Love And Despair

Love And Despair
Ku Harap Baik-baik Saja



Sudah beberapa hari sejak kejadian itu dan Putri selalu menghidar saat kami bertemu, bahkan saat kami duduk sebangku dia sama sekali tidak berbicara pada ku. Aku tahu dia pasti sangat membenci ku makanya dia selalu menghindar dari ku.


“Anu…Put…” aku mencoba menyapanya namun dia langsung pergi


“Sudah kuduga… dia pasti sekarang sangat membenci ku” gumam ku


“Aduh… gimana nih… aku masih malu banget ketemu sama Evan~” batin Putri


“Aku masih kebayang sama ciuman waktu itu, kira-kira dia marah enggak ya? dari tadi pagi dia selalu diam aja duduk disebalah ku” pikir Putri Aku memutuskan untuk memaksanya


berbicara, aku tidak ingin masalah ini semakin berlarut-larut. aku menemui Putri yang sedang menjaga perpustakaan, tampak dia sedang bermain hp disana.


“Hai Put…” sapa ku


“Eh! Ha-ha…hai~ Van” jawab Putri gugup


“Boleh aku duduk disini…?” tanya ku gugup


“Bo-boleh kok” jawab Putri gugup


Sesaat suasana menjadi hening, kami berdua merasa canggung duduk berdekatan seperti ini. namun aku sudah membulatkan tekad ku untuk berbicara dengan Putri, meskipun artinya aku akan dibenci olehnya selamanya.


“Anu…Put, apa kamu marah sama aku?” tanya ku


“Hah! eh? Itu… enggak kok~” jawab Putri terkejut


“Akhir-akhir ini kamu selalu menghindar dari ku. Kupikir kamu sudah membenci ku gara- gara waktu itu” ungkap ku


“Hah? enggak… sama sekali enggak. Cuman…aku masih merasa membutuhkan waktu buat menenangkan diri ku” jawab Putri


“Begitu ya… jadi, apa kita masih bisa berteman?” tanya ku


“Ya…” jawab Putri tersenyum kecil. Aku pun senang mendengar jawaban dari Putri, kupikir kami tidak akan berteman lagi setalah kejadian itu.


“Anu… kamu gak marah kan waktu aku mencium mu tiba-tiba?” Tanya Putri malu-malu.


Seketika wajah ku memerah karena mengingat kejadian itu.


“Iihh…jangan pasang muka malu-malu gitu dong~” Putri menutupi wajahnya


“Enggak~ enggak kok~” jawab ku malu


“Ya…sama-sama. Aku juga harusnya berterima sama kamu kalau bukan karena kamu, aku gak bakal bisa menyembunyikan amnesia ini” kata ku


“Jadi kamu masih belum bisa mengingat apapun?” tanya Putri


“Bukannya gak bisa menginat apapun sih, tapi kadang-kadang aku merasa déjà vu. Seperti aku pernah melakukan hal itu sebelumnya” jawab ku


“Gitu ya…” kata Putri


Pada akhirnya, kami berdua bisa kembali berteman lagi meskipun butuh waktu yang lama untuk bisa kembali seperti ini. aku merasa sangat puas karena bisa membantunya keluar dari masalah yang dia hadapi dan aku merasa seperti ada seseorang didalam hati ku yang berterimakasih pada ku.


***


Pagi itu, saat aku baru sampai di kelas, semua orang sedang ramai membicarakan sesuatu


di grup kelas. Sesekali aku mendengar nama Anita disebut dalam pembicaraan mereka. Dari kejauhan Aku melihat wajah Putri sangat cemas saat melihat kedalam hp nya.


“Hah…? ini beneran?”


“Wahh… parah banget ini sih”


“Gak nyangka…rupanya Anita tuh anaknya sepeti ini”


Aku yang penasaran dengan yang dibicarakan mereka pun bertanya pada Putri


“Put, mereka sedang ngomongin apa sih?” tanya ku


“Ah? Anu… kamu belum lihat di grup ya?” tanya Putri sedih


“Belum” jawab ku datar


Putri pun memberikan hp-nya pada ku, betapa terkejutnya aku melihat gambar yang dikirim ke grup itu. Aku sempat tidak percaya dengan apa yang kulihat ini, namun setelah aku lihat baik-baik ternyata itu benar Anita.


Foto Anita yang hanya menggunakan bra tersebar di grup kelas. Tampak jelas digambar itu Anita sedang berbaring sembari menggunakan masker dan memamerkan tubuhnya. Namun ada yang sedikit aneh dalam foto itu, kenapa Anita terlihat seperti tangannya diikat di atas.


“Tidak hanya di grup kelas kita aja, tapi mungkin foto ini sudah tersebar di seluruh sekolah ataupun internet” ungkap Putri. Aku yang tidak percaya dengan isi foto itu langsung berlari menuju kelas Anita.


“Kuharap ini tidak seperti yang kupirkan…. kuharap ini tidak seperti yang kupirkan …” batin ku. Aku berlari menuju kelas Anita dengan perasaaan khawatir