Love And Despair

Love And Despair
Holiday Yang Ditunggu-tunggu



***


Sehari setelah Ujian Akhir Semester telah berakhir


Kami sekarang dalam perjalan menuju pantai menggunakan mobil milik orang tua Aldi.


Seperti yang sudah kami sepakati bersama, setelah ujian telah berakhir kami akan melakukan camping di pantai.


Tak kusangka bahwa Aldi bisa mengemudi mobil sebelumnya. Awalnya aku merasa ragu


karena dia belum memiliki SIM, tapi aku berubah pikiran setelah melewati perjalanan ini. Udara sejuk dan pepohonan yang rindang mewarnai perjalanan kami.


“fyuh…untunglah nilai ku pas KKM” kata Eri lega


“iya…entah bagaiama nilai ku juga bisa naik, kupikir kali ini aku akan remedy lagi…” kata


ku


“iya… ini semua berkat Anita, makasih banyak An~” kata Putri seanang


“hehehe… enggak kok~ aku gak ngelakuin apa-apa. Itu semua karena kalian giat belajar”


kata Anita malu


“gaes~ kayaknya kita udah sampai nih” kata Aldi


Kami terpukau melihat Pantai yang indah itu. Air yang berwarana biru memantulkan


cahaya matahari bagaikan cermin membuat mata kami tidak bisa memalingkan pandangan kami dari keindahan alam itu. Bahkan sangking jernihnya, kami bisa melihat ikan-ikan yang berenang


di bawah air.


Tanpa basa-basi, Eri dan Aldi langsung melompat terjun masuk ke dalam air. Anita dan


Putri tampak senang bermain-main air di tepi pantai. Sedangkan aku duduk jauh di bawah pohon


yang rindang sembari mononton mereka.


“wahhh! Dingin banget~” kata Anita


“loh! Van, kamu gak ikut berenang sama kami?” tanya Putri


“apa jangan-jangan…kamu…” wajah Putri seketika terlihat sangat menjengkelkan


“iya…iya! Aku gak bisa berenang! Puas!” teriak ku kesal


“Evan tuh emang gak bisa berenang. Dia punya trauma tenggelam di parit kecil depan


rumahnya hahaha!” ejek Eri


“gak usah di omongin oy!” teriak ku kesal. Wajah ku sangat marah karena malu


airnya. Tapi, jika aku tidak ikut mereka camping pasti Eri juga tidak akan ikut. Kenapa bisa anak itu begitu lengeket dengan ku? Merepotkan sekali.


“fyuuuhh~ segarnya~” Eri duduk disebelah ku


“loh, kamu gak ikut berenang sama yang lain?” tanya ku


“enggak, aku mau disini aja” kata Eri ternyesum. Eri tiba-tiba bersandar di pundak ku. Dia


tertidur dengan pulas


“sepertinya dia sangat kelelahan setelah perjalan yang jauh itu” batin ku


“ih, Evan bau ketek” kata Eri


menjahili ku


“bawel! Lanjut tidur sana!” kata ku kesal


“hihihi…” Eri tertawa kecil


Setelah puas bermain air, kami berkumpul untuk menetukan pembagian tugas. Aku dan


Aldi mendapat tugas untuk membangun tenda dan para cewek-cewek mencari kayu bakar dan menyiapkan makan malam.


Malam hari pun tiba dan para cewek-cewek sudah menyiapkan semua bahan-bahan untuk


membakar ikan. Pada akhirnya aku dan Eri yan mengambil alih tugas membakar ikan itu karena Putri dan Anita sepertinya tidak pernah membakar ikan sebelumnya.


Hal itu dapat dilihat dari betapa kikuknya Putri dan Anita saat membakar ikan-ikan itu.


Ikan yang mereka bakar gosong semua. Aldi juga tidak memiliki skill memasak sebelumnya, jadi dia hanya bisa membantu mengipas bara api agar tidak padam.


“jadi ingat saat kita masak sama-sama dulu ya…” kata Eri tersenyum pada ku


“ya…” jawab ku tersenyum kecil


“aku jadi ingat pertama kali kita diajarkan membuat kue sama ibu mu, waktu itu kamu


membuat kue gosong. Hehehe…saat itu sangat-sangat menyenangkan” kata Eri tersenyum


“ya…aku juga ingat saat kamu salah memasukan gula ke adonana, yang kamu masukan malah garam hahahah…” ejek ku


“humpf…itu kan Eri masih kecil. Eri masih belum bisa membedakan yang mana garam


dan yang mana gula” jawab Eri kesal


“puf…hahahaha” kami berdua tertawa bersama