
“ehem!” tegur Putri
“disini bukan tempatnya bermesaraan” kata Putri kesal melihat aku dan Anita yang masih
tertidur
“bu bukan begitu…” kata ku gugup
“aahhhh… jangan-jangan dia selingkuh ya” kata Putri histeris
“Imajinasi mu kejauhan oy!” kata ku kesal
Setelah mendengar penjelasan panjang lebar ku, akhirnya Putri mengerti situasinya. Tiba-
tiba Anita terbangun karena pembicaraan ku dengan Putri. Dia sangat malu saat sadar dia bersandar
di pundak ku, apalagi di lihat oleh Putri. Dengan spontan dia menjauh dari ku.
“hah…” Putri menghela nafas
“sepertinya perpustakaan ini harus di alih fungsi kan… Pertama jadi tempat tidur anak
ansos, sekarang jadi tempat konslutasi. Hem…” keluh Putri menatap ku. Aku langsung
memalingkan wajah ku.
“hehehe maaf” aku tertawa ragu
“maaf…” kata Anita sedih
“eh…bukan maksud ku- aku cuman bercanda kok~ bercanda~” kata Putri canggung
“lagian siapa sih orang yang tega ngelakuin itu?” tanya Putri kesal
“…” Anita hanya diam saja
***
saat pulang sekolah
semua anak berhamburan keluar kelas, mereka tidak sabar kembali kerumah masing-
masing. Dari belakang, tiba-tiba Eri melompat memeluk ku. Dengan wajah memelasnya, dia
momohon pada ku.
“Van, aku ikut kamu pulang ya. Aku gak bawa motor tadi” kata Eri
“ya ya…lepasin ah! Berat tau” kata ku melepas tangannya yang merangkul leher ku
“yeeeyyy!” teriak Eri senang
“kamu gak pulang An?” tanya Eri
“eh, enggak. Aku masih ada piket kelas. Habis selesai piket baru aku pulang” jawab Anita.
Dia masih saja sedih dengan kejadian siang tadi, wajahnya tampak sangat murung.
“okay! Semangat ya! Kami pulang dulu” kata Eri senang
“ya… hati-hati dijalan” Anita melambai kepada kami
“agrhh… dibilang lepasin. Mau sampai kapan kamu begini?” kata ku kesal
“humpf… Evan gak asik ah! Kita kan dulu sering begini” kata Eri
“iya itu dulu, sekarang kita dah gede, masa iya masih main beginian?!” kata ku kesal
“lagian…aku tidak bisa tenang gara-gara melon itu menekan punggung ku dari tadi” batin
ku menikmati kelembutan dari melon milik Eri
beda gender sedang main gendong-gendongan, nanti dikira kami sedang bermesraan lagi. Semua
cowok menatap ku iri, seperti mereka ingin membubuh ku saja. Aku gak bisa bohong sih kalau Eri
tuh imut. Tapi aku hanya menganggapnya sebagai adik ku, gak lebih.
Di dalam kelas, tampak Anita sedang mengerjakan piket sendirian sedangkan tiga orang
lainnya hanya duduk menonton Anita yang sedang menyapu kelas. Mereka bertiga hanya asik
mengobrol tanpa memikirkan perasaan Anita.
“kalau udah selesai bilang ya… “ kata Dewi sinis
“sorry ya. Aku sebenernya mau bantu, tapi karena takut baju ku kotor kena debu aku gak
jadi bantu kamu deh~” kata Lia merendahkan
“ahahahaha” mereka bertiga tertawa
Anita hanya bisa menatap mereka bertiga dengan tatapan penuh kekesalan. Tapi dia tidak
bisa melakukan apapun. Yang bisa dia lakukan hanya bersabar dan bergegas menyelesaikan piket
itu. Namun, tiba-tiba Dewi datang menghampiri Anita yang sedang menyapu.
“kenapa mata mu melotot kayak gitu! Gak suka ya? Bilang aja kalau gak suka!” teriak
Dewi mendorong bahu Anita
“sebenarnya kenapa sih sama kalian? Perasaan aku gak pernah punya masalah sama kalian
bertiga” kata Anita menggenggam erat sapunya
“HAHHH?! Kamu bilang kamu gak punya masalah sama kami? Kamu gak sadar sama
perbuatan mu?!” teriak Dewi
“kamu tuh udah ngerebut Aldi dari kami, trus kamu bilang itu bukan masalah buat kami?!”
kata Lulu mendorong bahu Anita
“asal kamu tahu aja ya, Aldi tuh punya kami!” teriak Lulu
“tapi kenapa dia bisa nembak kamu? Kamu apain Aldi sampai dia mau nembak cewek
kayak kamu!” teriak Lulu
“aku juga gak tahu” jawab Anita pelan
“BOHONG! Gak mugkin dia mau pacaran sama cewek kayak kamu” teriak Dewi
Tampa basa basi mereka bertiga langsung menyerang Anita. Lulu dan Lia memegang
kedua tangan Anita dan Dewi mencoba melepas baju Anita. Sesekali Dewi menampar wajah Anita
yang mencoba melawan sampai merah. Anita tidak bisa melawan sama sekali.
Dewi memfoto Anita yang tidak memakai baju dan menjadikannya sebagai bahan ancaman
jika Anita berani mendekati Aldi. Anita hanya bisa terduduk lemas dan memegangi baju
olahraganya itu untuk menutupi badannya.
Dia menangis di lantai yang dingin itu. Di tinggalkan seorang diri di dalam keheningan
kelas yang menyisahkan ingatan pahit bagi Anita. Air mata gadis itu terus saja mengalir
membasai pipinya. “Evan…Aldi….siapa saja, tolong aku…” kata Anita pelan.