
Keesokan harinya, aku membawa Putri ke toko kue milik ibu. Putri menjelaskan semua masalahnya pada ibu ku. Pada awalnya ibu ku sempat ragu untuk menerimanya sebagai pegawai, namun karena kasihan melihat latar belakang keluarga Putri akhirnya ibu ku mau menerima Putri sebagai pegawainya. Namun, ibu ku tetap tidak mau meminjamkan uang pada ku untuk membantu melunasi hutang Putri.
“Anu… makasih ya Van. Maaf, aku selalu merepotkan mu” kata Putri canggung
“Dasar lebay~ biasa aja kali. Kamu kan juga udah sering membantu ku, udah sewajarnya kan aku membantu mu” aku tersenyum lebar padanya.
“I-iya…” Putri tersipu malu. Wajahnya terlihat sangat merona
Hari-hari ku bekerja bersama Putri pun dimulai. Kami saling menyapa dan mengobrol saat istirahat didapur. Bercanda dan bersenda gurau untuk mengisi waku luang kami. Hari-hari menyenangkan di toko kue itu sangat berharga.
Terkadang, sesekali aku membawakan makanan malam yang kubuat dari rumah untuk Putri yang masih kerja hingga malam. tak jarang pula teman-teman kerja ku sering meledek ku berpacaran dengan Putri.
“Cuwit-cuwit~ ada yang lagi bawakan makanan buat pacarnya nih…eaaaa!” goda Bagas
“Enaknya… masa muda~ aku jadi pengen kembali ke masa-masa itu” kata Jefri
“Mana nih makanan kami? Kok gak dibawakan hahaha” goda Hengki
“Apaan sih… lanjut kerja sana” kata ku malu
“Hihihi…makasih ya” Putri tertawa kecil. Meski begitu dia sangat senang karena diriku selalu perhatian padanya
Seiring berjalannya waktu, tumbuh perasaan cinta dihati Putri. Sebenarnya sudah sejak lama Putri memiliki perasaan ini pada ku, namun dia tidak yakin dengan perasaannya itu. Akan tetapi, kini dia benar-benar yakin dengan perasaannya ini.
Akhir-akhir ini Putri selalu menghindar saat bertemu dengan ku. Hatinya berdegup kencang setiap kali melihat wajah ku. Ada suatu ketika aku membantu Putri yang sedang mencuci piring. aku tidak sengaja menyentuh tangan Putri yang hendak memberikan Loyang
yang sudah dibersihkan, Putri yang kaget pun langsung melepaskan pegangannya dan membuat Loyang itu jatuh.
“Ma-maaf…aku gak sengaja” kata Putri gugup
“Gapapa” kata ku
Saat Putri hendak mengabil Loyang itu, lagi-lagi dia tak sengaja menyentuh tangan ku. Putri yang terkejut pun bergerak tiba-tiba dan membuat kepala mereka berdua saling berbenturan. aku sangat heran dengan tingkah Putri akhir-akhir ini.
“Aduh… sebenarnya kamu ini kenapa sih?” tanya ku mengusap-usap keningnya
“Aduh…eh! Anu…gak papa kok” jawab Putri gugup
“Iiih… aku kenapa sih~” batin Putri
***
Sudah sebulan setengah Putri bekerja di toko kue milik ibu ku. Akhirnya Putri bisa membayar hutangnya “yah… meskipun aku juga ikut membantu membayarnya”. Putri bersi keras untuk mengembalikan uang yang telah kuberikan padanya, namun aku menolaknya. Bagi ku, asal Putri tidak bersedih lagi itu sudah cukup bagi ku.
“Kenapa kamu begitu peduli dengan ku?” tanya Putri
“Kamu sudah banyak berkorban untuk ku, sudah cukup dengan semua ini. setidaknya aku tidak ingin merasa berutang budi lebih dari ini. biarkan aku membayar uang yang telah kamu pinjam kan pada ku” ungkap Putri
“Karena kamu teman ku satu-satunya yang dapat ku percaya. Bagi diriku yang sekarang, kamu adalah teman yang berharga” aku mengusap-usap kepalanya
“Kalau kamu ngerasa berutang budi sama aku, maka kamu harus giat kerja disini” kata ku tersenyum lebar
“Bo-bodoh!” Putri tersipu malu
***
Hari itu, aku meminta Putri datang kerumah ku. Aku berencana untuk mengajarinya cara membuat kue, aku ingin dia bekerja didapur bersama ku dan meninggalkan posisinya yang sekarang sebagai tukang bersih-bersih.
“Ayo Put, masuk aja” sambut ku
Aku mengajarinya membuat adonan kue, ternyata Putri cukup terampil dalam hal ini. dia menyelimuti tangannya dengan dengan tepung. Tangan mungil yang biasa dia gunakan untuk menghajar ku terlihat sangat anggun saat membentuk adonan kue.
“Sudah… jangan perlakukan aku seperti ini…”
“Jangan buat aku merasa seperti orang istimewa”
“Kenapa kamu melakukannya sampai sejauh ini… hanya untuk orang seperti ku?” Tiba-tiba tangan Putri berhenti Saat dia sedang mengaduk-aduk adonan itu.
“Sudah, cukup! Aku udah gak tahan lagi”
“Evan!” panggil Putri
“Ya…?” jawab ku
“Se-sebenarnya…se-sebenarnya….” Putri sangat gugup. Aku hanya metap Putri dengan perasaan penasaran
“Argh…” Putri kesal
“Se-sebenarnya! Aku menyukaimu…Evan!” ungkap Putri. Aku sangat terkejut mendengar pengungkapan tiba-tiba ini, aku pun mencoba menengkan diri dan memberikan jawab ku padanya.
“Akhirnya… aku mengatakannya” batin Putri
“Begitu ya…” kata ku menatap Putri sangat dalam
“Aku sangat senang mendengarnya…” kata ku tersenyum padanya
“Tapi… aku minta maaf. Aku sudah mencintai gadis lain” jawab ku
“Iya juga ya… aku tahu kok” Putri sangat kecewa dengan jawaban ku
“Apa… kamu mencintainya lebih dari aku?” tanya Putri
“Ya…” aku tersenyum
“Ah… aku ditolak” mata Putri berkaca-kaca
Dia sudah tidak bisa membendung air matanya lagi. Air matanya metes jatuh ke dalam adonan kue. Dia menangis dengan sangat keras, aku berjalan pelan mengahmpirinya. Aku mengusap-usap kepalanya dengan pelan dan tersenyum padanya.
“Kenapa? Kenapa aku menangis? Padahal aku sudah tahu akhirnya akan seperti ini?!” Putri terus saja menangis
“Kamu harus bertanggung jawab!” Putri bersandar di dadaku dan dia memukul-mukul kecil dada ku. Aku hanya bisa diam membisu melihatnya menangis seperti ini.
“Kamu…kamu tidak bisa begitu saja masuk ke dalam hidup ku, membuat ku merasa nyaman dan menolak ku begitu saja…” Putri menarik baju ku sembari menangis di atas dadaku
“Maaf…” hanya itu yang bisa ku ucapkan
“Evan bodoh!” Putri kesal
“Kalau begitu…” Putri tiba-tiba mencium ku. Aku pun terkejut dan tidak bisa bergerak sama sekali. Putri berjinjit untuk meraih ku dan dia meremas baju ku pelan. Dia menangis sembari mencium ku
“Aku mencintai mu, sebagai seorang teman” ungkap Putri
Setelah itu, dia berlari keluar dan pergi begitu saja. Aku hanya bisa berdiri melihatnya berlari meninggalkan ku. Aku tidak memiliki alasan untuk mengejarnya. Sesampainya di rumah, Putri trus saja menangis, dia terbayang saat-saat menyenang bersama diriku.
Hari-hari dia berduan dengannya di hotel, melihat tingakah konyol ku, bekerja bersama di toko kue, dan ciuman pertama sekaligus terakhirnya dengan diriku. Putri sangat menyesal telah mengungkapkan perasaannya pada Evan.
“Kalau tau rasanya akan sesakit ini, aku tidak akan pernah mengatakannya…hiks…”