
“Bodoh! kenapa kalian ngelakuin itu! Kalian gak tau apa, kalau Evan gak bisa berenang” bentak Eri
“eh eh… beneran?! So-sorry aku gak tahu” Budi dan kawan-kawa panik
Saat Eri hendak berlari dan berenang untuk menyelamatkan Evan, tiba-tiba dari belakangnya Anita berlari dan langsung terjun masuk kedalam air. Dia berenang dengan cepat untuk menyelamatkan Evan.
Anita menyelam kedalam air untuk menyelamatkan Evan. Dia melihat Evan sudah tidak sadarkan diri dan mengambang didalam air. Anita pun berbegas berenang mencapai Evan, Anita mencoba meraih tangan Evan yang tak sadarkan diri itu. Setelah berjuang dengan keras, akhirnya dia bisa meraihnya. Dia berenang sembari memeluk Evan menuju tepi pantai.
Saat tiba di tepi pantai, semua orang mengerumuni mereka berdua. Anita berusaha
menyadarkan Evan dengan memompa dada Evan beberapa kali, namun tampak usahanya tak membuahkan hasil. Dia pun tidak memiliki pilihan lain selain memberikanya nafas buatan.
Seketika semua orang disana tegang saat melihat Anita memegang hidung dan bibir Evan. “glek” semua cowok menelan liur mereka dan gregetan menunggu Anita memberikan nafas buatan untuk Evan. Semua cewek pun tampak merona dan gregetan saat Anita hendak memberikan nafas buatan.
Perlahan, bibir Anita mencapai mulut Evan. Jantung Anita berdegup dengan kencang dan
gugup karena dilihat oleh banyak orang. Saat bibir mereka hampir bersentuhan, tiba-tiba rambut Anita di tarik oleh Eri.
“Oy! Mau ngapain kau!” Eri menarik rambut Anita hingga menjauh dari wajah Evan
“Aw! Kamu apaan sih!” Anita marah
“Aku mau kasih nafas buatan, kenapa kamu malah nganggu!” Anita marah
“Hah! Nafas buatan?! Jangan coba-coba ambil kesempatan dalam ksempitan kayak gini. Jelas-jelas dia ”uhuk-uhuk” tadi” kata Eri kesal
“Hah? mana ad…” kata-kata Anita terpotong
“Uhuk…uhuk…” Evan batuk
“Ah~ syukurlah dia udah sadar~” Anita menahan malu
Seketika kerumunan itu langsung bubar karena kecewa tidak terjadi adegan romantis seperti di film-film. Terlepas dari kejadian itu, Budi dan anggotanya dimarahi oleh guru-guru karena tindakan mereka membahayakan siswa lain. Ditempat lain, Evan dibawah ke bawah pohon untuk menenangkan diri.
“Kalian berdua ngapain disini? Kenapa gak ikut main disana?” tanya ku lemas
“Enggak, aku mau disini aja” jawab Anita
“Ya. Aku mau disini aja. Aku mau menjaga cewek ini biar gak ngambil kesempatan kayak
tadi” jawab Eri kesal
Disaat aku tengah menikmati angin sepoi-sepoi dan pemandangan pantai yang indah, dari kejauhan aku melihat Putri yang sedang duduk di bawah sinar matahari menatap ke arah laut.
Wajahnya tampak murung dan sedih, seperti dia sedang memikirkan sesuatu.
Aku sangat mengkhawatirkannya, dari awal perjalanan ini sampai sekarang dia hanya
murung dan terlihat mencoba tegar. Aku membulatkan keputusan ku untuk bertanya langsung padanya.
“Selama ini Putri telah banyak membantu ku, setidaknya aku harus membalas
kebaikannya kali ini” pikir ku
***
Malam Hari di Penginapan
Aku duduk di bangku panjang yang tersedia di penginapan itu. Duduk ditaman yang hening
dan dingin dibelakang penginapan. Berpikir sambil menatap gemerlap bintang yang bertaburan di angkasa malam. Aku terus kepikiran tentang wajah Putri yang tampak begitu sedih. Ketika aku sedang hanyut dalam pikiran ku, tiba-tiba saja Eri duduk disebelah ku.