
Meskipun aku sudah mencoba menghibur Anita, namun ada saja orang-orang yang tidak menyukai Anita. Semua orang memandang rendah kami berdua, awalnya aku enggak peduli tapi semakin lama dibiarkan mereka semakin menjadi-jadi.
“Ih… coba lihat. Mereka berdua kelihatan cocok banget ya?!” cetus seorang siswi
“Hahaha… iya. Yang satu cowok ansos dan yang satu lagi cewek murahan hahaha…” ejek teman siswi itu
Aku mengepalkan tangan ku dengan sangat kuat. Aku sangat merasa kesal dengan perkataan mereka dan rasanya ingin membungkap mulut mereka dengan sepatu ku. namun Anita menahan ku, dia menggenggam tangan ku dengan erat. Wajahnya tampak sedih saat mencoba menghentikan ku, melihatya sedih seperti itu membuatku mengurungkan niat.
***
Kesekoan harinya
Awan hitam yang pekat menyelimuti langit. Siang yang gelap menemani kami dalam menjalani keseharian disekolah. Hawa dingin yang menusuk tulang membuat pembelajaran tidak nyaman. Bahkan jaket yang kukenakan tidak bisa menahan hawa dingin ini. Perlahan rintik hujan mulai turun layaknya alunan melodi yang mengalir ditelinga ku. rasanya pasti bakal nyaman banget kalau cuaca begini dibuat tidur.
“Aku gak sabar buat tidur siang nanti hihihi” pikir ku.
TRINGGG TRINGG
Jam istirahat
Semua orang berbondong-bondong keluar kelas untuk pergi ke kantin. Tapi aku tidak peduli dengan kantin, aku lebih memilih untuk tidur dikelas karena cuacanya pas banget buat tidur siang ku. saat aku hendak berbaring, aku melihat banyak siswa yang berkerumun didepan kelasku. Aku pun penasaran dan mencoba melihat kearah keramaian itu. Setelah menerobos kerumunan itu, akhirnya aku bisa melihat apa sedang mereka hebohkan.
“Kamu ngapain hujan-hujan disini?” tanya ku panik
Aku menutupi Anita dengan jaket ku. dia tak mengatakan apapun dan hanya menatap kebawah. Aku sangat terkejut saat melihat ke arah bawah, seragam putih Anita yang robek-robek hampir tak berbentuk itu tengah tergeletak diatas tanah yang basah. Terdengar pelan Anita menangis dihadapan seragamnya itu. Aku mencoba mengambil seragam yang tergeletak ditanah itu dan menggenggamnya erat. Setelah itu aku menuntun Anita keluar kembali ke kelasnya. Kami sampai di depan kelas Anita dan semua orang memandangi kami. Belum sampai menginjakan kaki dikelasnya, Anita berlari ke lorong menembus keramaian sambil menangis.
Anita berencana untuk pulang lebih awal. Aku yang khawatir dengannya langsung mengejarnya. Sesampanya ditempat parker, terlihat Anita yang sedang menyalakan motor hendak pulang kerumahnya.
“Mau kemana?” tanya ku. aku berdiri didepan motor Anita
“Aku mau pulang! Jangan halangi aku!” teriak Anita
“Siapa juga mau halangin kamu. Aku kesini mau ngantar kamu pulang. Nih buktinya aku bawa mantel” kata ku
Anita hanya diam saja, perlahan dia turun dari motornya dan membiarkan aku yang
mengendarainya. Kami pun pulang ke rumah Anita tanpa seijin guru. Didalam derasnya hujan, dibalik mantel hujan yang tebal, Anita menangis keras dipunggung ku.
Aku sudah muak dengan semua ini, aku berniat untuk mengakhiri semua penderitaan yang dialami oleh Anita. Sudah cukup aku menjadi penonton atas permainan mu, waktunya kita bermain kejar-kejaran dan mengungkapkan identitas asli mu.
“Kita akhiri permainan petak umpet ini!”