Love And Despair

Love And Despair
Sebuah Kado Untuk Dia



Saat hendak menggunakan helm, aku bertanya kepada Anita. Dia sama sekali belum


memberitahuku tujuan kami pergi. Aku juga belum tahu kemana kami akan pergi.


“anu…sebenarnya kita mau kemana?” tanya ku menggaruk-garuk pipiku menggunakan


jari telunjuk


“kita akan pergi ke mall” jawab Anita bersemangat


“hah?” perasaan ku tidak enak


“anu… kita ngapain ke kesana?” tanya ku khawatir


“kenapa muka pucat begitu?” tanya Anita heran


“tenang aja~ kamu cukup temanin aku cari hadiah kok~” kata Anita menepuk pundak ku


“hadiah? Buat siapa?” tanya ku


“besok Aldi ulang tahun. Aku mau minta tolong sama kamu bantu aku cari hadiah yang


bagus untuk dia” kata Anita bersemangat


Seketika aku tertegun. Aku tidak menyangka aku dimintai tolong untuk melakukan hal


yang sangat menyakikat ini. cewek ini sangat kejam, dia gak mengerti apa sama perasaan ku? Aku


sudah susah payah menahan rasa sakit ini, tapi dengan mudahnya cewek ini menghancurkannya


begitu saja.


“anu sebenarnya aku udah minta tolong sama Eri, tapi dia sibuk hari ini. katanya ada hal


yang harus dia lakukan hari ini” kata Anita


“karena kamu teman dekatnya Aldi selain Eri, aku mau minta tolong sama kamu” kata


Anita canggung


“kamu pasti keberatan ya?” tanya Anita memelas


“maaf aku sudah egois dan bertindak seenaknya saja” Anita menyesal. Wajahnya tampak


murung dan dia menundudukan kepalanya


“cih! Hanya karena itu…dia sampai…”batin ku kesal


“jangan menunjukan wajah bersalah seperti itu! Kamu…kamu membuat ku seperti orang


jahat. Padahal aku yang seharusnya dikasihani disini! Tapi kenapa…kenapa… aku tidak bisa…”


batin ku bimbang


“tapi, ini bukan salahnya. Dia tidak tahu perasaan ku terhadapnya. Jadi wajar saja kalau


dia meminta tolong pada ku. Lagi pula aku sudah memutuskan untuk menempuh jalan ini, aku


tidak boleh mundur sekarang. aku harus menyelesaikannya sampai akhir!” batin ku


“enggak kok. Santai aja~” jawab ku tertawa ragu


“kamu bener kok. Kalian berdua adalah teman ku. Sudah seharusnya aku melakukan yang


terbaik untuk membantu seorang teman yang meminta bantuan ku” kata ku ragu


“dasar pembohong!” batin ku kesal pada diri ku sendiri


***


Mall


Akhirnya kami sampai di Mall. Sialan! Baru aja sampai, tapi kenapa aku bisa melihat aura


jahat menyelimuti tempat ini. tiba-tiba dompet di kantong ku merontak-rontak ingin lari dari


tempat mengerikan itu.


“shhh…diem dulu. Insyallah aku akan menjagamu sekuat tenaga ku. Jadi kumohon tenang


lah” kata ku pelan pada dompet ku


“kenapa Van?” tanya Anita


“eh! Enggak~ hehehe gak papa kok~” kata ku tertawa ragu


Kami pun masuk ke mall itu. Aku masih saja tidak bisa tenang didalam keramaian itu.


Kami berjalan melihat-lihat toko-toko yang ada disana. Setelah lama berkeliling, Anita tiba-tiba


“Van, mumpung aku disini aku mau coba beberapa baju. Kamu tunggu disini bentar ya~”


kata Anita genit


“…ya…” kata ku ragu


“wah~ anak sultan emang beda” batin ku kagum


Dia pun mengambil beberapa set baju. Saat dia hendak masuk ke ruang ganti baju, dia


tersenyum manis pada ku. Seketika jantung ku berdegup kencang. Ah sial! Dia sangat imut banget.


Setelah beberapa saat, dia keluar dari ruang ganti itu.


Terlihat paras cantik dan menawannya, Ia mengenakan pakaian putih polos putih yang


mirip sweter tipis dan rok merah pendek seukuran di atas lutut. Kupikir pakian itu sedikit terbuka.


“bagaimana?” tanya Anita bersemangat


“emm…menurut ku cocok” kata ku ragu.


Anita spertinya kurang puas dengan jawaban ku, hal itu dapat terlihat jelas dari wajahnya.


Dia pun kembali menutup tirai ruang ganti itu untuk mencoba baju yang lain. Tak berselang lama


dia muncul kembali dengan pesona yang berbeda.


Dia mengenakan baju biru lengan panjang dengan rok pendek kotak-kotak berwaran


merah. Kali ini terdapat tambahan topi bulat berwarna coklat menghiasi kepalanya. Dia tampak


sesekali memutar badannya untuk memperlihatkan pakaiannya.


“bagaimana dengan ini?” tanya Anita gugup


“kamu cocok banget!” aku mangacungkan jempol


Setelah beberapa kali dia menggonta-gati pakaian di depan ku, akhirnya dia bingung harus


memilih baju yang mana yang dia akan beli. Aku yang duduk di luar area baju perempuan itu, tiba-


tiba ditarik oleh Anita menuju ke tumpukan baju yang terlihat seperti gunung itu.


“Van, menurut mu aku harus beli yang mana? Apa aku beli semuanya aja ya?!” kata Anita


dilemma


“buset nih cewek! Masa iya dia mau borong semua nih baju” batin ku. Aku yang penasaran


dengan harga baju-baju itu, Aku mencoba melihat kertas penunjuk harga


“WHAT THE F*CK!” aku terkejut melihat harga satu bajunya.


Harga satu baju itu saja sudah setara dengan jumlah tabungan ku selama setahun. Ini dia


mau borong semua, gak salah nih? Aku yang gemetaran memegangi baju-baju itu tampak


berkeringat dingin. Anita tampak senyum-senyum sendiri sembari memilih-milih bajunya itu.


“anu…aku hanya kasih saran aja. Lebih baik kamu pilih satu baju aja yang paling kamu


suka” saran ku ragu


“hem… tapi aku suka semua. Gimana dong?” tanya balik Anita


“anu…itu…” aku bingung mau menjawab apa


“ah! Bagaimana kalau gini. Tadi kan kamu udah lihat aku pakai baju-baju ini. bagaimana


kamu aja yang milih. Mana yang menurut mu paling bagus?” mata Anita berseri-seri


“lah…kok malah tanya aku sih. Aku mana tahu yang begituan. Entar aku salah milih lagi”


batin ku


“em… yang ini aja deh. Aku lihat kamu cocok pakai yang ini” kata ku memilih acak.


“wah~ aku juga mikir yang ini paling bagus tadi. Sip! aku beli yang ini aja deh. Makasih


Van~” kata Anita senang


“I iya…sama-sama” kata ku ragu


“huf… untung aja dia suka” batin ku mengusap-usap dada