Love And Despair

Love And Despair
Pengakuan Cinta



Pertandiangan di dominasi oleh tim Aldi dengan semangat dan sifat bar-bar dari anggota tim itu. Yang awalnya tim Aldi lemas, namun kini mereka bahkan seperti tidak merasa kelelahan sama sekali. Di tempat lain, Anita menunjukan wajah yang begitu penasaran. Anita yang penasaran dengan tiga cewek stress itu pun bertanya pada kami.


“anu…tiga cewek yang dari tadi heboh banget itu temen sekalas kita kan?!” tanya Anita


kurang yakin


“iya mereka temen sekelas kita” jawab ku


“kamu tahu nggak? mereka tuh di kenal dengan sebutan pasukan terlanjur cinta mati Aldi”


sahut Eri


“hah? Pasukan terlanjur… apa?” Anita tampak heran


“iya, pasukan terlanjur cinta. Mereka cinta mati banget sama Aldi, mereka bahkan melakukan apapun demi mendapatkan hati Aldi, meskipun selalu gagal” Eri menjelaskan


“untung Aldi orangnya baik. Kalau enggak sudah di tinggalkan sejak dulu mereka tuh, tapi


Aldi malah tetap memilih berteman dengan mereka” sambung Eri


“loh? Apa mereka belum pernah nembak Aldi?” tanya Anita penasaran


“kalau itu sih… entahlah. Aku juga gak tahu” jawab Eri


“hemm~ begitu ya” Anita tampak kurang puas


Pertandaingan bar-bar dan penuh aura kebencian dan amarah pun akhirnya berakhir dengan di menangkan oleh tim Aldi. Bahkan para penonton merasakan kengerian yang terjadi di dalam lapangan penuh darah itu. Aldi dengan badan penuh keringat dan kelelahan menghampiri kami. Dia sangat senang dan puas dengan hasil pertandingannya ini. Kami yang menjadi temannya merasa bangga memiliki teman berbakat seperti dia.


“huf huf huf….aku capek bangettt” kata Aldi terenggah-enggah


“mantap Al!” Eri menepuk pundak Aldi


“pertandingan tadi keren banget~” puji Anita tersenyum


“makasih…” kata Aldi tersipu


“itu baru sahabat ku” puji ku sembari menepuk punggung Aldi


“eh! iya. Makasih ya” kata Aldi terkejut


DINGG~ DINGG~


Hp Anita berbunyi


“eh, mama ku nelpon nih. Sorry ya” kata Anita meninggalkan kami


“sorry ya, aku disuruh pulang sama mama ku” Anita merasa gak enak pada kami


“gak papa” kata ku pendek


“santai aja” kata Aldi pendek


“iya…lagian ini dah mau magrib” sahut Eri


“aku pulang dulu ya…” Anita pamit


“Anita! Tunggu!” teriak Aldi


“eh, kenapa Al?” tanya Anita


“anu…terimakasih ya. Kamu udah nepatin janji untuk datang mendukung ku” Aldi tersipu malu


“oh… iya, sama-sama. Kan sudah ku katakan waktu itu, aku pasti bakal datang mendukung


mu kan” Anita tersenyum


“kalau gitu aku pulang dulu ya…dah~” Anita pergi


“dah~” jawab Aldi tersipu


Anita pergi dengan senyum manisnya meninggalkan kami bertiga duduk di luar stadion. Kami bertiga duduk menikmati senja yang tidak lama lagi akan berakhir. Di tengah-tengah gemerlap kilauan cahaya jingga itu, Aldi mengungkapkan perasaannya kepada kami.


“sip! Keputusan ku sudah bulat! Lusa nanti pada saat acara Kartian, aku akan menembak


Anita di depan umum!” ungkap Aldi


“hahhhh!” aku dan Eri terkejut


“benarkah? Wahhhhh! Aku mendukung mu seratus persen!” dukung Eri


“tu tunggu dulu. Kamu gak bakal takut nanti di tolak sama Anita?” tanya ku khawatir


“umm~ kalau masalah itu, aku pikirkan nanti. Yang terpenting perasaan ku tersampaikan


pada dia” jawab Aldi yakin


“…” aku tak bisa membalas perkataannya