Love And Despair

Love And Despair
Awal Tragedi



Di lain tempat, rupanya Eri sedang mencari ku kemana-mana. Dia tidak tahu kalau aku


selalu pergi kepersutakaan saat jam istirahat. Selama ini, dia sangat penasaran kemana perginya


aku saat jam istirahat, padahal yang dia pikir aku selalu tidur dikelas saat jam istirahat.


Bukan salahnya sih, aku selalu pergi diam-diam tanpa sepengetahuannya. Setelah sekian


lama mencari, akhirnya Eri menemukan ku sedang tertidur di perpustakaan. Wajahnya terlihat


sangat kesal.


“oh~ disini toh kamu rupanya~” kata Eri kesal


“cepat! Jam istirahat udah habis, kenapa kamu masih tiduran disini?” tanya Eri sembari


mencubit pipi kiri ku dengan keras


“adu du du duh…” pipi ku di Tarik sampai aku bangun


“hah? Kemana Putri, kok dia gak bangunin aku sih?” tanya ku setengah sadar


“Putri? Aku gak tau apa urusan sih Putri jadi jam alarm mu, tapi kita harus cepat! Bentar


lagi guru masuk!” kata Eri khawatir


“hah!” aku langsung tersadar dan berbeggas pergi dari perpustakaan


“dasar cewek kacamata sialan…dia sengaja gak bangunin aku” batin ku kesal


“hihihihi” Putri tertawa di kelas


Kami berdua pun bergegas kembali ke kelas. Berjalan melewati lorong yang tampak sepi


ini membuat ku perasaan ku tidak tenang. Entah mengapa sepertinya aku merasakan firasat buruk.


Saat kami sampai didepan kelas, pandangan ku teralihkan kea rah tong sampah yang ada di depan


kelas kami.


Aku seperti melihat sesuatu yang tak asing, benar saja aku melihat sepatu Anita dibuang


ke tong sampah. Aku pun memungutnya dan mengembalikan sepatu itu ke tempat rak sepatu yang


letaknya ada di sebelah pintu masuk kelas.


Eri tampak terkejut saat aku membawa sepatu itu. Wajahnya begitu kesal namun juga


begitu sedih. Dia pasti sangat marah pada orang yang melakukan hal jahat ini kepada temannya


yang sangat berharga. Dia tidak akan memafkannya.


Sebenarnya aku sudah sadar dengan perundungan ini sejak lama, beberapa hari setelah Aldi


menembak Anita, Anita mendapat beberapa perlakuan buruk dari seseorang. Tapi sayangnya aku


tidak pernah tahu siapa mereka, Anita juga diam saja diperlakukan seperti itu dan dia tidak ingin


membicarakan hal ini pada siapapun.


Aku hanya bisa tahu dari wajahnya yang begitu sedih di saat-saat tertentu. Dan kini aku


telah melihat bukti itu dengan kedua mata ku sendiri sekarang. Aku merasa sangat tidak berguna


disaat seperti ini. aku tidak bisa membantunya di saat Anita membutuhkan pertolongan.


***


“ahhh~ panasnya” keluh ku sembari mengipas-ngipas badanku menggunakan tangan ku


“kenapa juga aku bisa lupa bawa baju olahraga sih” sambung ku


“iya… panas banget nih” keluh Eri sembari mengipas badannya menggunakan tangannya.


Aku gak fokus melihat Eri yang begitu hot di bawah terik matahari. Keringatnya mengalir


perlahan turun dari lehernya, baju yang hampir transparan dan memperlihatkan lekuk tubuhnya


karena panasnya terik matahari membebani pikiran ku yang mulai tak terkontrol.


“eh, kenapa Van?” tanya Eri


“eh, enggak…hehehe” aku langsung memalingkan padangan ku


Di hari yang panas itu, kebetulan sekali aku dan Eri sama-sama lupa tidak membawa baju


olahraga. Kami pun hanya bisa melihat anak-anak lain berolahraga dari bawah pohon yang


rindangan.


“anu…aku mau balik ke kelas dulu. Perut ku tiba-tiba sakit” kata Eri sembari memegang


perutnya


“kamu kenapa? Aku temani ke kelas kah?” tanya ku


“gak usah~ enggak papa kok…” jawab Eri tersenyum ragu


“kamu kebanyakan makan sambel ya?” tanya ku polos


“enggak lah. Evan bego” jawab Eri kesal


“lah terus?” aku masih penasaran


“anu… itu…rahasia!” jawab Eri tersenyum sembari meletakan jari telunjuk dibibirnya


“apaan sih…bikin penasaran aja” kata ku kesal


“apa jangan-jangan…” kata ku terpotong


“gak usah mikir yang aneh-aneh. Dasar otak mesum!” kata Eri sembari mencubit perut ku


Dia pun pergi menuju kelas meninggalkan ku sendiri di bawah pohon yang rindang. Tak


berselang lama setelah Eri pergi, bel tanda pelajaran berakhir telah berbunyi. Aku pun langsung


pergi kembali ke kelas untuk mendinginkan badan.


Aku berjalan melewati lorong menuju kelas ku. Hawa panas yang gak masuk akal ini serasa


memanggang badan ku. Saat aku sampai di depan kelas dan membuka pintu, aku melihat Eri


berdiri di depan bangku Anita, tidak jelas karena dia membelakangi ku tapi sepertinya aku melihat


dia sedang memegang sebuah seragam. Aku sangat terkejut, Eri membalikan badan dan dia sedang


menangis sembari memegang sebuah seragam yang penuh dengan coretan dan tulisan kotor.


“hiks…Evan…hiks…” Eri menangis tersedu-sedu


“…” aku begitu terkejut hingga tidak bisa berkata apa-apa