
Bulan bersinar begitu terang dan bintang-bintang bertebaran di langit. Anita dan Aldi pergi jalan-jalan berdua menyesiri pantai. Berjalan tak beralas kaki, menikmati terpaan air yang menyentuh kaki-kaki mereka.
Aku yang merasa bosan juga ikut jalan-jalan menyisiri pantai itu. Dari kejauhan, ternyata
Eri berlari menyusul ku untuk ikut jalan-jalan. Berjalan pelan dibawah sinar rembulan yang terang. Di tengah perjalanan, Eri menemukan kerang laut.
“hei Evan! Lihat-lihat! Aku menemukan kerang!” Eri menunjukan kerang itu pada ku
“wah~ kerangnya cantik sekali” aku terkesan
“hehehe cantiknya kayak aku kan~” Eri tersenyum lebar
“ya ya…” jawab ku datar
Kami melanjutkan perjalanan kami menyisiri pantai itu. Hawa dingin yang menusuk tulang
itu membuat Eri menggigil, Spontan aku memberikan jaket ku padanya. Dia tampak senang sekali.
Disaat kami sedang menikmati pemandangan malam di pantai itu, dari kejauhan kami melihat
Anita dan Aldi berdiri di pinggir pantai sambil bergenggaman tangan.
Entah kenapa tiba-tiba aku menarik tangan Eri dan bersembunyi disemak-semak. Kami
berdua mengawasi mereka dari kejauhan, tidak jelas apa yang sedang mereka bicarakan karena
suara mereka terbawa oleh angin.
“kenapa kita sembunyi?” bisik Eri
“shhh…diem dulu” kata ku panic
Seharusnya aku tidak melihatnya waktu itu. Mereka berdua berciuman tepat didepan kami
dibawah sinar rembulan yang terang. Cahaya bulan yang terpantul di air memancarkan gemerlap
sinar terang yang menyelimuti mereka bagai berlian.
Seketika hati ku hancur melihat mereka berdua berciuman. Aku yang tak tahan melihat
mereka beciuman, pergi dari tempat itu dengan Manahan sakit. Aku meremas dengan kuat dada
ku yang terasa sangat sesak.
“eh! Van, tunggu aku!” kata Eri bergegas mengejar ku
Aku duduk di pasir putih sambil meratapi kesedihan ku. Suara ombak dan angin malam
tidak bisa mengobati rasa sakit di dada ku. Saat aku sedang menatap ombak sendirian, Eri datang dan duduk disamping ku.
“kamu gak papa?” Eri khawatir
“enggak papa kok” jawab ku datar
“kamu enggak boleh selamanya tenggelam di masa lalu, kamu harus terus melihat ke
depan” kata Eri
“sama aja kayak Putri” gumam ku
“
aku tahu… tapi gak segampang itu melupakan dia” kata ku
“dia itu seperti kebiasaan buruk buat ku. Susah buat dihilangkan” ungkap ku
“aku tahu itu sulit. Tapi kamu harus maju…” kata Eri pelan
“iya…tapi…tapi, setiap kali aku melihat wajahnya, hati ku berdegup dengan kencang. Aku baru pertama kali ini merasakan hal itu” kata ku kesal
“kamu ini keras kepala ya! Bukan kamu aja yang merasa sedih!” teriak Eri. kami berdua
saling bertatapan, Mata yang tulus itu berkaca-kaca dan aku yang menyebabakan hal itu.
“Eri juga sedih kalau lihat kamu terus-terusan bersedih kayak gini! Dulu kamu gak seperti
ini. dulu kita sering bermain bersama, tapi setelah kedatangan Anita…Eri merasa kamu sudah berjalan cukup jauh. Eri takut kalau kamu akan menghilang hiks…” ungkap Eri. Dia mengangis
tersedu-sedu
“Eri…” aku sangat terkejut mendengar pernyataan Eri. Aku tidak menyangka kalau Eri
selama ini selalu memikirkan ku
“hiks…hiks…” Eri mengusap air matanya
“lupakan dia!” kata Eri
“Eri akan menjadi penggantinya” kata Eri bersungguh-sungguh
lupakan dia…” pinta Eri
“Eri udah gak sanggup lihat kamu terus-terusan tersakiti seperti ini” mata Eri berkaca-kaca
“Eri juga mencintai Evan…” wajah Eri merona
Tiba-tiba Eri memejamkan matanya. Dengan kesungguhan dan ketulusan hatinya, dia
menyerahkan semua keputusan pada ku. Tangan ku gemetaran, aku memegang kedua bahu Eri
secara perlahan.
Bibir lembutnya tepat berada di depan mata ku. Perlahan, aku mendekatkan wajah ku
dengan wajah Eri. Saking gugupnya aku sampai berkeringat dingin.Tapi entah mengapa keraguan
menyelimuti ku.
“sudah kuduga aku enggak bisa” kata ku gugup. Aku langsung menjauhkan wajah ku dari
Eri
“kenapa…?” wajah Eri terlihat sangat kecewa
“maaf…aku enggak bisa mencium mu” kata ku menyesal
“selama ini aku hanya menganggap mu sebagai adik ku. Enggak lebih” jawab ku
“begitu ya…” Eri menundukan jawahnya
“yah… mau bagaimana lagi. kalau itu jawaban mu…ya…hiks… enggak pa-papa…hiks”
Eri tersenyum sembari menahan air mata
“maaf…” aku merasa bersalah
***
Disaat yang sama saat Evan dan Eri pergi
Anita dan Aldi sedang berciuman. Mereka berdua saling bergenggaman tangan. Namun
disaat mereka berciuman, yang ada dipikiran Anita hanya Evan. Anita mengingat saat-saat
menyenangkan dimana dia pergi bersama dengan Evan.
Anita menetesakan air mata, dia ingat saat dia terakhir kali berciuman dengan Evan. Air
mata kesedihan itu mengalir membasai pipinya. Anita sudah tidak bisa menahan kesedihannya. Perasaan bersalah memaknai ciuman mereka.
Sejenak mereka berdua melepaskan ciumannya. Saat Aldi hendak mencium Anita untuk kedua kalinya, Anita mencoba menghindar.
“kenapa?” tanya Aldi
“e enggak…” jawab Anita menahan tangis
“maaf…” Anita pergi meninggalkan Aldi sendirian dipingir pantai
“bahkan jika aku bilang, “aku mencintai mu” itu bukanlah kamu” batin Anita
“maaf…bahkan saat aku berciuman dengan mu, yang kuingat malah wajah orang itu…
aku sudah tidak sanggup lagi” batin Anita.
Dia berlari diatas hamparan pasir yang basah. Anita sudah tak bisa menahan rasa sedihnya
lagi. Dia berlari sembari meneteskan air mata. Penyesalan dan kekesalan bercampur aduk didalam hati gadis muda itu.
***
Sementara itu di tempat lain
“ngiiiiiingggg~ PLOK” Putri memukul seekor nyamuk
“ih, kenapa mereka lama banget sih! Kanyaknya aku dilupakan deh” Purti kesal sembari
menggaruk-garuk badannya
“pertama aku dilupakan sama anak anos, sekarang aku malah dilupakan sama semua
teman-teman ku” gumam Putri
“gini amat punya teman” Putri masih menggerutu
Dan begitulah gadis cantik nan jelita ditinggalkan sendirian di tenda oleh teman-temannya. Duduk sendirian didekat api unggun sembari menikmati teh hangat dan menyantap cup mie yang baru saja matang.