
Sejak awal datang, Anita hanya berdiri menatap ku sambil tersenyum manis. Dia
membuatku sangat gugup, apalagi dia pernah mengatakan kalau dia mencintai ku. Aku tidak tahu
apa sebenarnya hubungan ku dengannya, tapi sepertinya Anita dan diriku yang dulu saling
mencintai.
“syukurlah kamu udah boleh pergi kesekolah” kata Anita tersenyum manis pada ku
“I iya” jawab ku gugup
“heh! Siapa bilang kamu boleh ngobrol sama Evan-ku” kata Eri kesal
“hah? Evan-mu? Sejak kapan Evan jadi milik mu? Aku gak ingat tuh” balas Anita
“dari dulu lah. Kamu aja yang tiba-tiba datang dari planet mars tau-tau mau ngerebut Evan
dari ku” umat Eri
“hah? Dasar cewek ke pede-an. Cuman modal title teman masa kecil aja udah sok-sok-an”
balas Anita
“Biasanya nih ya, teman masa kecil kayak kamu didalam film-film gak berumur panjang
dan berakhir ditolak sama protagonisnya” ejek Anita
“hah? Kamu ngajak ribut ya?” Eri tambah marah
“kalau iya emangnya kenapa?” balas Anita
Suasana dikelas itu semakin memanas. Di satu sisi Eri dan Anita sedang bertengkar hebat
didepan ku, disisi lain para cowok-cowok kelihatan sangat marah dan siap menghajar ku. Bahkan
ada yang membawa sebuah balok kayu untuk memukul ku. Putri yang sudah tidak tahan dengan
tingkah laku kekanak-kanakan Eri dan Anita tiba-tiba mendorong mereka berdua keluar dari kelas.
TRINGG TRINGG
“udah~ udah~ jangan bikin keributan dikelas orang. kalian dengar tuh, bel udah bunyi”
Putri mendorong punggung Eri dan Anita
“fyuh….selamat~ aku harus membalas kebaikan Putri suatu hari nanti” kata ku
Jam istirahat telah tiba. Aku tidak tahu apakah diriku yang dulu sering ke kantin seperti
anak pada umunya atau dia hanya menghabiskan waktunya didalam kelas. Aku masih belum
mengetahui seperti apa diriku yang dulu. Saat aku sedang bimbang, Putri mengajak ku
keperpustakaan.
“ayo Van kita perpus sama-sama” ajak Putri
“eh, iya” jawab ku
“tidak kusangka rupanya diriku yang dulu ini orangnya rajin ya. Dia selalu membaca buku
diperpus bareng gadis ini” batin ku
“tidak hanya cantik tapi gadis ini ternyata rajin juga” batin ku. Padahal diriku yang
sekarang tidak tahu betapa bodohnya kami berdua sampai-sampai remidy berkali-kali saat ujian
Kami pun sampai di perpustakaan sekolah. tempat paling sepi disekolah ini, bahkan aku
tidak melihat satu anak pun yang duduk membaca buku disini. Aku pun langsung mengambil satu buku secara random agar aku terlihat rajin, padahal aku sendiri tidak tertarik dengan buku itu.
“loh! Van, kok tumben gak tidur. Biasanya kamu tidur disini kan?” Putri merasa heran
dengan tingkah laku Evan
“duh! Mampus aku. Rupanya Diriku yang dulu ini cuman anak pemalas yang cari tempat
tidur di perpus toh” batin ku. Aku terkejut sekaligus merasa sangat gugup
“eh…ini…anu…. Aku cuman lagi pengen baca buku ini aja hehehe. Aku lihat buku ini
sangat menarik, makanya aku mau coba baca” jawab ku gugup
“oh…” Putri mulai menaruh curiga padaku
“semoga gak ketahuan….semoga gak ketahuan” batin ku panik
Aku pun duduk disebuah bangku panjang. Aku membaca buku yang kuambil secara
random itu. Saat aku tengah asik membaca, tiba-tiba Putri duduk disebelah ku. Dia sangat dekat hingga membuatku gugup.
“jadi, mau sampai kapan kamu berbohong seperti ini?” tanya Putri