Love And Despair

Love And Despair
Permintaan Maaf Yang Menyusahkan



Namun, saat aku membuka pintu kelas dan menoleh ke arah samping, tak sengaja aku


melihat Anita yang belum selesai berganti baju. Meskipun sekilas, tapi aku sepertinya sempat


melihat dia sedang mengancingkan baju putihnya itu. Dia baru saja mengenakan pakaian bagian atasnya.


“kyaaa!” teriak Anita


“so sorry! Aku gak sengaja!” kata ku terkejut sembari keluar menutup pintu


“ka kamu…sempat lihat?” tanya Anita


“eh? Enggak kok enggak kok!” jawab ku


“beneran?” tanya Anita gak percaya


“beneran gak lihat! Sumpah deh!” jawab ku bersikeras


“humm…” Anita kesal


“se sebagai permohonan maaf! Kamu boleh menyuruh ku melakukan apapun deh untuk


menebus kesalahan ku” jawab ku gugup


“apapun ya~” kata Anita tertarik


“duh mampus aku! Kok bisa-bisanya aku ngomong kayak gitu!” pikir ku menyesal


“anu…mbak, boleh enggak omongan ku tadi ditarik? Kayaknya apapun itu terlalu berat


untuk ku hehehe” aku menawar


“enggak! Kamu habis lihat tubuh ku! Mana boleh kamu menawar permintaan maaf seperti itu” Anita kesal


“O okay deh” aku pasrah


“hari minggu nanti, kamu senggang gak?” tanya Anita


“senggang” jawab ku pendek


“sip! Udah ku putuskan hari minggu nanti jemput aku di rumah ya~” perintahnya sambil


tersenyum


“ke rumah mu?!” kejut ku


“iya ke rumah ku. Berhubung ada film bagus hari itu. Aku mau kamu traktir aku nonton


film” Anita bersemangat


“ehhhh…” kata ku kecewa


“jangan sampai terlambat ya!” perintah Anita


“I iya!” jawab ku tegas


***


Hari minggu di rumah Anita


Aku berdiri tepat di depan pintu rumah cewek paling cantik di kelas ku! Dadaku berdegub


dengan kencang. Tangan ku bergetar ketika hendak mengetuk pintu rumah yang megah dan besar itu. Dengan satu tarikan nafas dan dengan semua keberanian yang telah ku kumpulkan sejak aku berangkat dari rumah ku, akhirnya tangan ku mengetuk pintu rumah itu.


“Assalammuallaikum!” salam ku


“waalaikumsalam!” jawab seseorang sembari membuka pintu


“wah…ada temannya Anita ya” kata perempuan muda yang tampaknya umurnya masih


“I iya…mbak, Anitanya ada?” kata ku malu-malu terpesona dengan kecantikan kakak


Anita


“mbak? Ahahaha…Anitanya ada di dalam. Ayo mari masuk dulu” kakak Anita tertawa kecil


Aku terpukau dengan rumah Anita. Aku tidak percaya bahwa ini rumah sementara dan baru


aja di tempati mereka. Pastinya mereka orang kaya. Mata ku menatap ke sekeliling ruangan yang tampak elegan dan modern itu.


“silahkan duduk dulu. Mbak panggilkan Anita-nya dulu hihihi…” kata kakak cantik itu


tertawa kecil


“I iya..” jawab ku pendek


“aneh…dari tadi mbak itu ketawa mulu? Apa jangan-jangan ada yang aneh sama setelan


ku!” aku mulai curiga


“sorry ya~ dah lama nunggu ya?” tanya Anita


“enggak kok…” aku terpukau dengan kecantikan Anita.


Aku tak menyangka dia adalah cewek yang sama dengan cewek yang duduk di sebelah ku. Dia seperti orang yang berbeda saat sudah berdadan seperti ini. aku sampai dibuatnya tidak berkedip melihat kecantikannya. Perpaduan antara wajahnya yang imut dengan stayle pakaian yang modis membuat siapa saja mengira dia adalah anak kuliahan.


“jangan diliatain terus, aku jadi malu…” kata Anita pelan


“eh, sorry sorry… aku gak bermaksud…” aku baru tersadar


“cie cie….yang lagi kasmaran~ mau pacaran kah? jalan sana, jangan lupa pulang ya~” ejek


kakak Anita


“iihhh… dia bukan pacar ku~ dia cuman teman sekelas ku kok. Lagian kami cuman jalan


nonton film kok!” tegas Anita


KRAK! KRAK!


Suara hati Evan yang mulai retak


“hiks…hiks… teman katanya~ dia cuman nganggap aku teman…hiks” batin ku menangis


“ayo kita jalan Van. Aku pamit dulu ma! Assalamuallaikum~” Anita pamit


“I iya. Saya juga pamit dulu. Assalamuallai…kum-” salam ku terpotong


“tunggu dulu…ma? Jadi mbak cantik ini bukan kakaknya Anita ya?!” kejut ku


“ehehehe ketahuan deh~” kata mama Anita menjahili ku


“hah! Kamu beneran berpikir mama ku ni mbak ku?” Anita juga terkejut


“mama nih kebiasaan deh~” Anita memarahi mamanya


“hihihi mama bukannya sengaja loh~ mereka aja yang nganggap mama sebagai mbak mu


hihihi” kata mama Anita


“mereka? Be Berapa banyak korban yang telah mama An dapatkan?” pikirku histeris


“ayok Van, buruan! Nanti kita bisa ketinggalan filmnya” kata Anita sembari menarik


tangan ku keluar rumahnya


“hati-hati di jalan~” mama Anita melambai