
Disaat kami sedang memandangi Putri yang tengah minta maaf, seorang pelayanan cantik
dan terlihat seperti anak kuliahan membawakan pesanan kami. Wajah Budi pun langsung bernafsu dan terpikat oleh kecantikan dari kakak itu.
“Hehehe makasih kak Anggi~” kata Budi senyum-senyum. Mbak itu pun membalas ucapan terimakasih Budi dengan kedipan manja. Seketika Budi langsung terpesona
“Hadeh… ini toh asalasannya mengajak aku datang kemari” batin ku
Setelah selesai dengan makanan kami, Budi pun langsung bergegas meninggalkan meja
makan itu. Aku yang sudah menduga kalau Budi pasti mau melarikan diri langsung memegang tangannya.
“Mau kemana kau?” tanya ku kesal
“Hehehe aku mau bayar dulu…” jawab Budi ragu
“Kalau kamu mau bayar… sini, mana uangnya. Biar aku yang bayar” pinta ku
Budi pun memberikan uangnya padaku. Dia memberikannya sembari mentup kembali
telapak tangan ku dan langsung pergi meninggalkan ku. Aku pun membuka telapak tangan ku dan benar saja, aku telah ditipu.
“Dasar bocah sialannnn! Awas kau nanti ya…” kata ku kesal
“Ini mah cuman cukup buat bayar satu orang!” kata ku kesal meremas uang yang diberikan
Budi
Pada akhirnya aku membayar bagian ku sendiri. saat aku sedang membayar, aku melihat Putri yang lewat begitu saja dibelakang ku. Dia hanya berjalan sambil menundukan kepalanya. Aku pun langsung memegang tangan Putri dengan erat.
“Jam berapa kamu selesai kerja?” tanya ku
“Hah? emangnya kenapa?” tanya balik Putri
“Udah… jawab aja dulu” kata ku
“Jam… 9” jawab Putri gugup
“okay, aku tunggu kamu pulang kerja jam 9” kata ku serius. Aku pun keluar dari rumah makan itu
“Eh! Oy!” Putri tampak terkejut
Aku pun menungu Putri sampai selesai kerja didepan rumah makan itu. Duduk sendirian
di samping trotoar sambil bermain game. Aku sudah menghubungi ibu sebelumnya kalau aku tidak ada urusan di rumah teman. Kuharap ibu tidak curiga dan khawatir.
Jam digital di hp ku sudah menunjukan pukul 22:00, namun Putri masih belum pulang.
Aku bersembunyi dibalik mobil yang sedang parker di dekat rumah makan itu. Saking lamanya aku menunggu Putri sampai-sampai nyamuk berpesta menghisap darah ku.
Setelah beberapa saat berlalu, akhirnya Putri keluar dari rumah makan itu. Terlihat dia
sedang keluar secara sembunyi-sembunyi sambil memerhatikan kesekeliling. Saat Putri sudah merasa aman, dia berjalan seperti biasa meninggalkan rumah makan itu.
Aku pun menghampiri Putri dan menggenggam tangannya. Sejenak dia terkejut saat aku menggenggam tangannya, lalu dia membalikan badan kearah ku dan wajahnya terlihat sangat
kecewa. Aku pun langsung membawanya ke sebuah taman untuk mengajaknya bicara.
“Rupanya kamu kerja disana ya?!” kata ku
“Ya…” jawab Putri murung
“Hah…” Putri menghela nafas
“Hehehe… makasih loh” kata ku
“Itu bukan pujian. Sebenarnya aku kerja disana untuk memenuhi kebutuhan ku sendiri” ungkap Putri
“Ibu ku sudah meninggal. Ayah ku pergi dari rumah 10 tahun lalu karena ibu ku ketahuan
selingkuh dan sekarang aku tinggal dirumah nenek ku. Aku bekerja untuk membiayai kebutuhan hidup ku sendiri. aku tidak ingin merepotkan nenek ku yang sudah tua” Putri menjelaskan. Seketika suasana menjadi sangat canggung, aku tidak menyangka Putri memiliki masa lalu yang rumit.
“Be-begitu ya… maaf. Aku sudah membuat mu menceritakan hal ini” kata ku menyesal
“Em..em…” Putri menggelengkan kepalanya pelan
“Gak papa kok. Aku udah biasa” kata Putri
“Kamu pasti penasaran kan?! kenapa aku kacau akhir-akhir ini…?” kata Putri
“I-iya…” jawab ku canggung
“Sebenarnya… Ayah ku sekarang ada di Yogyakarta. Karena kemarin kita berkunjung
kesana, membuatku teringat dengannya. Padahal aku sudah mengunci rapat-rapat ingatan ku tentang ayah, tapi ingatan itu terbuka kembali gara-gara aku berada di Yogyakarta kemarin” ungkap Putri
“Aku kangen saat-saat kami menjadi keluarga harmonis dan bahagia. Aku…aku kangen
dengan pelukannya…hiks…aku kangen…hiks…aku kangen ayah hiks…” Putri menangis pelan
disampingku
“Kenapa…? Kenapa keluarga ku tidak sama dengan orang lain… hiks…” Putri menangis
tersedu-sedu
“Ehehehe… maaf ya… kamu sampai melihat sisi menyedihkan ku seperti ini. aku gak papa
kok” Putri menghapus air matanya
Aku merasa tidak berdaya. Meskipun aku tahu permsalahan Putri, tapi aku tidak bisa
melakukan apa-apa. Disaat aku mulai pasrah, tiba-tiba aku merasakan hal yang sama didalam pikiran ku. Parasaan menyedihkan dan tidak berdaya ini seperti pernah kurasakan sebelumnya. Samar-samar aku melihat seseorang menangis di atas bahuku. Hal itu membuat ku sadar, aku tidak boleh menyerah kali ini!
“Put!” panggil ku bersemangat
“Ya!” Putri terkejut
“Lusa kamu kerja enggak?” tanya ku
“Em… kayaknya enggak deh. Emangnya kenapa?” Putri sangat pensaran
“Sip! lusa, kita akan bertamu kerumah ayah mu” kata ku percaya diri
“Hah! bertamu?” Putri terkejut
“Iya, bertamu. Kamu tahu alamat ayah mu kan?” tanya ku
“Ka-kalau itu sih… iya aku tahu alamat ayah ku” jawab ku Putri ragu
“Sip!” kata ku
“Berarti sudah diputuskan kalau lusa kita berangkat ke Yogyakarta.” kata ku tersenyum
lebar kepada Putri. Putri terlihat heran dengan diriku yang bersemangat ingin membantunya, hal itu membuat Putri tersenyum kecil saat melihat ku bersemangat.