
Betapa terkejutnya diriku, dia melihat Eri dan Anita sedang duduk terikat di kursi kayu berdampingan di tengah ruang lab itu. Tak lama setelah aku membuka pintu, ternyata Eri terbangun karena suara keras tadi. Eri yang sadar pun meronta-ronta ingin dilepaskan ikatan tali.
Karena mulut mereka di ikat dengan kain, Eri hanya bisa mengeluarkan suara yang tidak jelas, tapi aku yakin bahwa itu adalah permintaan tolong. Sebelum mendekati mereka berdua, aku melihat kesekeliling dan setiap sudut ruangan untuk mengecek keberadaan si pembully.
Setelah dirasa aman, aku bergegas menuju ketempat Eri dan melepaskan ikatan tangannya. Setelah ikatan tangan Eri terlepas, Eri pun langsung memeluk ku dengan sangat erat. Dia sangat ketakutan dan badannya gemetaran.
“Evan…! A-aku takut banget…” Eri memeluk Evan
“Sudah… gak papa kok…” kata ku menenangkan Eri
Beberapa saat setelah menenangkan Eri, aku langsung mencoba membuka ikatan tali milik Anita. Saat aku sedang membuka ikatan Anita, tangan ku terhenti dan perasaan ku tiba-tiba menjadi sangat tidak enak.
“Sudah cukup dengan sanjiwara mu ini… Eri. Aku sudah tahu semuanya” kata ku ragu
Eri hanya diam membisu. Perasaan ngeri dan tidak nyaman ini seketika menyelimuti diriku. saat aku hendak membalikan badannya, tiba-tiba Eri menendang ku dengan sangat kuat hingga dirinya terpental jauh.
“Uhuk…uhuk…” aku batuk-batuk karena menerima tendangan Eri
Eri perlahan berjalan menuju pintu dan menutup pintu itu. Dia mengunci pintu itu rapat-rapat dan membuang kuncinya. Saat aku mengangkat pandangannya, sontak membuat ku terkejut. Sosok mengerikan yang belum pernah ku lihat dan dengan senyum lebar yang menakutkan tengah berdiri dibelakang Anita sambil menodongkan cutter di leher Anita.
“Ah… sudah ketahuan ya. mau bagaimana lagi” kata Eri kecewa
***
Sepuluh Tahun Yang Lalu
Eri dan Evan sudah berteman sejak masih SD. Pada awalnya mereka berdua saling tidak mengenal meskipun mereka itu satu kelas. Eri adalah anak periang dan mudah bergaul, sedangkan Evan adalah anak pendiam dan tidak banyak bicara. Dia memiliki masalah dalam hal berkomunikasi. Perbedaan Mereka berdua bagaikan matahari dan bulan.
Sampai suatu hari, Eri dijahili oleh anak laki-laki di sekolahnya. Eri tidak bisa melawan anak laki-laki itu karena mereka memiliki badan yang lebih besar dari pada Eri. Namun ditengah perundungan itu, Evan dengan perasaan ketakutan datang menolong Eri. Evan berdiri di depan Eri dan meminta kepada anak-anak nakal itu untuk tidak menggangu Eri.
“Ja-jangan ga-ganggu…di-dia…” kata Evan gemetaran
Eri sangat terkejut saat melihat Evan berdiri di depannya dengan kaki gemetaran. Meskipun Evan sangat takut pada mereka bertiga tetapi dia tetap berniat menolong Eri. Pada akhirnya Evan hanya dijadikan samsak tinju oleh anak-anak itu. Badan Evan dipenuhi luka gores dan memar.
“Ya… kamu gak papa kan?” tanya Evan gemetaran
“Ya…gak papa. Tapi kamu sendiri bagaimana?” tanya Eri khawatir
Eri yang kasihan pada Evan mencoba menolongnya, namun Evan menolaknya dan pergi begitu saja. Sejak saat itu tumbuh perasaan cinta dari dalam hati Eri terhadap Evan. Setiap hari Eri mencoba mendekati Evan dan selalu bermain bersamanya.
Eri sadar terhadap sesuatu hal yang ada pada diri Evan, Evan bukanlah anak pendiam dan tidak ingin berteman pada siapapun dia hanya sulit untuk bergaul dengan anak-anak lain. Eri yang menyadari hal itu pun langsung mengajak Evan untuk berteman dengannya. Evan yang merasa senang karena memiliki teman pertanya pun tersenyum lebar.
Hati Eri tersentak saat melihat senyuman tulus Evan dan membuat perasaan Eri terhadap Evan semakin besar. Hari-hari mereka bersama terus berlalu dan dipenuhi canda dan tawa. Meskipun Eri memiliki perasaan ini dari kecil tapi dia masih belum mengungkapkannya pada Evan.
Eri paling terdepan jika Evan diganggu oleh anak-anak lain. Eri tidak akan membiarkan ada anak-anak lain yang mencoba menyakitiorang yang dicintainya. Perasaan cinta yang kuat membutakan matanya.
Beberapa tahun telah berlalu dan meraka sekarang sudah masuk SMA. Eri selalu mengikuti Evan kemanapun dan dia selalu memberikan semangat pada Evan. Eri ingin menjadi matahari yang selalu menerangi Evan yang seperti bulan baginya.
“Wah~ enggak nyangka ya… rupanya kita satu kelas lagi hehehe” kata Eri senang
“Emm… kamu gak bosen apa satu kelas sama aku terus?” tanya Evan cemas
“Hah? kamu ngomong apa? Mana mungkin aku bosan” kata Eri kesal
“Kita udah bersama sejak SD sampai sekarang. Kamu gak ada niat buat cari pacar gitu?” tanya Evan
“Pa-pacar…! Itu… aku masih belum kepikiran sampai sana hehehe” kata Eri gugup
“Oh… gitu ya” kata Evan datar
“yang aku suka itu kamu Evann! Peka dikit dong jadi cowok” batin Eri gemas
Hari-hari menyenangkan di SMA pun dimulai. Eri telihat tidak memperdulikan apa yang dikatakan orang lain terhadap Evan yang ansos. Baginya Evan adalah penyelamat hidupnya dan dia selalu menjadi secercah cahaya yang menutupi lubang dihati Eri.