Love And Despair

Love And Despair
Teman Rahasia Dan Masa Lalu



“apakah dia menyadarinya? Apa aku udah ketahuan?” batin ku


“tenanglah… mungkin dia hanya menebak aja. Aku harus bersikap biasa. Jangan gugup!”


pikir ku


“apa yang kamu katakan? Aku gak paham?” kata ku gugup


“Evan yang ku kenal tidak akan langsung tahu kalau aku ini Putri dengan penampilan ku


yang sekarang, karena Evan tuh orangnya pelupa” kata Putri. Wajahnya tampak sangat serius


Aku tertegun, aku tidak tahu apapun dari diriku yang dulu. Padahal aku ingin


menyembunyikan amnesia ku sedikit lebih lama lagi, tapi hal itu sepertinya tidak bisa dilakukan lagi. Padahal aku berniat untuk tidak ketahuan agar tidak membuat sedih Anita dan Eri yang selalu menjenguk ku waktu sakit, tapi semuanya sudah berakhir. “sebenarnya seperti apa diriku yang dulu?”


“kenapa diem? Berarti aku bener, kan?!” kata Putri


“jadi, siapa kamu sebenarnya?” tanya Putri. Wajahnya sangat seirus


“sebenarnya aku hilang ingatan” jawab ku murung


Seketika Putri terdiam. Dia sangat terkejut setelah mendengar jawaban ku itu. Setelah


beberapa saat dia mencoba menenangkan diri dan bersikap tenang dalam menghadapi situasi ini. setelah menarik nafas panjang, akhirnya Putri kembali menanyai ku.


“trus mau sampai kapan kamu mau melanjutkan kebohongan ini?” tanya Putri


“entahlah, aku juga gak tau. Mungkin sampai seterusnya” jawab ku ragu


“gak baik loh kalau kamu bohong seperti ini terus. Kasian teman-teman yang lain” kata


Putri sedih


“aku tidak ingin membuat mereka mereka kecewa dan khawatir dengan diri ku yang dulu. Yang bisa ku lakukan hanya mencoba bersikap seperti diriku yang dulu” jawab ku mencoba tegar


“meskipun ini kebohongan, tapi ini untuk kebaikan semua orang. jadi, kupikir kebohongan adalah kebaikan” sambung ku


“tapi suatu saat mereka pasti akan menyadarinya. Jika saat itu datang, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Putri sedih. Sepertinya dia tidak setuju dengan tindakan ku


“entahlah, aku juga takut membayangkannya. Tapi aku tidak tahu harus apa? Ibu ku sedih


saat aku hilang ingatan. Dia pasti merasa aku seperti orang lain tapi potongan-potongan ingatan dari diriku yang dulu masih tersisa. Aku sedikit demi sedikit memahami diriku yang dulu. Dan aku mencoba jadi sepertinya, meskipun aku tidak tahu seperti apa jelasnya diriku yang dulu” kata ku begitu depresi.


Putri hanya diam. Wajah Putri sangat sedih ketika mendengar semua penjelasan dari ku.


Dia menahan sekuat tenaga air matanya agar tidak jatuh. Dia tidak ingin aku tambah sedih karena melihatnya menganis didepan ku yang sedang terpuruk.


“jadi… aku minta tolong pada mu untuk merahasiakan ini dari semuanya” aku memohon kepada Putri. Aku menggenggam kedua tangan Putri degan erat.


“um…aku akan menjaga rahasia ini” jawab Putri


“terimakasih…” kata ku senang


“aku punya satu permintaan tolong lagi” kata ku serius


“apa itu?” tanya Putri


“tolong ceritakan semua yang kamu ketahui tentang diriku yang dulu. Aku ingin mencoba


hidup sepertinya” pinta ku


“yah…jika itu mau mu. Aku akan menceritakan semuanya” jawab Putri tersenyum


“tapi kamu harus siap-siap ya…aku akan menceritakan semuanya loh~ sampai semua


kejelakannya. Yah…meskipun yang ada di dirimu yang dulu itu semua hal-hal negative sih hehehe” ejek Putri


“kok rasanya aku sangat kesal ya. Boleh aku pukul kepala mu sekali?” aku mengepalkan


tangan ku untuk bersiap menjitak kepala gadis ini


pertengahan, yang dia ceritakan cuman sifat buruk ku saja. “Aku yang suka tidur dikelas lah, aku yang sering tidur di perpus lah, aku yang selalu remedy pas ujian lah, aku yang otaknya mesum lah dan masih banyak lagi”


Tapi entah mengapa aku merasa sangat tenang dan nyaman saat bersama dengannya. Dia


sangat antusias sekali saat sedang membicarakan diriku yang dulu. Aku merasa sangat iri dengan diriku yang dulu, bisa memiliki teman-teman yang baik disekitarnya.


di Saat kami sedang asik mengobrol, tiba-tiba Anita datang ke perpustakaan. Dia membawa


setumpuk buku paket yang dipinjam dari perpus. Tampaknya dia ingin mengembalikan buku-buku itu keperpustakaan.


“eh, rupanya Evan disini toh. Pasti kamu sedang cari tempat tidur lagi kan~” ejek Anita


“enak aja. Aku sekarang sedang membantu Putri jaga perpus” jawab ku ngeles


"hem~ bantu jaga ya” wajah Anita sangat menakutkan


“dahlah, aku mau balik ke kelas dulu” Anita ngambek sama aku


Saat Anita keluar dan pergi meninggalkan perpustakaan ini, terdengar bisik-bisik dari


anak-anak kelas satu yang sedang membicarakan Anita dari belakang. Anita yang berjalan ditengah lorong itu dilihat oleh semua siswa yang sedang duduk bersantai dikelas mereka masing-masing. Tatapan benci dan marah tertuju pada gadis cantik itu.


“hei coba lihat tuh. Dia cewek yang digospkan itukan?!” kata seorang gadis pelan


“iya… bener dia. Katanya dia cewek murahan yang suka main sama cowok manapun”


jawab teman gadis itu


“dasar cewek gatelan. bahkan dia sampai selingkuh didepan kak Aldi” sambung seorang


gadis


“Mentang-mentang cantik dikit aja udah ngerasa bisa ngelakuin apa aja” sambung gadis


lain


“aku merasa kasian sama kak Aldi. Dia jadi gila gara-gara cewek murahan itu” cetus gadis


kelas satu


Aku yang mendengar itu dari dalam perpus tampak merasa sangat kebingungan.


Sedangkan Putri tampak kesal saat mendengar omongan para anak kelas satu itu. Meskipun begitu, Putri tidak dapat melakukan apapun. Saking kesalnya, pulpen yang dia pegang sampai patah.


“hah…” Putri menghela nafas


“rupanya dia sudah terkenal ya. Sampai-sampai anak kelas satu tau tentang gosipnya” kata


Putri khawatir


“gosip?” tanya ku penasaran


“iya, gosip. Aldi adalah orang yang menembak Anita di depan umum. Ku akui dia sangat


gagah” jawabnya


“kalau kamu mah lewat sama dia….” Putri memandang ku rendah. Aku yang kesal


mencubit hidungnya sampai merah


“tapi banyak gosip yang beredar kalau Anita selingkuh sama cowok lain dan cowok itu


adalah kamu” kata Putri. Aku pun terkejut setelah mendengar penjelasan Putri


“tapi gosip cuman gosip~ gak usah dipikirin”


Putri menepuk-nepuk pundak ku


Aku merasa sangat sedih. Aku tidak menyangka yang membuat Anita jadi begini adalah aku. Aku tidak tahu apa-apa tentang masalah ini, tapi aku juga tidak bisa bertanya langsung padanya. Putri tidak tahu dengan jelas seperti apa cerita sesungguhnya, tapi yang pasti bahwa Anita tidak mungkin melakukan hal itu. Pasti ada penjelasan dibalik semua ini.