
Setelah berjalan cukup lama, kami pun tertarik dengan toko aksesoris yang ada hadapan
kami. Sepertinya Anita tertarik dengan gelang couple yang ada di display itu. Matanya berbinar-
binar melihat gelang itu dari balik kaca display itu.
“Van! Van! Bagaimana menurut mu gelang itu?” mata Anita berbinar-binar
“emm… menurut ku bagus…” kata ku ragu
“beneran?!” Anita mendekatkan wajahnya dengan wajah ku
“iya..iya…beneran bagus kok” jawab ku gugup
“sip! Aku beli yang ini” kata Anita kepada pemilik toko
“tolong sekalian dibungkus kado juga ya” pinta Anita senang
Aku yang merasa tidak nyaman saat Anita membeli kado itu, menjauh untuk sedikit
mencari ruang. Aku melihat orang-orang lewat lalu lalang dari atas. Disaat aku menikmati
pemandangan itu, Anita menepuk pundak ku dan mengajak ku pulang. Sebelum kami pulang, kami
mampir sebentar di rumah makan untuk makan siang.
“hem~ kado udah…tinggal kue ulang tahun” gumam Anita
“anak sultan emang beda. Dia bahkan mau nyiapain kue ulang tahun segala. Kalau udah
jatuh cinta, apapun pasti dilakukan demi doi senang. Nyaman lah si Aldi pacaran sama Anita.
Tahu-tahu gemuk nanti anak itu gara-gara apapun dibelikan sama Anita” batin ku
“Van…Van!” panggil Anita
“eh! Ya kenapa?” aku terkejut
“dari tadi aku panggil kamu diem aja. Kamu lagi mikirin apa?” Anita sebal
“eh, itu…bukan apa-apa kok~” kata ku
“aku tadi tanya, kamu tahu enggak tempat toko kue yang bagus? Aku belum lama disini,
jadi aku gak tahu toko kue bagus disini” kata Anita
“hem~ kenapa kamu gak buat sendiri aja?” usul ku
“eh! Anu…menurut ku lebih efisien kalau beli jadi aja” wajah Anita gugup
“emang bener sih…tapi kalau kamu buat kue itu sendiri bukannya Aldi bakal senang
banget” kata ku
“gitu ya…” Anita gugup
“tapi, aku gak bisa membuat kue” kata Anita malu
“aku bisa bantu. Kebetulan aku jago bikin kue. Yah…aku belajar dari ibu ku saat dia lagi
buat pesenana orang sih” kata ku ragu
“beneran? Kalau gitu kita buat aja langsung” kata Anita semangat
“kalau gitu, kita tinggal beli bahan-bahannya aja kan?!” sambungnya
“kalau tentang bahan, kayaknya masih ada sisa bahan di rumah ku. Kita pakai itu aja” usul
ku
“hah! Betulan? Makasih banyak loh Van!” Anita memegang tangan ku
“hehehe iya… sama-sama” aku merasa gugup ketika dia memegang tangan ku
“kenapa aku melakukan ini….harusnya aku tidak melakukan sampai sejauh ini demi Aldi.
Tapi… entahlah. Padahal saat ini hati ku sedang teriris-iris, tapi kenapa …” batin ku bimbang
***
Rumah Evan
“meow~” unyuk memalingkan wajahnya dan mengbias-ngibas ekornya
“kalau kamu gak mau bantu aku, gak ku kasih makan malam kamu nanti!” ancam ku
Unyuk terlihat sangat kesal dan langsung bergegas pergi mengambil beberapa mangkok
dan peralatan pengaduk kue. Unyuk membawa peratan itu di atas kepalanya dan meletakkan
peralatan itu di meja. Anita kagum dengan kucing ku yang multi talenta.
Kucing yang bisa kamu suruh melakukan apa aja tidak akan kamu temui dimanapun
kecuali di rumah ku. Yah…meskipun kucing ini sering ngelunjak dan selalu bikin majikannya
kesal. Tapi dia kucing yang bisa diandalkan.
Kami pun membuat adonan kue. Anita yang belum berpengalaman dalam mengaduk kue
membuat dapur sangat berantakan. Adonan kue berterbangan kesana-kemari. Aku pun
mengajarinya beberapa cara dalam mengaduk adonan kue. Sesekali dia bermain-main dengan adonan itu.
Dia menyolekkan adonan kue di wajah ku, aku pun tidak bisa diam saja di perlakukan
seperti itu, aku membalas perbuatannya. Kami tampak begitu bersenang-senang waktu itu, saling
melepar tepung, sesekali menyolekkan krim di pipi dan sebagainya.
Setelah memakan waktu yang lama, akhirnya kue pun jadi. Meskpun membuat dapur ku
seperti kapal pecah, Tapi aku salut dengan kegigihan dia. Meskipun gagal beberapa kali, tapi dia
tidak menyerah untuk membuat kue itu.
“Van, coba buku mulut mu. Coba kamu rasa kue buatan ku dulu” kata Anita menodongkan
potongan kue
“eh! Gak usah, aku bisa sendiri” kata ku canggung
“aaa…” kata Anita menodongkan kue
Wajahnya yang begitu imut dan polos tidak bisa membuat ku menolak permintaannya. Aku
mencoba memberanikan diri untuk membuka mulut ku. Aku begitu gugup, aku tidak menyangka akan di suapin oleh Anita.
Aku pun menutup mata ku agar tidak merasa gugup karena melihat wajah Anita. Saat aku
menutup mata ku, tiba-tiba saja bibir ku merasakan sesuatu yang lembut. Sensai kelembutan yang
belum pernah kurasakan sebelumnya.
Aku pun langsung membuka kedua mata ku dan aku sangat terkejut, Anita mencium ku.
Kami berciuman begitu lama, Anita tampak berjinjit agar dapat menggapai diriku. Perlahan, dia
melepaskan ciumannya. Wajahnya tampak begitu merona, namun juga terlihat sedih. Aku tidak
menyangka, first kiss ku akan direbut seperti ini oleh pacar teman ku.
“A anu…” kata ku gagap
“Maaf…bisa antar aku pulang sekarang?” kata Anita sembari membalikan badan
membelakangi ku
“em...yah…” jawab ku canggung
Aku mengantarnya pulang. Dia hanya diam dengan memegangi kotak berisi kue di
pangkuannya. Suasana saat itu sangat canggung. Aku tidak bisa berpiki dengan jernih, kenapa dia mencium ku saat itu? Padahal jelas-jelas dia sudah punya pacar. Apa dia ingin merusak hubungan pertemanan ku dengan Aldi?!
Sesampainya dirumah Anita, dia tetap tidak mengucapkan apa-apa. Dia langsung masuk
ke rumahnya tanpa memberikan penjelasan pada ku. Saat aku hendak putar balik, Anita keluar dan mengintip dari balik pintu.
“terimakasih…” kata Anita pelan. Namun karena aku tidak menyadarinya, aku langsung
pergi meninggalkan rumah itu.