
Malam Hari di Penginapan
Malam itu aku duduk di sebuah kursi panjang yang tersedia di penginapan, aku suka sekali
dengan keheningan yang menenangkan ini. Namun, saat kupikir aku benar-benar sendirian tiba-tiba Eri mengejutkan ku dari belakang.
“DORRR!” Eri memegang kedua pundak ku
“Wah!” teriak ku
“Hadeh…rupanya kalian toh” kata ku dingin
Eri, Anita dan Putri duduk bersama ku di bangku panjang itu. Wajah mereka tampak sangat senang dan mereka tersenyum licik pada ku. Sepertinya mereka merencanakan sesuatu yang buruk lagi.
“Van… kita menyelinap keluar dari penginapan yuk” ajak Eri
“Kita pergi jalan keluar…” sambungnya
“Hah! Kamu gila ya?! Semua siswa gak boleh meninggalkan penginapan saat malam kan?!”
kata ku terkejut
“Huu… sekali ini aja~ yah~” Eri memelas pada ku
“Eeeenggak!” tolak ku dingin
“Ayolah Van~ sekali-kali kita jalan keluar. Aku pengen lihat-lihat malioboro pas malam
hari. Ya kan Putri?!” kata Anita memelas
“Iya…aku juga pengen lihat-lihat pertunjukan music di malioboro” jawab Putri
“Kami mengajak mu bukan tanpa alasan. Kalau kami bertiga jalan sendiri keluar, siapa
nanti yang bakal jaga kami kalau ada apa-apa?” kata Putri
“Kalau emang takut kenapa-napa kenapa malah pengen keluar” kata ku dingin
“Lagian…aku cuman jadi bodyguard kalian dong kalo gitu” kata ku kesal
Karena kesal dengan diri ku yang tetep kekeh dengan pendirian, Anita, Eri dan Putri pun
tersenyum licik pada ku seperti mereka sudah menduga hal ini akan terjadi. Tiba-tiba Eri dan Anita mendekatkan badannya pada ku.
“Nanti…saat kita dah diluar, kita beli Pizza deh~” goda Anita. Seketika pendirian ku
tergoyahkan
“Kita beli pizza yang banyak~ gimana? Mau~” goda Anita
“Khuhuhu… aku dengar dari Eri, Evan gak pernah makan pizza… pasti ini berhasil” batin
Anita
“Eeenggak! Kamu kira kamu bisa menyuapku hanya dengan makanan?! Jangan remehkan
aku!” tegas ku
“Cih! Keras kepala banget sih” gumam Eri
“Kalau begitu bagaimana dengan ini!” batin Eri percaya diri
“Evan~” goda Eri
“Kalau kamu mau ikut kami jalan keluar, kita beli martabak manis yang banyak deh~” goda
Eri
“amau…?” bisik Eri
Aku pun langsung berdiri dan melangkah maju “AYO! Apa yang kalian tunggu! Nanti keburu kemalaman!” ajak ku bersemangat
“Hadehhh… dasar anak bego. Dibelikan makanan elit sekelas pizza aja gak mau, giliran makanan receh kayak martabak aja langsung semangat. Dasar cowok aneh” kata Putri heran
“Biarin! Kalian tidak tahu aja bagaimana nikmatnya jajanan tradisional yang melegenda
itu! Bahkan sekarang martabak memiliki banyak variasi ra…” kata ku terpotong
“Iya iya iya…kami paham kok. Yang penting kamu mau ikut bersama kami udah okay”
kata Putri
Kami pun diam-diam menyelinap keluar dari penginapan. Setelah barhasil keluar dari
penginapan, kami langung bergegas jalan menuju pusat kota. Kami terpukau dengan indahnya gemerlap malam itu, kilauan cahaya malam yang menyilaukan mata dan berbagai hal-hal menakjubkan lainnya ada didepan mata kami.
Kami pun mampir kebeberapa toko penjual jajanan dan melihat-lihat aneka jajanan yang
buka dipinggir jalan. Seperti yang sudah dijanjikan oleh Eri, dia pun membelikanku sebungkus martabak manis. Aku pun sangat senang dan girang karena jarang memakan jajanan itu.
Kami pun melanjutkan perjalanan kami, menyelusuri trotoar dan melihat kesekeliling.
Langkah kami terhenti di depan kuruman yang memenuhi trotar itu. Kami yang penasaran pun langsung mencoba menerobos masuk kekerumunan itu. Ternyata ada sebuah grup music jalanan yang sedang melakukan pertunjukan di trotoar itu. Alunan music pop yang diaransemen menjadi music dangdut itu sangat mengagumkan, apalagi grup music itu memainkan angklung sebagai alat musik utamanya. Banyak orang yang ikut menari didepan grup music itu.
“Aku sangat bersyukur karena tidak menolak ajakan mereka” batin ku
“Kalian semua… terimaksih ya udah mau ngajak aku kesini” kata ku malu
“Ya sama-sama” Anita tersenyum manis pada ku
“No problem” Eri mengacungkan jempolnya pada ku
“Idih… lebay banget~” ejek Putri. Namun wajahnya tampak malu-malu kucing