-kaca
“Ya…” jawab ku tersenyum padanya