
Betepa terkejutnya aku, aku melihat Aldi terduduk bersandar di dibalik jeruji besi itu. Dia tampak lesu dan berantakan dengan menggunakan seragam berwarna kuning. Dia yang sadar dengan kehadiran kami langsung mengankat kepalanya.
“Hai~ udah lama gak ketemu ya?” kata Aldi tersenyum meyeramkan pada ku
Aldi pun dikeluarkan dari penjara dengan tangan terborgol. Dia duduk didepan kami,
wajahnya terlihat tidak senang saat melihat ku. Aku yang merasa gugup langsung memalingkan pandangan ku darinya.
“Ja-jadi ini ya, orang yang namanya Aldi. Orang yang telah membuat ku hilang ingatan” batin ku
“Ternyata kalian sudah pacaran ya?!” kata Aldi tersenyum sinis
“Enggak, kami enggak pacaran” jawab ku datar
“Begitu ya… baguslah kalau begitu” kata Aldi tersenyum kecil
“Jangan bertele-tele. Ada yang ingin kamu bicarakan dengan Evan kan?! Jadi cepatlah”
kata Anita kesal
“Hah…” Ald menghela nafas
“Jujur saja, aku hanya menganggap mu sebagai alat untuk untuk menunjang kepopuleran ku. Seorang cowok gagah yang selalu baik pada siapapun dan bahkan mau berteman dengan orang suram kayak kamu. Emangnya ada orang yang mau temenan sama kamu?” ungkap Aldi
“Seharusnya kamu berterimakasih pada ku karena aku yang mau jadi teman mu” sambung Aldi
“SUDAH! CUKUP! Kami gak datang jauh-jauh kesini hanya untuk mendengar omong kosong mu” Anita sangat kesal
“Dasar pembunuh!” umpat Anita
“O-oy… aku belum mati loh…” batin ku
“Ya ya ya… terserah kamu mau menyebutku apa” kata Aldi mengangkat kedua bahunya
“Btw, bisa enggak kamu tinggalkan kami berdua sendirian. Ada hal penting yang mau aku bicarakan dengan cowok mu ini” pinta Aldi
Awalnya Anita menolak dan dia sangat marah. Tapi aku mencoba menenangkan dirinya dan memegang tangannya. Aku hanya tersenyum kecil pada Anita, namun dia paham apa yang ku maksud. Meskipun dia sangat marah, akhirnya dia pun mau membiarkan kami berdua berbicara empat mata.
“Pertama-tama aku ingin bertanya pada mu” pinta ku
"Silahkan~” jawab Aldi
“Jadi, kenapa kamu melakukan semua itu, bahkan sampai mau membunuh ku dan Anita?” aku sangat serius
“Kau tanya aku kenapa melakukan semua itu?” wajah Aldi sangat menakutkan
“Hei! Bayangkan kau pacaran dengan orang yang tak pernah sekalipun mencintai mu dan
parahnya lagi yang dicintainya adalah teman mu sendiri. Selama kalian pacaran, yang dipikirkannya hanya teman mu. Bahkan saat kalian berduaan sekalipun dia tidak melihat mu! Dia hanya melamun. Apa kau tidak bisa mengerti perasaan sakit hati yang ku alami setiap kali aku jalan bersamanya!” Aldi menarik kerah baju ku. Dia sangat marah dan ingin sekali memukul ku
Polisi yang ada di dekatku sontak mengambil posisi untuk menenangkan Aldi, namun aku
hanya menunjukan telapak tangan ku mengisyratkan untuk tidak pelu melakukan apapun. Aku meminta polisi itu untuk tidak bertindak terlebih dahulu.
“Aku mengerti perasaan mu, Maafkan aku” ungkap ku sedih
“Tapi, meskipun aku juga suka padanya aku sekalipun tidak pernah berpikir untuk menusuk mu dari belakang” kata ku meyakinkan Aldi
“Terserah... aku juga tidak peduli kau ini beneran menusuk ku dari belakang atau tidak”
kata Aldi kesal
“Meski aku membencimu, tapi kau dulu sempat jadi teman ku. Aku sarankan, jauhi dia. Dia hanya akan membawa masalah buat mu kedepannya nanti” kata Aldi serius.
“Kenapa bisa begitu?” aku dibuat penasaran olehnya
“Selama kamu bersama dengannya, tragedy demi tragedy akan terus datang. Contohnya
seperti yang pernah ku perbuat. Yah… meskipun waktu itu aku sedang dikendalikan, tapi itu hanya salah satunya” kata Aldi
“Terserah kamu mau percaya sama aku atau enggak, tapi aku udah mengingatkan mu
sebelumnya. Jangan pernah bilang kalau aku belum pernah mengingatkan mu ya…” wajah Aldi sangat menyeramkan
“Glek” aku menelan liur ku
“Sebenarnya siapa yang mengendalikan mu?” aku sedikit takut
Aldi mendekatkan wajahnya pada ku. “kamu sering bertemu denganya kok~” bisik Aldi
“Kenapa lama banget sih?” Anita datang menghampiri kami berdua
“Oh~ kebetulan kami sudah selesai bicara. Kalian boleh pergi kok” kata Aldi tersenyum
pada Anita
Kami pun pergi meninggalkan kantor polisi itu. Dari belakang ku, tampak Aldi tersnyum lebar.
Setelah mendengar penjelasan Aldi membuat kepala ku sakit. Banyak hal yang tidak bisa aku cerna begitu saja. Aku berkeringat dingin dan sangat ketakutan. Anita yang melihat ku ketakutan merasa sangat khawatir.
“Kamu gak papa?” tanya Anita
“Eh, gak papa kok” jawab ku ragu
“Wajah mu sampai pucat begitu. Sebenarnya apa yang dia bicarakan sama kamu?” tanya
Anita
“Anu…soal itu, maaf…” aku tidak bisa mengatakan hal itu pada Anita
“O-okay” Anita sangat cemas. Dia menggenggam tangan ku dengan erat.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia bisa bilang begitu tentang Anita” batin ku
“Sebenarnya siapa Anita ini?” aku meilhat ke arah Anita. Dia tersenyum manis padaku