
Kekhawatiran seketika menyerang ku. Dia dengan berani ingin mengungkapkan perasaannya di depan umum. Sedangkan aku, pengecut yang bahkan tidak berani mengungkankan perasan ku pada Anita. Apa yang harus ku lakukan? Apakah aku tetap diam saja? Tapi apa yang bisa ku lakukan?
Aldi adalah sahabatku yang paling berharga, aku tidak mungkin bersaing dan mencoba
merebut Anita darinya. Lagi pula Aldi adalah orang yang membantu ku keluar dari neraka yang disebut dengan perundungan. Aku tidak bisa seenaknya saja mengganggu rencana Aldi begitu saja.
“Ya, benar! Aku tidak punya pilihan lain selain mengalah, aku hanya harus mengalah, itu
mudah saja” pikri ku
“tapi, aku masih memiliki kesempatan! Jika Aldi ditolak, kemungkinan besar hubungan
Anita dengan Aldi pasti jadi renggang. Masih ada harapan!” pikir ku
“tunggu! Apa yang sedang ku pikirkan?! apakah ini hal yang patut di syukuri dan di harapkan? Sahabat macam apa yang mengharapkan sahabat baiknya di tolak oleh orang yang dicintainya” pikir ku naif
“lagi pula jika aku langsung pdkt dengan Anita setelah Aldi di tolak, kemungkinan besar
akan terjadi konflik di kemudian hari” pikir ku logis
“Van? Kamu gak papa?” tanya Eri
“muka mu menakutkan sekali” sambungya
“eh! Nggak papa kok…” jawab ku terkejut
“dari tadi kamu melamun mulu. Lagi mikirin apa?” tanya Eri
“enggak~ aku tadi cuman sepertinya lupa udah mengunci pintu rumah apa belum” aku
beralasan
“oh…kirain” Eri lega
“otw-“ kata Eri terpotong
“-BTW” kata ku dan Aldi serentak ngegas
“ehehehe lupa-lupa~ btw kalian haus enggak? Aku beli’in minuman dingin mau kah?”
tanya Eri
“boleh” jawab ku pendek
“wah…boleh-boleh” Aldi tampak senang
Suasana canggung menyelimuti kami berdua. Untuk beberapa saat kami tidak mengobrol
setelah di tinggal pergi oleh Eri. Setelah mendengar pernyataan Aldi tadi membuat ku susah membangun percakan dengan Aldi untuk saat ini. aku masih saja kepikiran dengan pernyataan Aldi.
“nah… Van, tinggal kita berdua sekarang” ungkap Aldi
“eh, iya…” aku terkejut
“aku boleh tanya sesuatu enggak?!” tanya Aldi
“hah? Apa ini? apa dia sadar tentang perasaan
ku terhadap Anita?” pikir ku histeris
“bo boleh...” jawab ku canggung
“anu… apa aku boleh nembak Anita?” tanya Aldi
“…” aku terkejut dan spontan menoleh ke arahnya
“kenapa kamu tanyakan itu pada ku” tanya ku balik
“aku lihat akhir-akhir ini kamu deket banget sama dia” jawab Aldi
“apa kalian pacaran?” tanya Aldi
“enggak, enggak mungkin lah. Orang seperti ku mana mungkin pacaran dengan cewek cakep seperti Anita” jawab ku
“begitu ya…” kata Aldi
“jadi, aku boleh nembak Anita?” tanya Aldi sekali lagi
“em…” aku mengangguk
“ini yang terbaik. Anita memang lebih cocok dengan cowok cakep dan baik seperti Aldi. Dia mungkin akan lebih bahagia jika bersama dengan Aldi ketimbang dengan diri ku” pikir ku
Percakapan kami berakhir setelah itu. Tidak ada kejujuran, tidak ada penyesalan. Yang
tersisa dari ku hanya rasa sakit yang menusuk di dada ku ini. aku tahu ini tindakan bodoh, tapi entah mengapa aku merasa hanya ini pilihan ku satu-satunya. Aku tidak memiliki banyak pilihan, dan keadaan memaksaku memilih cara ini untuk menyelesaikan semuanya. Dari kejauhan, Eri datang membawa minuman dingin.
Seketika wajah kami berdua berubah untuk mengelabui ketegangan di antara kami. Kami memiliki pemikiran yang sama, kami
tidak ingin persahabatan kami hancur hanya karena kebohongan dan penyesalan. Harus ada yang tersakiti, jika tidak semuanya akan berakhir. Dan kami sepakat untuk terus melangkah dijalan berdarah ini.