
“Fyuh… akhirnya selesai juga” aku mengusap keringat di kening ku
“Iya…akhirnya selesai juga…” sambung Anita
“Sorry ya kalau hasilnya gak sesuai dengan yang kamu inginkan soalnya aku payah banget kalau urusan beginian” kata ku menyesal
“Em… em…” Anita menggelengkan kepalnya pelan
“Gapapa kok…ini aja udah bagus banget” kata Anita menyemangati ku
Aku membalikan badan ku kearah Anita, Anita pun ikut membalikan badannya. Mata kami saling bertemu dan menatap begitu dalam satu sama lain. Dada ku berdegup dengan kencang, mulut ku seperti tidak ingin terbuka untuk mengeluarkan isi hati ku.
Aku kumpulkan semua keberanian yang ku miliki. Aku tidak pernah merasa semalu dan segugup ini sebelumnya. Tapi aku sudah berjanji untuk mengatakan perasaan ku yang sesungguhnya pada orang itu. Jika aku tidak mengatakannya sekarang maka dia pasti akan sangat marah pada ku.
“Anu…Anita, ada hal ingin aku katakana pada mu” kata ku gugup
“Maaf… tapi aku enggak bisa” jawab Anita dingin. Aku pun terkejut dengan balasan darinya
“Hei… aku bahkan belum mengatakannya. Kok tiba-tiba aku dah ditolak duluan. Apa alasannya?” tanya ku panik
“Kita gak bisa bersama Van…” jawab Anita
“Apa? Apa karena kamu membenci ku?” tanya ku panik
“Em…em…” Anita menggeleng pelan
“Aku sama sekali tidak membenci mu… malah sebaliknya” ungkap Anita
“Jadi…?” tanya ku sekali lagi. Anita hanya membisu
“Apa karena kamu takut aku akan mendapat masalah jika terus bersama mu? Apa kamu takut kalau kejadian yang sama akan terulang lagi?” tanya ku histeris
“Apa kamu tahu? Sebenarnya aku sangat malu mengatakan ini…rasanya aku ingin mati saja. Tapi…bahkan aku belum menyelesaikan kalimat ku, kamu sudah menolak ku dan kamu berkata kamu menyukai ku…” kata ku kesal
“Aku mencintai mu lebih dari apapun. Aku tidak peduli dengan orang yang meneror mu… aku tidak peduli dengan gossip tentang mu…. Aku hanya mencintai mu Anita! Kumohon… jawablah dengan jujur” aku memegang pundak Anita
“Kamu tidak mengerti!” kata Anita
“Apa? Aku enggak bakal mengerti kalau kamu gak mengatakannya langsung” kata ku
“A-aku…aku…” Anita mulai menangis
“Hiks…hiks…aku juga mencintai mu…Evan..hiks” ungkap Anita menangis
“Tapi, aku takut… aku takut melihat mu berlumuran darah seperti itu lagi… aku tidak ingin orang yang kucintai mati gara-gara aku” kata Anita. Aku memeluk Anita dengan erat. Anita menangis dengan keras di atas dadaku
“Maaf sudah membuat mu khawatir… aku janji hal itu gak bakal terjadi lagi” kata ku mengusap-usap kepala Anita
Setelah Anita cukup tenang, dia mengusap air matanya. Setelah itu Anita pergi untuk mengambil tasnya, dia mencari-cari sesuatu didalam tasnya. Setelah lama mencari akhirnya dia menunjukan benda itu pada ku.
“Gelang itu…” kata ku
“Iya… selama ini aku membawa gelang ini kemana-mana. Ini adalah gelang yang pernah aku beli bersama mu. Sebenarnya aku membeli gelang ini bersama mu untuk kita kenakan bersama” ungkap Anita tersipu malu
Tiba-tiba kepala ku terasa sakit sekali saat melihat kami berdua menyandingkan gelang kami bersama. Beberapa ingatan masuk secara tiba-tiba, gambaran aku yang sedang jalan bersama dengan Anita di mall dan gambaran Anita menunjukan gelang itu pada ku terlihat samar-samar.
“Kenapa Van?” tanya Anita cemas
“E-enggak…enggak papa kok” jawab ku
Wajah Anita seketika merona saat melihat ku. hati ku tersentak saat melihat sisi imut dari Anita. Entah mengapa timbul perasaan ku ingin mencium Anita. Perlahan aku membungkukan badan ku dan mendekatkan wajah ku padanya, dada ku berdegup dengan sangat kencang.
Kami berciuman di dalam kelas yang hening itu, waktu terasa hanya milik kami berdua. Anita memeluk ku dengan sangat erat, aku juga memeluk Anita dengan sangat erat. Anita memainkan bibir lembutnya dengan sangat baik, aku pun membalas ciuman Anita yang liar itu dengan hal yang sama hingga membuat badannya gemetaran. Dia meremas belakang baju ku dengan sangat kuat karena merasa nikmat. Rasa manis dari bibir Anita membekas di bibir ku. seleteh kami berciuman, wajah Anita sangat merah dan dia sangat malu.
“Akhirnya…kita resmi pacaran ya” kata Anita malu
“I-iya…hehehe” kata ku malu
Hari sudah semakin sore dan matahari hampir terbenam. Kami pun memutuskan untuk pulang bersama. Disaat berjalan dilorong, kami berdua merasa sangat canggung karena Kami berdua masih mengingat ciuman panas di kelas tadi. Perlahan aku menyentuh tangan Anita dan Anita pun membalasnya dengan menggenggam tangan ku. kami bergenggaman tangan sepanjang jalan.
Saat kami sampai di tempat parker aku merasa ada sesuatu yang kurang. Aku pun mencoba mengingat dengan keras apa hal yang sudah aku lupakan itu. Aku merasa punggung ku terasa ringan, lalu aku merba punggung ku. aku pun baru ingat kalau aku melupakan task u.
“Alamak! Aku lupa tas ku ketinggalan di kelas” batin ku
“Kenapa Van?” tanya Anita
“Anu… An, kamu pulang dulu aja deh. Aku mau balik ke kelas dulu, tas ku ketinggalan di kelas” kata ku
“Gitu ya… ya udah kalau gitu. Aku pulang dulu ya” Anita pamit
“Ya…hati-hati dijalan” kata ku
“Ya” jawab Anita
Aku pun berlari menuju kelas ku dan mengambil tas ku. setelah aku mendapatkan tas ku, aku pun bergegas menuju tempat parkiran, namun saat aku tengah diperjalanan aku mendengarpercakapan beberapa gadis di dalam kelas. Aku yang penasaran pun mendekati kelas itu dan diam-diam menguping pembicaraan mereka.
“Kayaknya aku kenal mereka deh. Kalau gak salah mereka yang disebut pasukan terlanjur
cinta” aku mencoba menguping pembicaraan mereka dari balik dinding
“Aduh… gimana nih? Aku takut banget. Ini kita udah kelewatan loh” kata Dewi ketakutan
“Iya nih… aku takut kalau dilaporin ke polisi sama Anita” kata Lia ketakutan
“Ma-mau bagaimana lagi kan?! Kita dalam posisi gak bisa menetang dia. Selama dia masih punya foto itu kita gak bisa ngapa-ngapain” kata Lulu pasrah
“Andaikan…andaikan saja kita bisa menghapus foto itu…kita gak bakal berada diposisi ini” kata Dewi kesal
“Iya… semua ini gara-gara dia! Dasar psikopat gila!” sambung Lia
Aku tiba-tiba masuk kedalam kelas dan ikut bergabung dalam pembicaraan meraka
“Bisa jelaskan lebih detail siapa yang kalian maksud dengan dia?” pinta ku. wajah ku terlihat sangat serius sekaligas marah