
Ting….tong…
Tanda bel istirahat
“woi! Mau kemana kamu?” tanya Budi
“mau ke kantain….” Jawab Rudy
‘woi! Ada yang mau kekantin!’ teriak Budi
“-aku tiptip dong, - aku juga dong, - titp woi” kata beberapa cowok di kelas ku
“ha….” Kata Rudy
Sambil merangkul Rudy itu dia berkata “kita teman kan….?!” Dengan terpaksa dan dengan muka penuh kekecewaan, Rudy pun mengiyakan permintaan teman-temannya
Yah…inilah hal yang paling menyebalkan jika kamu ke kantin tapi temen-temen mu kelakuakannya kek gini. Aku turut beduka atas kemalangan mu jadi korban hari ini, batin ku sambil merenung menutup mata. Aku sendiri paling malas kalau ke kantin, aku lebih sering menghabiskan waktu istirahat ini tidur di bangku ku sambil mendengarkan lagu menggunakan headset yang sudah terpasang di telingaku.
“hei Evan, Evan gak ke kantin?” tanya Anita
“enggak” jawab ku dingin
Seorang cewek muncul tiba-tiba didepan kami berudua yang sedari tadi duduk di bangku masing-masing. Rupanya Eri yang penuh semangat muncul dihadapan kami. Seperti biasa dia selalu menjadi sesuatu bagi ku. Wajah cerianya tidak pernah membuatku bosan. Sedari kami masih SD hanya dia satu-satunya yang mau menjadi teman seorang yang penyendiri seperti diriku. Dia bagaikan matahari yang selalu bersinar. Selalu ceria kapanpun.
Aku belum pernah sekalipun melihat Eri sedih. Bagaimana wajahnya saat dia bersedih? Argh….tak perlu dipikirkan yang tidak perlu. Bagiku melihat dirinya yang selalu tersenyum membuatku tenang.
“nama mu anita kan?! Salam kenal, nama ku Eri” salam Eri
“salam kenal Eri” jawab Anita
“boleh aku memanggilmu Ani” tanya Eri dengan mata penuh bersinar
“ah…boleh” jawab Anita dengan senyuman yang manis
“tadi aku dengar kamu bertanya kenapa evan gak pergi ke kantain kan?!” tanya Eri
“ah….ya…” jawab Anita
“hmmm…. Evan tuh anak pemalas dan sukanya tidur mulu. Bahkan dia pernah tidur dari awal pelajaran sampai akhir di belakang kelas. Saking niatnya dia bahkan pernah bawa tikar dan bantal ke sekolah hanya buat dirinya lebih nyaman untuk tidur hahaha” ejek Eri
“ehem…” aku merasa malu
“hahaha” tawa Anita
“otw....” kata Eri yang terpotong
“btw….kamu belum tau dimana kantinnya kan?!” tanya Eri kepada anita
“umm yah…”jawab Anita
“kalau gitu ayo ikut aku kekantin yuk” ajak Eri
“boleh” jawab Anita
“evan….mau titip sesuatu enggak?!” tawar anita
Aku hanya melambaikan tangan kananku yang menginsyaratkan “tidak”, sambil menundukan kepalaku diatas tangan kiriku sembari mendengarkan musik yang mengalir melewati headset ku.
Mereka berudua pun pergi meninggalkan ku di kelas yang dipenuhi para cowok yang sedang mabar game moba dan beberapa cewek sedang makan dikelas. Aku hanyut dalam kenyamanan buatan ku. Tidur dibangku yang nyaman ini sambil mendengarkan lagu slow membuatku tidak tahan untuk cepat-cepat masuk kelam mimpi dan kabur dari kenyataan yang pahit ini.
***
Jam sekolah telah berakhir, waktunya para siswa siswi pulang kembali ke rumah mereka masing-masing. Seperti biasa aku pulang dengan menggendarai motor metik ku….tunggu, sepertinya déjà vu. AUTHOR SIALANNNN, aku dibuat mengatakan dialog membosankan ini dua kali.
Aku berkendara seperti biasa, tapi seperti ada sesuatu yang janggal. Ya, anita ada dibelangku. Aku mengantarnya sampai ke bengkel dimana motornya diperbaiki. Setelah itu aku melanjutkan perjalan ku, tapi entah mengapa aku melihat dari spion motorku, anita terus mengikui ku. Aku tidak memperdulikaknya, mungkin rumah kami satu arah, pikir ku.
Aku pergi ke pasar untuk membeli sayur untuk makan malam. Tapi perasaan tidak enak ini selalu datang. Anita juga pergi ke pasar membeli sayur. Ini perasaan ku saja atau memang anak ini mengikuti ku terus. Sekali lagi aku membung pikiran negative ku terhadapnya.
Karena sore ini sangat panas, aku memutuskan mampir ke betamart untuk membeli eskrim. Aku gak bego. Aku tau kalau pasti anak ini jelas-jelas mengikuti ku. Dia bahkan ikut membeli eskrim, eskrimnya sama pula! Kecurigaan ku sudah tidak dapat dibendung lagi. Ditengah perjalan aku berhenti tiba-tiba. Karena terkejut, anita pun berhenti tiba-tiba. Aku turun dari motor ku dan mengahampirinya. Wajahnya begitu ketakutan dan gugup. Dia gemetaran saat aku berjalan mendekatinya. Kekesalan tergambar di raut wajahku.
“anu….mbak gak lagi ngikutin saya kan?!” tanya ku dengan nada agak kesal
“anu…anu….hehehe” Anita gugup
“hmmm…” wajah ku kesal
“a-aku…b-begini sebenarnya aku lupa jalan kerumah ku. A-aku mau tanya kamu tapi timingnya kurang pas mulu” jawab Anita gugup
“hp ku mati, aku gak bisa pakai GPS” Anita menjelaskan
“hah…. Kamu lupa alamat mu?” tanya ku
Anita mengangguk dengan wajah sedih
“baiklah….kamu mau mampir sebentar kerumahku buat ngisi daya hp mu nggak?!” tawar ku
Anita mengangguk dengan wajah bahagia dan mata berkaca-kaca