Love And Despair

Love And Despair
Pelukan Selamat Datang



Akhirnya setelah sebulan berlalu aku bisa keluar dari rumah sakit yang membosankan itu dan aku akhirnya bisa mengatakan “selamat tinggal” pada makanan rumah sakit yang tidak enak itu. Aku pun kembali bersekolah seperti sediakala. Aku merasa cukup gugup saat berangkat sekolah karena rasanya ini seperti pertama kalinya aku datang ke sekolah.


“aku tidak tahu seperti apa diri ku yang dulu saat disekolah. Aku sudah bertanya kepada


ibu tapi dia juga tidak tahu” aku berbicara sendiri


“yah… untuk saat ini aku akan bersikap biasa-biasa saja dan mencoba untuk tidak terlalu mencolok” aku berbicara sendiri


Karena aku terlalu banyak berpikir, Tanpa kusadari aku sudah sampai didepan kelas ku.


Aku sangat gugup saat hendak masuk kelas itu, aku mencoba melihat ke sekeliling. banyak anak-anak yang sedang mengobrol disana.


Saat aku melihat-lihat ke sekeliling, pandangan ku terhenti pada satu orang. Aku terpukau


dengan seorang gadis yang duduk dikerumuni dengan teman-temannya. Dia tampak anggun


dengan rambut hitam terurainya. Aku terkesima dengan kecantikannya.


“wah~ Putri kamu gak pakai kacamata lagi ya” tanya Indah


“kamu pakai lensa kontak ya~ mata mu terlihat besar, kamu jadi imut banget~” puji Wulan


“hehehe…Iya. Aku mau coba sesuatu yang berbeda” jawab Putri


“oh~ namanya Putri toh” gumam ku


Aku pun mencoba menghampiri bangku kosong yang ada disebalah Putri. jantung ku


berdegup dengan kencang setiap kali aku memandang wajahnya. Dada ku sejenak terhenti ketika


melihat tawa indah Putri saat dia sedang mengobrol dengan temannya.


“anu…Putri, kursi ini kosongkan?” tanya ku gugup


“eh! Evan. Rupanya kita sekelas lagi ya” seketika wajah Putri terlihat sangat senang saat dia melihat ku


“sorry, aku gak sadar kalau kamu ada disini” Putri menyatukan kedua telapak tangannya


karena merasa bersalah


“iya. Kursi ini kosong kok” jawab Putri senang


“o oh…okay” aku merasa sangat gugup


“untunglah aku bersikap sok akrab tadi” batin ku. Aku pun duduk disebelah Putri


“kayaknya udah lama banget ya kamu gak datanng ke sekolah” ungkap Putri


“ya iyalah. Kan aku dirumah sakit udah sebulan” balas ku dingin


“heheheh… iya iya” Putri tampak senang dengan obrolan ini


“Jadi… kamu udah dengar tentang Aldi kah?” Tanya Putri


“belum” jawab ku datar


“begitu ya…” wajah Putri tampak murung


“sebenarnya… sekarang dia…” kata Putri terpotong


“EVANNN!” panggil Eri dengan semangatnya


Tempak Eri bersama dengan Anita berdiri di depan pintu kelas sambil melambaikan


tangan. Wajah mereka berdua sangat senang sekali saat melihatku dapat bersekolah lagi. Eri yang


tak dapat membendung rasa senangnya langsung berlari ke arah ku dan memeluk ku dengan erat.


“hem~ kenapa gak bilang-bilang sama aku dulu sih kalau kamu udah boleh pergi


kesekolah” Eri sangat ngambek


“argghh… lepasin” aku mencoba melepaskan pelukan Eri yang sangat kuat


Aku mencoba melepaskan pelukan Eri karena aku merasakan hawa pembunuh cowok-


cowok yang ada dikelas ini. mereka semua menatap tajam ke arah ku. Aku sampai bisa merasakan Parasaan iri dan dengki dari mereka karena aku sedang dipeluk sama Eri.


“cih! Kanapa cowok cupu seperti dia bisa dikerumuni sama cewek-cewek cakep kayak


mereka” kata wawan


“mana cewek-ceweknya popular semua lagi” Eko sangat kesal


“cih! Mati sana” umpat fadel


“aku sangat iriiiiiii!” Alan menggigit bajunya


Jika saja aku tidak buru-buru melepas pelukan Eri mungkin saat ini aku sudah tinggal nama


saja. Aura jones mereka memenuhi seisi kelas. Aku sampai dibuat merinding merasakan aura itu.


Disisi lain, wajah Eri sangat kesal karena aku melepas pelukannya tadi.


“kenapa? Kita kan sering melakukan ini waktu SD” kata Eri tidak terima


“itu kan kita masih SD. Sekarang kamu udah beeesarrr…” padangan ku terlaihkan oleh


dada besar milik Eri yang ditodongkan dihadapan ku hingga membuat ku tidak bisa fokus


“jadi kamu harus melakukan itu dengan orang yang kamu suka” sambung ku tersipu malu


“padahal orang yang ku suka itu kamu. Evan bodoh!” gumam Eri. Wajahnya tampak sangat


kesal