
Lorong yang tampak biasa saja dan dipenuhi dengan hiruk pikuk anak-anak seusia ku mengobrol tentang indahnya masa muda yang dipenuhi kisah cinta seperti film romance comedy yang sering mereka tonton, membuatku seperti orang asing yang berjalan melewati mereka dengan tenang dan penuh diam. Kaki ku terus melangkah menuju kelas yang tampaknya sudah tak jauh dari sana, tiba-tiba seseorang menabrak ku dari depan. Aku memiliki keseimbangan yang kuat sehingga hal kecil itu tak membautku terjatuh, lain halnya dengan orang yang menabrak ku, dia mengaduh kecil dan terjatuh, ternyata dia seorang perempuan.
“apa kau tidak apa-apa?” tanya ku sambil mengulurkan tanganku kepada perempuan itu.
“a-aku tidak apa-apa” jawab perempuan itu.
Saat aku melihat wajahnya yang begitu cantik itu, aku langsung terpaku. Pandangan ku tak teralihkan darinya, sedikitpun tak berkedip. Perempuan itu bangkit dan tiba-tiba mendekatkan wajahnya kepadaku. Semakin dekat hingga aku bisa merasakan nafasnya di wajah ku. Aku hanya bisa terdiam dan membiarkan adegan yang romantis ini mengalir begitu saja. Wajahnya semakin dekat dengan ku, hingga akhirnya bibir perempuan itu sampai di telingaku, dia membisikan sesuatu kepadaku.
“Evan~… sudah siang sampai kapan kamu mau tidur” bisik perempuan itu menggoda
TRINGGGG…..TRINGGGG…..TRINGGG.
bunyi jam alaram HP ku
Seketika aku membuka kedua mataku dengan penuh kesal. Pemandangan yang pertama kali ku lihat adalah langit-langit kamar ku. Yah….aku sudah tahu kalau adegan super roamntis dan klise tersebut mana mungkin aku bisa dapatkan. Tampang menyeramkan dan tidak ramah lingkungan begini ingin berharap ada cewek cakep tiba-tiba suka padaku itu mustahil. Kecuali kalau author yang seenak jidatnya ini memperbaiki wajah ku jadi cogan mungkin aku bakal mempertimbangkannya dan cerita romance comedy ku bakal berjalan lancar.
Aku hidup berdua dengan ibu ku yang seorang pekerja kantoran yang sering pulang lembur. Setiap hari aku selalu berangkat sekolah tanpa berpamitan dengannya, aku merasa tidak enak untuk membangunkannya hanya untuk berpamitan berangkat sekolah. Aku ingin dia bisa istirahat dengan nyenyak.
Seperti biasa, aku berangkat sekolah dengan mengendari motor metik ku, jalan aspal yang penuh lubang yang melatih kelincahan ku, kepadatan kendaraan dan lampu merah yang seakan gak bakal warna hijau itu sudah menjadi santapan pagi ku pengganti sarapan. Aku penasaran, apakah ini kompirasi yang dibuat oleh pemerintah agar meningkatkan tingkat kesabaran masyarakat dalam menghadapi kerasnya kehidupan.
Engagk~ enggak~ yang ada malah tambah stres di pagi hari. Tapi entah mengapa aku merasa hari ini sedikit berbeda dari hari biasanya. Ditengah perjalanan, aku melihat ada seorang cewek berseragam sekolah yang sepertinya motornya mogok. Aku pun melawatinya begitu saja, tapi… setelah beberapa saat aku berkendara perasaan tidak nyaman ini menggangu ku terus. Akhirnya aku pun putar balik dan mengahampiri cewek tersebut.
kenapa motornya?” tanya ku
“gak tau nih, tiba-tiba motonya mati ditengah jalan dan gak mau hidup” jawab si cewek
“aku gak tau apa-apa soal mesin, apa aku bawa ke bengkel aja ya” batin ku
“ayo kubantu dorong sampai bengkel di depan” tawar ku
“gak papa nih….nanti kamu terlambat masuk sekolah” si cewek merasa sungkan
“gak papa” jawab ku pendek
“iya deh….makasih banyak ya” kata si cewek
Setelah membantu si cewek sampai ke bengkel, aku pun menawarkan untuk ikut dengan ku menuju sekolah. Aku bertanya di mana sekolahnya, karena aku melihat seragam sekolahnya berbeda dengan ku. Si cewek itu menjawab bahwa sekolahnya adalah di SMA X, rupanya sekolahnya sama seperti aku, mungkinkah anak ini adalah anak pindahan?
Baru kali ini aku membonceng seorang cewek. Aku jadi merasa gugup dan canggung. Di perjalanan, kami tidak mengeluarkan sepata kata pun, Hanya diam. Meskpiun aku sering membonceng teman masa kecil perempuan ku, tapi baru kali ini aku membonceng cewek lain selain dia. Hati ku tak tenang, jantungku berdegup dengan kencang seakan mau copot dari tepatnya. Mimpi apa semalam si author, kok tiba-tiba kasih adegan romantis kayak gini sama aku.
Setibanya di sekolah, kami berpisah. Tak lupa dia mengucapkan terimakasih padaku. Aku berjalan semakin menjauh, dia tampak melambaikan tangan sambal tersenyum padaku. Aku menuju ke kelas ku dan dia pergi keruang guru. Aku duduk di bangku paling belakang, tempat dimana aku bisa dengan leluasa menjadi diriku tanpa ada gangguan orang lain, hanya aku dan bangku ku. hanya kami berdua, itulah yang kupikirkan.
Tiba-tiba dari arah yang tak terduga muncul seorang perempuan manis dan penuh semangat berteriak pada ku.
“pagiiii!!!! Evannn!!!” teriaknya sambil memukul punggungku dengan keras.
“argh….sakit woi!” teriak ku kesakitan
“hehehe seperti biasa evan lemah, matanya pun kayak ikan mati. Pasti kamu habis berdagang lagi kan~” ejeknya
Perempuan yang dari tadi mengganngu ku ini adalah Eri, dia adalah teman masa kecil ku. Kami sudah berteman sejak masih SD. Dia adalah anak yang periang dan selalu menempel padaku. Mungkin cuman dia satu-satunya perempuan yang mau berteman dengan ku.
“eh evan, sudah dengar kalau bakal ada anak pindahan yang masuk kekelas kita?!’ tanya Eri
“aku baru dengar ini dari mu” jawab ku dingin
“hmm….seperti biasa kamu nih kudet bin kuper, makanya cari teman sono~….jangan pacaran mulu sama bangku jelek mu itu” ejek Eri
“ya ya ya… terserah kamu mau bilang aku ini apa” kata ku malas
“lagian kenapa sih pagi-pagi gini ribut hal gak penting seperti itu” cetus Evan
“hu…hu…..gak seru” ejek Eri
“otw, Aldi kok belum datang ya….apa dia masih ikut perlombaan?” sambung Eri
“yang betul tuh btw….,yah mungkin gak lama lagi dia bakal balik lagi” jawab ku agak kesal
Ting…..tong…..
Suara bel pertanda jam pelajaran pertama telah berbunyai. Semua siswa kembali ke kursi masing-masing. Suara langkah kaki yang menggunakan sepatu hak tinggi yang sampai membuat para siswa laki-laki terdiam tak bernafas. Keringat perlahan bercucuran diantara para laki-laki. Keheningan memenuhi kelas itu. Sampai tibalah sosok yang ditunggu-tunggu, guru b. Indonesia yang juga merupakan wali kelas kami, ibu Susti.
“-huhhhhhh!!! Ahhhhhh!!! Waaaaa!!!” teriakan para siswa laki-laki memecahkan keheningan, ya….kecuali aku.
Guru dengan paras yang cantik dan masih muda, siapa coba yang tidak tergoda, pikir siswa laki-laki yang ada di kelas ku. Dia adalah sosok guru yang sangat menawan dan menjadi idola tersendiri bagi para siswa laki-laki dan juga guru laki-laki. Seketika para siswi memandang jijik anak laki-laki yang ada di kelasku.
“dasar para cowok menjijikan…..apakah kalian tidak bisa diam” kata Siska
“hahhh…..apa kau punya masalah dengan kami, kamu iri ya gak ada yang mau pacaran sama kamu….” Jawab Budi
“hah…..” kesal Siska
“sudah….sudah…. jangan ribut~. Ibu bawakan kalian teman baru baut kalian~. Silahkan masuk” kata bu Susti lembut
Suara yang lebut itu membuat luluh hati para anak laki-laki yang ada di kelasku. Dengan senang hati pun para anak laki-laki itu diam dan menuruti perkataan ibu susti. Setelah keheningan itu, sesosok anak perempuan yang cantik dengan rambut terurainya masuk ke kelas kami. Pandangan ku yang sedari awal tak teralihkan oleh buku yang sedang ku gambar dengan pencil mulai teralihkan hanya dengan kehadirannya. Betapa terkejutanya aku melihat siapa yang datang.
“a apa-apaan adegan klise ini….!” Batin ku
“adegan klise yang dimana sering dijumpai dibeberapa film atau pun novel dimana pertemuan pertama sang pemeran utama dengan seorang gadis yang tak terduga dan tak disangka-sangka dia adalah anak pindahan yang masuk ke kelas yang sama dengan ku…..apakah si author kehabisan ide wkwkwk” ejek ku dalam batin
“baiklah….coba perkenalkan dirimu” kata bu Susti
“baik bu….nama saya Anita Wulan Sari….teman-teman saya biasa memanggil saya dengan sebutan An atau Ani” kata Anita
Seketika para cowok terpesona dengan kecantikan dan keimutan seorang Anita.
“hiks….hiks….akhirnya ada cewek beneran dikelas kita” tangis para cowok
“HAHHH!!! Apa maksudmu?!” teriak Siska
“sudah~ sudah~” kata bu susti gugup mencoba menenangkan para siswa
“Anita, kamu bisa duduk disebelh evan” kata bu susti
“baik bu” jawab Anita
Anita berjalan mendekati bangku kosong yang ada disebelah ku. Dia duduk dengan anggun. Rambut hitamnya yang panjang terurai dan berkilap itu membuat siapa saja akan terpesona. Dia menoleh ke arah ku, tersenyum kepadaku. Entah mengapa hati ku sedikit berdetak kencang saat melihat senyumannya.
“salam kenal, aku Anita” salamnya
“a ah….iya salam kenal, aku Evan” jawab ku gugup
“duhh bego banget sih. Sampai belepotan kek gitu” batin ku
Pelajaran pun dilanjutkan seperti biasa.