Love And Despair

Love And Despair
First Kiss



Setelah berjalan cukup lama, kami pun tertarik dengan toko aksesoris yang ada hadapan


kami. Sepertinya Anita tertarik dengan gelang couple yang ada di display itu. Matanya berbinar-


binar melihat gelang itu dari balik kaca display itu.


“Van! Van! Bagaimana menurut mu gelang itu?” mata Anita berbinar-binar


“emm… menurut ku bagus…” kata ku ragu


“beneran?!” Anita mendekatkan wajahnya dengan wajah ku


“iya..iya…beneran bagus kok” jawab ku gugup


“sip! Aku beli yang ini” kata Anita kepada pemilik toko


“tolong sekalian dibungkus kado juga ya” pinta Anita senang


Aku yang merasa tidak nyaman saat Anita membeli kado itu, menjauh untuk sedikit


mencari ruang. Aku melihat orang-orang lewat lalu lalang dari atas. Disaat aku menikmati


pemandangan itu, Anita menepuk pundak ku dan mengajak ku pulang. Sebelum kami pulang, kami


mampir sebentar di rumah makan untuk makan siang.


“hem~ kado udah…tinggal kue ulang tahun” gumam Anita


“anak sultan emang beda. Dia bahkan mau nyiapain kue ulang tahun segala. Kalau udah


jatuh cinta, apapun pasti dilakukan demi doi senang. Nyaman lah si Aldi pacaran sama Anita.


Tahu-tahu gemuk nanti anak itu gara-gara apapun dibelikan sama Anita” batin ku


“Van…Van!” panggil Anita


“eh! Ya kenapa?” aku terkejut


“dari tadi aku panggil kamu diem aja. Kamu lagi mikirin apa?” Anita sebal


“eh, itu…bukan apa-apa kok~” kata ku


“aku tadi tanya, kamu tahu enggak tempat toko kue yang bagus? Aku belum lama disini,


jadi aku gak tahu toko kue bagus disini” kata Anita


“hem~ kenapa kamu gak buat sendiri aja?” usul ku


“eh! Anu…menurut ku lebih efisien kalau beli jadi aja” wajah Anita gugup


“emang bener sih…tapi kalau kamu buat kue itu sendiri bukannya Aldi bakal senang


banget” kata ku


“gitu ya…” Anita gugup


“tapi, aku gak bisa membuat kue” kata Anita malu


“aku bisa bantu. Kebetulan aku jago bikin kue. Yah…aku belajar dari ibu ku saat dia lagi


buat pesenana orang sih” kata ku ragu


“beneran? Kalau gitu kita buat aja langsung” kata Anita semangat


“kalau gitu, kita tinggal beli bahan-bahannya aja kan?!” sambungnya


“kalau tentang bahan, kayaknya masih ada sisa bahan di rumah ku. Kita pakai itu aja” usul


ku


“hah! Betulan? Makasih banyak loh Van!” Anita memegang tangan ku


“hehehe iya… sama-sama” aku merasa gugup ketika dia memegang tangan ku


“kenapa aku melakukan ini….harusnya aku tidak melakukan sampai sejauh ini demi Aldi.


Tapi… entahlah. Padahal saat ini hati ku sedang teriris-iris, tapi kenapa …” batin ku bimbang


***


Rumah Evan


“meow~” unyuk memalingkan wajahnya dan mengbias-ngibas ekornya


“kalau kamu gak mau bantu aku, gak ku kasih makan malam kamu nanti!” ancam ku


Unyuk terlihat sangat kesal dan langsung bergegas pergi mengambil beberapa mangkok


dan peralatan pengaduk kue. Unyuk membawa peratan itu di atas kepalanya dan meletakkan


peralatan itu di meja. Anita kagum dengan kucing ku yang multi talenta.


Kucing yang bisa kamu suruh melakukan apa aja tidak akan kamu temui dimanapun


kecuali di rumah ku. Yah…meskipun kucing ini sering ngelunjak dan selalu bikin majikannya


kesal. Tapi dia kucing yang bisa diandalkan.


Kami pun membuat adonan kue. Anita yang belum berpengalaman dalam mengaduk kue


membuat dapur sangat berantakan. Adonan kue berterbangan kesana-kemari. Aku pun


mengajarinya beberapa cara dalam mengaduk adonan kue. Sesekali dia bermain-main dengan adonan itu.


Dia menyolekkan adonan kue di wajah ku, aku pun tidak bisa diam saja di perlakukan


seperti itu, aku membalas perbuatannya. Kami tampak begitu bersenang-senang waktu itu, saling


melepar tepung, sesekali menyolekkan krim di pipi dan sebagainya.


Setelah memakan waktu yang lama, akhirnya kue pun jadi. Meskpun membuat dapur ku


seperti kapal pecah, Tapi aku salut dengan kegigihan dia. Meskipun gagal beberapa kali, tapi dia


tidak menyerah untuk membuat kue itu.


“Van, coba buku mulut mu. Coba kamu rasa kue buatan ku dulu” kata Anita menodongkan


potongan kue


“eh! Gak usah, aku bisa sendiri” kata ku canggung


“aaa…” kata Anita menodongkan kue


Wajahnya yang begitu imut dan polos tidak bisa membuat ku menolak permintaannya. Aku


mencoba memberanikan diri untuk membuka mulut ku. Aku begitu gugup, aku tidak menyangka akan di suapin oleh Anita.


Aku pun menutup mata ku agar tidak merasa gugup karena melihat wajah Anita. Saat aku


menutup mata ku, tiba-tiba saja bibir ku merasakan sesuatu yang lembut. Sensai kelembutan yang


belum pernah kurasakan sebelumnya.


Aku pun langsung membuka kedua mata ku dan aku sangat terkejut, Anita mencium ku.


Kami berciuman begitu lama, Anita tampak berjinjit agar dapat menggapai diriku. Perlahan, dia


melepaskan ciumannya. Wajahnya tampak begitu merona, namun juga terlihat sedih. Aku tidak


menyangka, first kiss ku akan direbut seperti ini oleh pacar teman ku.


“A anu…” kata ku gagap


“Maaf…bisa antar aku pulang sekarang?” kata Anita sembari membalikan badan


membelakangi ku


“em...yah…” jawab ku canggung


Aku mengantarnya pulang. Dia hanya diam dengan memegangi kotak berisi kue di


pangkuannya. Suasana saat itu sangat canggung. Aku tidak bisa berpiki dengan jernih, kenapa dia mencium ku saat itu? Padahal jelas-jelas dia sudah punya pacar. Apa dia ingin merusak hubungan pertemanan ku dengan Aldi?!


Sesampainya dirumah Anita, dia tetap tidak mengucapkan apa-apa. Dia langsung masuk


ke rumahnya tanpa memberikan penjelasan pada ku. Saat aku hendak putar balik, Anita keluar dan mengintip dari balik pintu.


“terimakasih…” kata Anita pelan. Namun karena aku tidak menyadarinya, aku langsung


pergi meninggalkan rumah itu.