Love And Despair

Love And Despair
Pembalasan Dendam!



Aku terbangun dari mimip buruk itu. Aku berkeringat begitu banyak. Aku kembali mengatur nafasku yang tidak karu-karuan itu. Berpikir itu seolah begitu nyata, bagiku hal itu bisa membuat ku gila. Aku bangkit dari tempat tidur ku, badan ku terasa begitu berat. Seperti aku habis pergi dari tempat yang sangat jauh. Setelah menangkan diri begitu lama, aku mencoba meraih hp ku yang tergeletak di meja belajar. Ternyata sudah jam 9 pagi ya…aku bolos saja untuk hari ini.


Aku membuka berita kecelakaan beberapa waktu lalu. Kukira semua itu hanya mimpi, ternyata kecelakaan itu benar terjadi. Aku hanya bisa terduduk di atas Kasur itu, didalam kegelapan ruangan yang menyesakkan. Aku bangkit dan berjalan menuju tirai yang tertutup rapat, bahkan tirai itu tidak bisa membendung cahaya dari luar.


Aku membuka tirai itu dengan kedua tangan tangan ku. Cahaya langsung menusuk mata ku. Kilauan mentari pagi yang menghangatkan badan ku tak dapat mengubah yang ada didalam diriku yang telah membeku sedari awal.


Berpikir untuk menyegarkan badan ku, Aku pergi untuk membasuh wajah ku. Aku berjalan ke dapur untuk membuat sarapan. Betapa terkejutnya aku, sepering telur dadar telah siap disana. Saat aku mendekati telur itu, terdapat secarik kertas yang tertindih di bawah piring itu.


“ibu gak tau kenapa kamu sedih semalaman….ibu harap kamu gak memaksakan diri” Kalimat yang tertulias di kertas itu


Bahkan dengan waktu kejanya yang sangat padat, sempat-sempatnya membuat sarapan sederhana ini. Aku sangat bersyukur memiliki orang tua sepertinya. Tapi aku tidak bisa membanyangkan bahwa anak yang dia sayangi ini begitu tak berguna di masyarakat dan merupakan seorang pembunuh.


Karena aku hari ini bolos…untuk mengusir pikiran negative di kepala ku ini, lebih baik aku bermain game moba. Siapa tau dengan bermain game, aku bisa sedikit ter-refresh. Waktu demi waktu, pertandingan demi pertadingan telah aku lewati hingga aku tidak sadar bahwa matahari hampir berwarna jingga.


“sudah jam segini…aku harus beli sayur untuk nanti malam” pikir ku.


Aku membuka pinta rumah ku yang biasa aku lalui itu. Betapa terkejutnya aku, Anita berdiri tepat dihadap ku dengan tangan hendak membuka pintu rumah ku.


Apa aku sedang bermimipi lagi?! Apakah dia hantu?! Kok rasanya agak aneh ya?! Dia tidak tampak tak transparan seperti hantu pada umumnya aku baca-baca di komik.


Seketika aku melihat kakinya, mengecek apakah kakinya masih menyentuh tanah atau tidak. Tidak ada yang aneh sejauh ini…kakinya masih menyentuh tanah dan dia tidak transparan. Pikiran ku kosong, aku tidak bisa berpikir dengan jernih di situasi yang membingungkan ini.


Anita hanya tersenyum melihat ku. Melihat senyuman itu membuatku tidak bisa berkata-kata itu sangat curang. “Van…apa kamu sakit? Kamu gak masuk sekolah tadi…makanya ku pikir kamu sakit” tanya Anita. Seketika aku memegang kedua pundak Anita dan pandangan ku tertunduk.


“kamu enggak papa? Muka mu kok merah sih, apa kamu masih demam?”tanya anita dengan wajah heran dan penasaran


“demam? …oh! Ya….aku masih demam, uhuk…uhuk…uhuk” kata ku pura-pura batuk sembari menahan malu


“yooo halloo!!!” teriak Eri sembari muncul dari belakang Anita dengan kedua tangan penuh dengan sayur-sayuran


“iya…Evan tuh kalau sakit gak pernah kasih surat karena gak ada orang yang bisa dititipi surat sakit, kalau sudah sakit dia pasti akan seperti orang sekarat karena tidak ada yang memasakan di rumah. Bahkan seorang Eri harus repot-repot ke rumah mu yang begitu jauh dari peradaban ini….seharusnya kamu berterima kasih pada ku” kata Eri sambil menepuk pundak ku beberapa kali dengan sombongnya


“ya ya ya….terimakasih karena selama ini telah membantu ku saat aku sakit” kata ku


"a apa….umhmm yah….sama-sama. Itu b bukan a apa-apa kok” kata Eri tersipu malu


“lagian…apa kami gak dipersilahkan masuk nih….tuan rumah macam apa nih?” ejek Eri


“ahh…silahkan masuk, silahkan masuk” kata ku kesal


Mereka berudua pun langsung menuju dapur. Eri tampak seperti dirumah sendiri. Dia hafal betul dengan peralatan memasak di sana. Tidak heran, dia adalah teman masa kecil ku. Dia juga sering bermain ke rumah saat kami masih kecil, karena tidak ada perubahan besar pada rumah ku, tidak aneh kalau dia masih ingat setiap sudut rumah ku.


“wah ada es krim nih~ buat aku ya~” katanya sambil menggeledah isi lemari es ku


“woii! Ngapain kamu!” teriak ku


Yah….meski begitu, tingkah seenak jidatnya itu tidak pernah berubah dari dulu. Dia sudah kuanggap sebagai adik ku sendiri, walaupun kami seumuran sih. Melihat mereka berdua memakai camelek, membuat mereka seperti istri muda yang memasakan makanan enak untuk suaminya hehehe.


“jadi….apa yang bisa ku bantu?” tanya ku


“kamu istirahat aja. Biar kami yang memasak makam malam” kata Anita


“oh….okay” kata ku ragu


Eri dengan keras mendorong punggung ku menggiring ku menuju kamar. Dia menyuruh ku untuk beristirahat dan menyerahkan tugas memasak makan malam ini pada mereka. Aku merasa tidak enak pada mereka, tapi akan ku terima kesungguhan hati mereka.


Ok…kita lanjutkan bermian game moba lagi. Waktunya pembalasan demdam untuk pertandingan terakhir gara-gara anggota tim kayak bot.