
Di lain tempat tepatnya di dalam sebuah mobil. Aldi menerima telpon dari seseorang
sembari mengawasi Anita yang baru saja datang di toko kue Evan. Tampaknya Aldi sudah lama menunggu di tempat itu.
“bagaimana? Aku benar kan?!” kata orang dalam telpon itu
“ya…” jawab Aldi
“sudah kubilang mereka pasti akan bertemu disana. Mereka pasti sedang bersenang-senang
setelah mempermalukan mu” kata orang dalam telpon
“bib!’ Aldi seketika mematikan telponnya
Mata Aldi melotot saat melihat Anita dan Evan bertemu disana. Aldi termakan oleh
amarahanya sendiri dan kehilangan kendali atas pikirannya. Dia menancap gas penuh dan hendak
menabrak Anita dan Evan yang berdiri diluar toko itu.
Anita tampak sangat senang saat bertemu dengan Evan di luar toko kue itu. Dia berlari
menghampiri Evan yang sedang menunggunya di luar toko. Evan yang sadar ada mobil yang
melaju kencang ke arah Anita dengan spontan berlari menuju ke arah Anita dan mendorongnya.
wajah Anita tampak begitu terkejut saat dia didorong oleh Evan. Meskipun Evan sudah
berasaha sekuat tenaga, tetapi dia tidak memiliki cukup kekuatan untuk bisa mengindari mobil itu.
“ah…sial. Apakah aku bakal mati dengan cara begini? Padahala aku masih jomblo” batin
Evan
“BRAKK!” Evan tertabark mobil yang dikendarai Aldi dengan sangat kencang. Mobil Aldi
menabrak toko kue milik ibu Evan. Anita yang bangkit dari aspal seketiKa terkejut melihat Evan
yang tergeletak di aspal.
“KYAAAAAAA! EVANNNN!” Anita berlari menghampiri Evan. Dia mengangkat kepala
Evan dan menggoyang-goyangkan badan Evan
“Evan! Evan! Evan!” Anita berulang-kali memanggil namnya
Anita sadar ada sesuatu ditangannya. Saat dia memindahkan tangannya dari kepala Evan,
alangakah terkejutnya dia setelah melihat darah melumuri seluruh telapak tangannya. Darah
mengalir keluar dari belakang badan Evan.
“KYAAAAA!” Anita berteriak histeris
Semua orang mengerumuni mereka berdua. Ibu Evan mencoba menerobos kemurumunan
itu. Ibu Evan sangat terkejut saat melihat kondisi anaknya itu.
“BAGASSSS! CEPAT BAWA MOBIL KE RUMAH SAKIT!” perintah Ibu Aldi kepada
“I iya bu!” jawab Bagas
Evan pun dibawa kerumah sakit menggunakan mobil milik ibu Evan. Evan berbaring diatas
pangkuan Anita yang tak henti-hentinya menangis. Air mata Anita menetes membasahi wajah Evan yang tak sdarkan diri.
“ah…kenapa… aku bisa…. ada dipangkuan mu?” kata Evan lemas
“EVAN!” Anita terkejut
“sudah jangan banyak bicara dulu!” perintah Anita histeris
“ja jangan…me menangis…” Evan berusaha menghapus air mata Anita. Tangannya
bergetar saat hendak mencapai wajah Anita. Anita pun langsung memegang tangan Evan.
“maaf…hiks…” Anita menangis
“I ini…bukan salah mu…” kata Evan lemas
“Evan! Aku mencintai mu!” kata Anita menangis
“ya…aku juga mencintai mu…” tatapan Evan mulai kosong
“a aku… mau tidur sebentar… kepala ku….sakit banget…” Evan memejamkan matanya
“EVAN!” Anita histeris
“BAGAS! GAK BISA LEBIH CEPET LAGI APA BAWA MOBILNYA?” teriak Ibu Evan
“ini udah ngebut bu!” jawab Bagas
Setelah sampai di rumah sakit, Evan langsung dibawa keruang IGD. Setelah melihat
kondisi Evan yang sekarat Dokter pun langsung membawa Evan ke ruang oprasi. Anita dan Ibu
Evan menangis Sepanjang mendorong ranjang itu ke ruang Oprasi.
Mereka pun disuruh menunggu di luar ruangan oprasi. Anita dan Ibu Evan terus saja
menangis sambil menunggu hasil yang terbaik dari orang yang mereka sayangi.
“tante…hiks….maafkan saya tante…hiks” Anita bersujud didepan ibu Evan
“eh! Udah…gak usah sujud begini” ibu Evan terkejut
“gara-gara saya…hiks…gara-gara saya…Evan sampai…” Anita menangis tersedu-sedu
“kamu pasti temannya Evan kan? Tante gak tahu bagaimana anak tante bisa sampai
kecelakan seperti itu. Bisa kamu tolong jelaskan sama tante?” tanya ibu Evan
“sebenarnya Evan mencoba menyelamatkan saya dari mobil yang hendak menabrak saya.
Saya juga gak tahu kenapa mobil itu bisa mau menabrak saya, tapi karena itu…Evan
sekarang…hiks” Anita tak sanggup meneruskan perkataannya