
Saat hendak menggunakan helm, aku bertanya kepada Anita. Dia sama sekali belum
memberitahuku tujuan kami pergi. Aku juga belum tahu kemana kami akan pergi.
“anu…sebenarnya kita mau kemana?” tanya ku menggaruk-garuk pipiku menggunakan
jari telunjuk
“kita akan pergi ke mall” jawab Anita bersemangat
“hah?” perasaan ku tidak enak
“anu… kita ngapain ke kesana?” tanya ku khawatir
“kenapa muka pucat begitu?” tanya Anita heran
“tenang aja~ kamu cukup temanin aku cari hadiah kok~” kata Anita menepuk pundak ku
“hadiah? Buat siapa?” tanya ku
“besok Aldi ulang tahun. Aku mau minta tolong sama kamu bantu aku cari hadiah yang
bagus untuk dia” kata Anita bersemangat
Seketika aku tertegun. Aku tidak menyangka aku dimintai tolong untuk melakukan hal
yang sangat menyakikat ini. cewek ini sangat kejam, dia gak mengerti apa sama perasaan ku? Aku
sudah susah payah menahan rasa sakit ini, tapi dengan mudahnya cewek ini menghancurkannya
begitu saja.
“anu sebenarnya aku udah minta tolong sama Eri, tapi dia sibuk hari ini. katanya ada hal
yang harus dia lakukan hari ini” kata Anita
“karena kamu teman dekatnya Aldi selain Eri, aku mau minta tolong sama kamu” kata
Anita canggung
“kamu pasti keberatan ya?” tanya Anita memelas
“maaf aku sudah egois dan bertindak seenaknya saja” Anita menyesal. Wajahnya tampak
murung dan dia menundudukan kepalanya
“cih! Hanya karena itu…dia sampai…”batin ku kesal
“jangan menunjukan wajah bersalah seperti itu! Kamu…kamu membuat ku seperti orang
jahat. Padahal aku yang seharusnya dikasihani disini! Tapi kenapa…kenapa… aku tidak bisa…”
batin ku bimbang
“tapi, ini bukan salahnya. Dia tidak tahu perasaan ku terhadapnya. Jadi wajar saja kalau
dia meminta tolong pada ku. Lagi pula aku sudah memutuskan untuk menempuh jalan ini, aku
tidak boleh mundur sekarang. aku harus menyelesaikannya sampai akhir!” batin ku
“enggak kok. Santai aja~” jawab ku tertawa ragu
“kamu bener kok. Kalian berdua adalah teman ku. Sudah seharusnya aku melakukan yang
terbaik untuk membantu seorang teman yang meminta bantuan ku” kata ku ragu
“dasar pembohong!” batin ku kesal pada diri ku sendiri
***
Mall
Akhirnya kami sampai di Mall. Sialan! Baru aja sampai, tapi kenapa aku bisa melihat aura
jahat menyelimuti tempat ini. tiba-tiba dompet di kantong ku merontak-rontak ingin lari dari
tempat mengerikan itu.
“shhh…diem dulu. Insyallah aku akan menjagamu sekuat tenaga ku. Jadi kumohon tenang
lah” kata ku pelan pada dompet ku
“kenapa Van?” tanya Anita
“eh! Enggak~ hehehe gak papa kok~” kata ku tertawa ragu
Kami pun masuk ke mall itu. Aku masih saja tidak bisa tenang didalam keramaian itu.
Kami berjalan melihat-lihat toko-toko yang ada disana. Setelah lama berkeliling, Anita tiba-tiba
“Van, mumpung aku disini aku mau coba beberapa baju. Kamu tunggu disini bentar ya~”
kata Anita genit
“…ya…” kata ku ragu
“wah~ anak sultan emang beda” batin ku kagum
Dia pun mengambil beberapa set baju. Saat dia hendak masuk ke ruang ganti baju, dia
tersenyum manis pada ku. Seketika jantung ku berdegup kencang. Ah sial! Dia sangat imut banget.
Setelah beberapa saat, dia keluar dari ruang ganti itu.
Terlihat paras cantik dan menawannya, Ia mengenakan pakaian putih polos putih yang
mirip sweter tipis dan rok merah pendek seukuran di atas lutut. Kupikir pakian itu sedikit terbuka.
“bagaimana?” tanya Anita bersemangat
“emm…menurut ku cocok” kata ku ragu.
Anita spertinya kurang puas dengan jawaban ku, hal itu dapat terlihat jelas dari wajahnya.
Dia pun kembali menutup tirai ruang ganti itu untuk mencoba baju yang lain. Tak berselang lama
dia muncul kembali dengan pesona yang berbeda.
Dia mengenakan baju biru lengan panjang dengan rok pendek kotak-kotak berwaran
merah. Kali ini terdapat tambahan topi bulat berwarna coklat menghiasi kepalanya. Dia tampak
sesekali memutar badannya untuk memperlihatkan pakaiannya.
“bagaimana dengan ini?” tanya Anita gugup
“kamu cocok banget!” aku mangacungkan jempol
Setelah beberapa kali dia menggonta-gati pakaian di depan ku, akhirnya dia bingung harus
memilih baju yang mana yang dia akan beli. Aku yang duduk di luar area baju perempuan itu, tiba-
tiba ditarik oleh Anita menuju ke tumpukan baju yang terlihat seperti gunung itu.
“Van, menurut mu aku harus beli yang mana? Apa aku beli semuanya aja ya?!” kata Anita
dilemma
“buset nih cewek! Masa iya dia mau borong semua nih baju” batin ku. Aku yang penasaran
dengan harga baju-baju itu, Aku mencoba melihat kertas penunjuk harga
“WHAT THE F*CK!” aku terkejut melihat harga satu bajunya.
Harga satu baju itu saja sudah setara dengan jumlah tabungan ku selama setahun. Ini dia
mau borong semua, gak salah nih? Aku yang gemetaran memegangi baju-baju itu tampak
berkeringat dingin. Anita tampak senyum-senyum sendiri sembari memilih-milih bajunya itu.
“anu…aku hanya kasih saran aja. Lebih baik kamu pilih satu baju aja yang paling kamu
suka” saran ku ragu
“hem… tapi aku suka semua. Gimana dong?” tanya balik Anita
“anu…itu…” aku bingung mau menjawab apa
“ah! Bagaimana kalau gini. Tadi kan kamu udah lihat aku pakai baju-baju ini. bagaimana
kamu aja yang milih. Mana yang menurut mu paling bagus?” mata Anita berseri-seri
“lah…kok malah tanya aku sih. Aku mana tahu yang begituan. Entar aku salah milih lagi”
batin ku
“em… yang ini aja deh. Aku lihat kamu cocok pakai yang ini” kata ku memilih acak.
“wah~ aku juga mikir yang ini paling bagus tadi. Sip! aku beli yang ini aja deh. Makasih
Van~” kata Anita senang
“I iya…sama-sama” kata ku ragu
“huf… untung aja dia suka” batin ku mengusap-usap dada