Love And Despair

Love And Despair
Mimpi Indah



Aku membuka tirai hotel itu, seketika sinar mentari pagi memenuhi kamar kami yang


cukup sempit itu. Kehangatan cahaya pagi itu sangat menyegarkan, sangking nyamannya aku sampai-sampai melakukan peregangan ringan didepan jendela kamar kami.


Setelah melakukan peregangan ringan, aku membalikan badan. Terlihat Putri yang masih


tidur nyenyak di atas Kasur empuk itu. Perlahan aku mendekati Putri yang sedang tertidur itu, Aku pun mencoba membangunnya.


“Oyyy… bangun… dah pagi nih…” aku menggoyang-goyangkan badannya pelan


“Emmmhhh….” Putri tidak mau bangun


“Oyy… Putri salju… mau sampai kapan kamu tidur. Keburu siang nih” aku mencubit


pipinya. Akhirnya dia pun bangun.


“Apaan sih~ huaam~ aku masih ngantuk banget…” Putri masih setengah sadar


“Aku gak bisa tidur tau gara-gara kamu ngoroknya kenceng banget~ huammm~” Putri


mengucek-ngucek matanya


“Loh! Kok kita ada disini sih? Bukannya kita ada dirumahnya ayah ku ya?!” Putri tersadar


“Hah? rumah ayah mu? Kamu ngigau ya?! jelas-jelas dari kemarin kita tidur di hotel” jawab ku heran


“Dari kemarin kita belum menemukan rumah Ayah mu. Trus kita memutuskan untuk


mencari besok saja. Karena kamu kecapean banget, kamu sampai langsung tertidur saat baru sampai dikamar” kata ku menjelaskan. Wajah Putri tampak terkejut dan terheran-heran


“Begitu ya… sekarang aku sudah ingat” kata Putri murung


“Aku mau cuci muka dulu” kata Putri


“Hem…ya” jawab ku datar


Didalam kamar mandi, Putri membasuh wajahnya dengan air yang mengalir lewat


wastafle. Dia melihat dirinya sendiri dicermin, melihat dirinya yang tak berdaya dan menyadari semua yang dia lihat hanya mimpi membuatnya menangis pelan didalam kamar mandi itu.


“Ja-jadi… semua itu hanya mimpi…! Hiks…” Putri kesal. Aku yang mendengar tangisan Putri dari balik pintu hanya bisa diam saja, ikut bersedih atas ketidakmampuan ku dalam mengatasi masalah ini.


***


Siang ini kami berencana untuk melanjutkan pencarian kami. Kami menelusuri setiap


komplek perumahan dan bertanya pada orang-orang. Kami hampir putus asa, matahari sudah bewarna jingga. Setelah melakukan pencarian panjang, akhirnya kami menemukan rumah ayah Putri. Alamatnya sangat berbeda dengan apa yang Putri miliki.


Kami sekarang berada tempat didepan rumah ayah Putri. Saat Putri hendak mengetuk pintu


“Sudah terlambat kalau mau kembali” kata ku


“Aku tahu!” kata Putri gugup. Dia pun memberanikan dirinya untuk mengetuk pintunya.


“Assalamuallaikum!” salam Putri


“Waalaikumsalam” jawab seseorang. Terdengar suara yang menjawab seperti suara seorang wanita. Pintu itu pun terbuka dan munculah seorang wanita.


"Ya… ada yang bisa saya bantu?” tanya wanita itu


“Anu… a-apa benar ini rumahnya pak Habibi?” tanya Putri gugup


“Maaf… pak Habibi memang sebelumnya pernah tinggal disini. Tapi sekarang dia sudah


pindah” jawab ibu itu menyesal


“Ibu tau dimana dia pindah!” Putri terlihat sangat panik


“Put…” aku memegang pundak Putri. Putri pun kembali tenang


“Anu… sekarang dia tinggal di…” ibu itu memberitahukan alamat ayah Putri


“Makasih bu…” kata kami


“Ya…sama-sama” balas ibu itu


Kami pun langsung bergegas menuju alamat yang telah diberikan ibu itu. Kami menempuh


perjalanan yang cukup jauh. Akhirnya kami sampai di alamat yang diberikan oleh ibu itu, namun hari sudah semakin senja dan matahari sudah hampir kehilangan cahayanya.


Sekali lagi Putri mengumpulkan semua keberaniannya untuk mengetuk rumah itu. Namun setelah mengetuk beberapa kali, tidak ada jawaban dari dalam rumah. Putri sempat kesal dan panik jika usahanya kali ini sia-sia lagi. Dari arah kejauhan, ada seseorang yang menghampiri kami, sepertinya dia adalah tetangga dari pemilik rumah ini.


“Kalian mencari siapa?” tanya ibu itu


“Anu… kami sedang mencari orang yang bernama pak Habibi. Apa benar ini rumahnya?” tanya ku


“Ya, benar, ini rumah pak Habibie. Tapi mohon maaf sebelumnya, kalian ini siapa ya?” tanya balik ibu itu


“Saya anaknya pak Habibi!” sahut Putri


“Astagfirullahaladzim” ibu itu terkejut. Sontak kami pun ikut terkejut setelah mendengar ucapannya


“Kenapa bu?” tanya Putri histeris


“Kamu anaknya ya… sebenarnya bapak sudah…meninggal” jawab ibu itu


Seketika Putri langsung menangis. Dia tidak menyangka orang yang dia cari-cari telah meninggal. Dia terduduk lemas dan menutupi wajahnya. Wajahnya bergelimang air mata. Aku pun mencoba menenangkan dia, namun Putri tidak bisa membendung kesedihannya.