
Setelah menonton film, kami pun pergi makan. Anita tidak memesan makanan, dia hanya memesan sebuah es krim dengan gelas besar yang ditasnya terdapat strawberry.
“glegh” suara ku menelan liur
“berapa mahal tuh es krim gunung?” batin ku
“kamu gak pesan juga Van?” tanya Anita polosnya
“I iya…aku juga pesan kok” jawab ku pendek
“pesan apa mas?” tanya pelanan
“saya pesen air putih aja mbak” jawab ku lemas
Diam-diam aku mengecek isi dompet ku. saat ku buka dompet ku, seekor serangga keluar dari dompet kosong itu, Habislah aku. Tunggu! Masih ada harapan, aku ingat aku menyelipkan uang di dalam dompet ku. Dengan sedikit usaha dan harapan, akhirnya aku mendapatkannya. Selembar uang lima puluh ribu yang aku simpan buat jaga-jaga menjadi penyelamat hidup ku.
Sebelum dia menyantap es krim itu, dia meng-foto es krim yang tampak elegan dan
menggoda itu. Setelah meng-foto es krim gunung itu, tiba-tiba dia menarik tangan ku dan mendekatkan diriku dengannya.
“ayo selfi bentar Van!” ajak Anita senang
“eh! Enggak enggak enggak~” tolak ku
“gak boleh! Harus foto! Bentar aja~” katanya sambil bersiap memfoto kami
“crek” kami pun ber-sefli dengan aku tanpa persiapan sebelumnya
“hahaha muka mu lucu banget~” Anita tertawa
“erghh…hapus foto itu An!” kata ku sambil merekbut hp-nya
“enggak mau~” kata Anita mengejek
“sini!” kata ku kesal sembari mencoba merebut hp Anita
“enggak~” Anita mencoba menjauhkan hp nya dari ku
Aku yang berusaha merebut hp Anita ternyata menimbulkan keributan di tempat makan itu
dan kami berdua di lihat oleh semua orang disana. Aku yang malu dengan tindakan ku,
“ummm~ eskrimnya manis, kamu mau coba enggak?”
“eh, enggak eggak. Aku dah kenyang kok~ kamu aja yang makan” tolak ku
“eeenggak! Kamu harus coba, soalnya ini manis banget. Coba buka mulut mu” paksa Anita
“emm…” aku malu
“aaaa em….” Aku membuka mulut ku
“umm…. Manis banget!” kata ku kagum
“iya kan~” kata Anita tersenyum
Di tempat makan yang sama, yang letaknya tak jauh dari meja makan Evan dan Anita. Eri
tampak kesal setengah mati melihat tingkah laku romantis Evan dan Anita. Putri yang sedang minum dari tadi merasa risih dengan tingkah laku Eri, tapi dia hanya membiarkannya.
Keluar dari tempat makan itu, Anita tiba-tiba mendekatkan wajahnya kepada ku. Aku begitu terkejut dengan tindakannya yang begitu tiba-tiba. Dia membisikan sesuatu pada kepadaku.
“terimakasih ya untuk hari ini~ aku puas banget~” bisiknya menggoda
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Wajah ku memerah dan dia tertawa melihat ku malu-malu seperti itu. Senyuman dan tawa manisnya sangat menawan, meskipun harga yang harus kubayar untuk bisa melihat senyuman dan tawa itu mahal sih. Tapi itu sebanding dengan usaha ku untuk mendapatkan hatinya.
Di waktu bersamaan saat Anita berbisik dengan ku, Eri dan Putri tampak terkejut melihat
kami dari kejahuan. Wajah Purti memerah melihat mereka berdua. Ternyata dari sudut pandang Eri dan Putri, yang mereka lihat adalah Evan dan Anita sedang berciuman di tempat umum.
Eri tak mengatakan sepata-kata pun, dia hanya terdiam melihat mereka berdua berciuman.
Putri yang merasa bingung sekaligus sedih melihat kondisi Eri tidak bisa melakukan apa-apa. Mereka berdua tidak mengira bahwa Evan dan Anita akan berciuman di depan mereka.
“E-Eri…” Putri hendak memegang pundak Eri
“ayo kita pergi Put…” ajak Eri dingin sembari pergi meninggalkan Evan dan Anita yang
sedang berciuman