Love And Despair

Love And Despair
Studi Tour Bersama Gemerlap Bintang (1)



Kilauan sinar matahari menyorot mataku. Kehangatan sinar mentari itu membuatku


terbangun, terbangun disebuah tempat duduk yang empuk dan sedikit bergoyang. Kepala ku masih terasa pusing karena baru saja bangun tidur.


“Apakah aku sedang bermimpi? Kenapa aku bisa ada disini?” aku masih linglung


Mata ku terasa berat, namun samar-samar aku melihat ada seseorang yang menatap wajah


ku. Aku pun mengusap-usap kedua mata ku, betapa terkejutnya aku melihat Anita dan Eri duduk disebelah ku. Wajah mereka terlihat sangat senang saat duduk di sampingku.


Aku baru ingat, aku kini tengah diperjalanan menuju Yogyakarta untuk mengikuti study


tour untuk anak-anak kelas tiga. Aku masih ingat tertidur di dalam bus ini, tapi aku tidak ingat kalau aku duduk dengan tiga gadis cantik ini.


Saat aku sadar, semua mata cowok yang ada didalam bus ini tertuju kearah ku. Perasaan


iri dan dengaki yang pekat itu pun membuatku merinding. Tak jauh dari kursi ku, Tampak Budi


melambaikan tanganya pada ku.


“Wah~ akhirnya kamu udah bangun ya. Mantap Van! Gak kusangka kamu bisa seberani ini


didepan sekte anti-cinta itu” puji Budi


“Mantap palak lu peang! Ini aku malah ngeri sendiri, kampret!” bantin ku kesal


“Akhirnya kamu bangun juga~” kata Eri tersenyum manis padaku


Aku duduk dihimpit oleh dua gadis cantik, Eri dan Anita. Sedangkan Putri duduk di sebelah


Anita sambil menatap keluar jendela. Kami duduk di kursi paling belakang dan ditatap oleh semua cowok didalam bus itu.


Tiba-tiba saja bus itu berbelok tajam, aku pun kehilangan keseimbangan dan oleng


kesamping. Tak sengaja wajah ku menyentuh dada besar milik Anita. Aku pun sontak menjauh dari Anita. Kukira dia akan sangat marah, tetapi aku salah. Wajah Anita sangat merona dan dia sangat malu. Perlahan Dia menutupi dadanya dengan kedua lengannya.


Tiba-tiba bus kembali berbelok tajam, kali ini badan ku oleng kearah Eri. Aku tak sengaja


mencium pipi Eri. Aku pun spontan menjauhkan bibirku dari pipi Eri, Wajahnya sangat merona. Dia mengusap-usap pipinya pelan. Aku sangat merasa bersalah, tapi ini bukanlah salah ku sepenuhnya “jadi tolong maafkan aku”.


Mantan pembalap kah? Dari tadi kok oleng kesana-kemari” pikir ku. Kali ini aku terjatuh hingga kepala ku diatas pangkuan Putri. Sontak Putri yang kaget itu pun langsung memukul kepala ku dengan keras. Telapak tangan Putri pun membekas merah di pipi kiri ku.


“Hadehh…instan karma nih” batin ku sedih


Akhirnya, setelah perjalan panjang dan melelahkan itu kami sampai disebuah penginapan. Setiap wali kelas pun membimbing semua siswa menaruh barang bawaanya ke dalam kamar yang telah dipesan. Ternyata, aku satu kamar dengan Budi, Alan, Eko, dan Fadel. seperti aku tidak bisa lepas dari takdir selalu bersama dengan Budi, Aku merasakan firasat buruk tentang ini.


setelah menaruh barang bawaan kami, semua siswa pun diarahkan untuk berkumpul di


depan penginapan. Selanjutnya kami berangkat menuju tempat bersejarah seperti Kraton,


bangunan-bangunan peninggalan Belanda dan kami juga berkunjung ke Candi Prambanan.


Kami berkunjung dan belajar sejarah dari tempat-tempat itu. Aku merasa kasihan pada


guru pembimbing, mereka sama sekali tidak diperhatikan. Semua siswa malah asik bermain dan berfoto ria di daerah bersejarah itu. Meski begitu, untungnya masih terdapat beberapa siswa yang memperhatikan pembelajaraan dari mereka.


Sebenarnya Aku sendiri tidak bisa menghakimi mereka seperti itu karena aku sendiri juga


tidak tertarik dengan semua ini. Sepanjang perjalan kami, aku berkali-kali diseret untuk berfoto selfi dengan Anita, Eri dan Putri. Aku yang alergi dengan kamera selalu menghindari mereka, tapi mereka bersikeras dan membuatku tidak bisa melawan.


Sedari awal aku sudah merasa ada yang aneh. Akhir-akhir ini aku melihat Putri tampak


gelisah. Sejak kami berangkat menuju Yogyakarta tepatnya didalam bus, Putri terlihat murung dan selalu menatap keluar jendela. Bahkan saat kami sedang jalan-jalan untuk melihat-lihat bangunan bersejarah, Putri selalu melihat kesekeliling dan sepertinya dia sangat was-was.


Puncaknya saat kami berada di tangah Kota untuk melihat-lihat bangunan peninggalan


belanda, dia selalu melihat kesekeliling dan wajahnya tampak cemas. Aku yang merasa khawatir dengan keadaan Putri pun langsung menghampirinya.


“Kenapa Put? Kok dari tadi aku lihat kamu gelisah gitu?” aku menepuk pundak Putri,


sontak dia pun kaget


“Eh! E-enggak…enggak papa kok~” Putri mencoba menghindar dari ku


Putri pun pergi menghampiri Anita dan Eri yang sedang ber-selfi bersama. Meskipun dia kelihatan sangat khawatir akan sesuatu, tetapi dia mencoba untuk tetap terlihat baik-baik saja didepan kami.