Love And Despair

Love And Despair
Telah Dimulai



Keesokan harinya, kami menjalankan rencana yang telah kami buat. Eri dan Siska mengajak Anita untuk pergi beli makan siang di kantin. Mereka beruda mengajak Anita ke kantin karena Anita sudah seminggu ini tidak pernah kesana dan hanya berdiam diri di kelas saja.


“An, ayo kekantin yuk~” ajak Siska


“O-oy… kamu lama-lama jadi mirip Evan ya…dasar cewek ansos. Aku gak mau kamu mirip Evan, jadi ayo ikut kami ke kantin!” ajak Eri malu-malu


“Eh! Kalian… jangan deket-deket sama aku, nanti kalian bisa ikut kena imbasnya dan reputasi kalian bisa hancur” kata Anita cemas


“Siapa peduli dengan omongan orang lain. Ayo buruan kita kekantin, aku dah lapar banget nih~” paksa Siska


“Aku gak heran sih kalau Siska ngajak aku makan… tapi kok cewek ini tiba-tiba ngajak aku makan? Kesurupan setan mana kamu?” tanya Anita dengan ekspresi merendahkan. Seketika langsung Eri kesal


“Ah! Dasar cewek ansos… dibaikin malah ngelunjak” umpat Eri


“Heheheh canda aja~” kata Anita


Selagi mereka bertiga pergi ke kantin Putri dan aku mengawasi kelas Anita, berjaga apabila barang Anita dirusak lagi oleh anak-anak yang membully-nya. Kami berdua duduk di sebuah gazebo dan mengawasi dari luar kelas Anita. Sesekali kami bergantian lewat di kelas Anita untuk mengecek meja Anita.


Sudah tiga hari kami menjalankan rencana kami dan kami tidak menemukan tanda-tanda dari sang pembully itu bergerak, seolah dia sudah mengetahui rencana kami. Para gadis-gadis masih tetap menjalankan tugas mereka.


Putri selalu mengamati Anita dari kejauhan dan menjaga kelas Anita saat dia sedang pergi keluar. Siska dan Eri selalu mengajaknya bersama dengan Anita untuk menghiburnya dan sekaligus menjaga Anita dari pembullyan yang dilakukan oleh anak-anak.


Selama kami menjalankan rencana ini, pembullyan terhadap Anita mulai berhenti, sepertinya dia sedang menunggu saat-saat kami sedang lengah. Meskipun begitu, masih banyak Siswa yang menghina Anita karena foto itu.


“Aku penasaran dengan hasil analisis dari Budi. Dia udah selesai mengecek foto Anita, kah ya?!” pikir ku


Aku pun menghampiri Budi di perpustakaan. Dia tampak kacau dan berantakan. Dia seperti kesal dengan sesuatu dan menggaruk-garuk kepalanya dengan keras. Aku sebenarnya tidak ingin menggangu pekerjaannya, tapi karena aku penasaran dengan hasilnya maka aku putusnkan untuk bertanya padanya.


“Anu… gimana Bud hasilnya?” tanya ku ragu


“Kenapa Bud?” tanya ku panik


“Sepertinya… foto itu bukan hasil editan deh. Itu asli foto Anita” jawab Budi menyesal


“Gi-gitu ya…” aku tidak menyangka bahwa yang dikatakan Anita waktu itu bukanlah kebohongan


“Trus… bagaiaman hasil hack mu?” tanya ku


“Sorry, aku gak terlalu jago nge-hack beginian. Aku gak dapat hasil apapun” jawab Budi menyesal


“Gapapa… makasih banyak ya” kata ku menyemangati Budi


Tidak ada satupun dari rencana ku yang membuahkan hasil dan aku sangat frustasi. Selama aku belum bisa menangkap pelakunya, Anita akan terus di terror oleh orang itu. Dia pasti sedang tertawa menikmati rencana ku yang gagal.


***


Untuk memperingati kesaktian Pancasila, sekolah ku mengadakan lomba membuat


madding untuk seluruh kelas. Seluruh di kelas kami bekerja sama untuk membuat madding yang dapat membuat semua orang terpukau, dengan kemampuan kreatifitas Putri dan kepemimpinannya, dia membimbing kelas kami menuju jalan kemenangan.


Sore setelah jam sekolah berakhir, kelas kami berencana mengerjakan pembuatan madding itu. Karena aku tidak bisa membantu banyak, aku cuman bisa melihat mereka menghias madding. Namun Fadel dan beberapa cowok lain tidak membiarkan aku menganggur.


“Van, kami boleh minta tolong enggak?! Kamu kan lagi free nih… belikan kami beberapa bahan buat madding kita dong~” pinta fadel


“O-okay… lagian aku juga gak ada kerjaan” jawab ku


Aku pun berangkat pergi ke toko untuk membeli beberapa bahan untuk madding kami. Semuanya tercatat di selembar kertas ditangan ku ini. aku berjalan melewati kelas-kelas lain, terlihat semua siswa sedang semangat mengerjakan madding mereka.