
Setelah semua siswa di kelasku ganti baju, kami langsung menuju lapangan. Seperti biasa, kami melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum berolahraga. Guru olahraga mengatakan bahwa hari ini para cowok bermain sepak bola dan cewek-cewek bermain voly.
Karena fisik ku lemah, aku hanya bisa menjadi beban tim. Tidak sampai sepuluh menit aku
minta di gantikan karena rasanya jantungku mau copot. Nafasku begitu berat dan badan ku penuh keringat.
Berbeda dengan ku, Aldi yang seorang kapten tim futsal sekolah dapat bermain terus
bahkan sampai semua teman-temannya sudah mencapai batas, dia masih segar bugar dan seperti memiliki stamina yang tak terbatas.
Di tengah-tengah permainan, Aldi terluka karena di sleding pemain lawan saat dia
menggiring bola ke arah gawang lawan.
Lututnya berdarah dan dia terpasaksa keluar dari permainan. Anita yang kebetulan seorang anggota PMR dengan sigap membantu Aldi merawatnya di ruang UKS. Anita tampak begitu lihai dan berpengalaman mengobati luka yang di lutut Aldi.
“anu… terimakasih ya” kata Aldi malu
"ya. Sudah sewajibnya anggota PMR seperti ku membantu orang lain saat terluka” kata
Anita sembari mengikat perban di lutut Aldi
“sip! Udah selesai” kata Anita bersemangat
“- eh!” saat Anita menganggkat kepalanya,
wajahnya berada begitu dekat dengan wajah
Aldi. Mata mereka saling menatap dan wajah mereka berdua tampak memerah. spontan mereka pun saling menjauhkan diri. Suasanya sangat canggung. Setelah selesai mengobati kaki Ald, mereka berdua pun kembali kelapangan.
Setelah jam olahraga selesai, Adi dan Anita kebagian jadwal mengembalikan bola ke dalam gudang. Sebelum Aldi berangkat mengembalikan bola, guru olahraga memberi semangat kepada Aldi untuk perlombaan Futsal mewakili SMA tingkat kabupaten.
“untuk perlombaan minggu depan, semangat ya! Cetak gol sebanyak mungkin!”
“siap pak!” Aldi bersemangat
gudang itu, mereka langsung masuk kedalam ruangan gelap dan pengap itu. Ruangan yang
dipenuhi peralatan olahraga itu terasa panas karena tidak ada jendala utnuk mengatur sirkulasi suhu ruangan itu.
Saat Aldi dan Anita meeletakkan bola-bola itu, tak sengaja tangan mereka bersentuhan.
Sontak mereka terkejut hingga membuat bola-bola itu jauth berserakan. Suasana di ruangan itu begitu canggung, hanya mereka berdua dan di temani bola-bola di dalam ruangan itu.
“mi minggu depan kamu ikut perlombaan ya?!” Anita membuka pembicaraan
“hebat ya, kamu bisa mewakili sekolah kita melawan sekolah-sekolah kuat itu. Kamu pasti
sudah bekerja dengan keras untuk bisa mencapai posisi itu” puji Anita
“eggak kok~ aku cuman kebetulan aja bisa masuk tim inti” kata Aldi malu
“semangat ya, aku akan datang mendukung kamu di perlombaan nanti” Anita tersenyum
“… I iya” Aldi terpukau dengan senyuman manis Anita
“btw, bagaimana luka mu? Masih sakit enggak?” tanya Anita
“eh, enggak kok~ udah enggak sakit lagi” kata Aldi bersemangat
“syukurlah kalau gitu” kata Anita tersenyum manis
Seusai jam olahraga, Aldi dan Budi mengajak ku pergi ke kantin untuk membeli minuman
dingin. Tapi aku menolaknya, aku lebih memilih langsung mengganti baju. Saat aku sampai di
depan kelas, aku melihat para cewek-cewek tampak sudah selesai berganti baju. Karena kupikir sudah aman, aku pun langsung masuk ke kelas tanpa pikir panjang.